Sedikit Kritik Untuk Mu

Ketika browsing di dunia maya, tidak disangka ketemu dengan tulisan seseorang yang pernah mengikuti mentoring di tempat kuliahnya dan mendapatkan sesuatu yang kurang sreg dihati. Karena hal ini banyak terjadi kepada sebagian besar mahasiswa yang terdapat LDK nya, maka saya sharing juga tulisan tersebut di blog ini. Semoga bermanfaat.

Dari BloG : http://ahadiyoso.blogspot.sg/2011/11/mengapa-saya-berhenti-liqo.html

Disadur tanggal 30 Juni 2016 jam 14.00 bertepatan dengan 25 Ramadhan 1437 H.

MENGAPA SAYA BERHENTI LIQO? (I)

BY ASTO HADIYOSO

–>

Saya termasuk orang yang beruntung pernah kuliah di salah satu perguruan tinggi terkemuka di Indonesia. Bukan hanya karena almamater saya punya integritas akademik, tapi juga karena kondisi pendidikannya yang cukup kondusif untuk pengembangan diri, salah satunya adalah pengembangan diri di bidang kerohanian. Mentoring (istilah yang kemudian berevolusi menjadi liqo -bertemu, bhs. arab), adalah aktivitas yang cukup populer di sana. Dimotori oleh LDK (Lembaga Dakwah Kampus), mentoring menjadi semacam primadona kegiatan yang gencar disebarluaskan, bahkan sejak pertama kali mahasiswa baru menjejakkan kakinya di kampus tersebut.

 

Secara khusus, mentoring yang dibahas di sini adalah aktivitas pengembangan diri di bidang keislaman yang dipandu oleh seorang mentor (murobi) dalam sebuah kelompok beranggotakan 5-12 orang. Agendanya beragam, dari mulai membaca al Qur’an secara bergiliran, tausiyah (pemberian nasehat), cek n ricek ibadah harian, musyawarah tentang sesuatu, bedah buku, mengakaji siroh/sejarah Nabi dan sahabatnya, hingga curhat problematika hidup yang dihadapi. Di akhir, selalu ditutup oleh doa rabithah. Dengan agenda seperti ini, banyak mahasiswa (terlebih yang punya ghirah keislaman yang tinggi) yang tertarik untuk ikut di dalamnya.

 

 

So what is the problem anyway? Bukankah itu semua bagus? Ya, tentu saja jika memang kondisinya hanya sebatas itu. Di beberapa tulisan saya terdahulu, saya pernah sedikit memaparkan bahwa ada hal yang menjadi kekurangan sistem dakwah kampus. Beberapa kekurangan yang saya dan sebagian orang rasakan adalah eksklusifnya sistem yang melingkupi aktivitas mentoring tersebut. Mentoring, pada gilirannya menjadi semacam parameter umum untuk menentukan ‘kualitas’ seseorang di mata para aktivis dakwah kampus. Gampangnya, orang yang mentoring berarti ‘kualitas’nya di atas orang yang tidak mentoring. Mengapa saya berkesimpulan seperti itu? Dulu saya cukup sering mendengar pertanyaan seorang rekan pada saya tentang seseorang, “Akhi, dia itu mentoring kagak?” Jika seseorang itu ikut mentoring, maka biasanya ia diberi dukungan untuk ikut dalam sebuah kelembagaan mahasiswa, lomba-lomba, atau ajang-ajang bergengsi lainnya. Lalu apakah orang yang tidak mentoring tidak didukung? Dalam beberapa hal mereka juga mungkin didukung, tapi tentu tidak sebanyak jika mereka ikut mentoring. Kesimpulannya, mentoring ternyata dijadikan semacam alat untuk polarisasi orang-orang.

 

Efek dari polarisasi mentoring-tidak mentoring itu bagi saya adalah sikap diskriminasi. Mirip politik apartheid di Afrika Selatan dulu. Yang mentoring ibarat masyarakat kulit putih, sedangkan yang tidak metoring ibarat masyarakat kulit hitam. Kulit putih selalu punya akses yang lebih banyak ketimbang kulit hitam.

 

Saya sebenarnya pernah mencoba meminta klarifikasi ini dari beberapa orang yang saya anggap punya pengaruh dalam sistem seperti itu. Bagi mereka, itu sah dan wajar-wajar saja, karena dengan mentoring orang-orang setidaknya punya standar bersama tentang akhlak dan pemikiran. Orang yang ikut mentoring bisa lebih terpantau perilakunya, kebiasaannya, dan gerak-geriknya ketimbang yang tidak. Jadi logikanya, mereka didukung karena ikut mentoring lebih memberikan kepastian (bahwa mereka cukup baik) ketimbang yang tidak. Namun jawaban mereka sebenarnya belum memuaskan hati saya. Sepintas, logika itu ada benarnya, tapi bagi saya logika seperti itu makin terkesan menganggap wajar sebuah diskriminasi dan standar ganda. Bukan hanya karena perihal keikutsertaan di mentoring adalah hal yang terlalu sempit untuk menilai seseorang, tapi lebih dari itu sikap seperti itu justru seperti sikap menutup mata pada potensi orang lain (baca: meremehkan orang lain). Sebutlah misalnya, dalam rekrutmen sebuah organisasi dakwah fakultas, ada sosok A yang kapabilitasnya cukup baik  di mana ia ikut mentoring dan sosok B yang kapabilitasnya jauh lebih baik tapi ia tidak ikut mentoring. Kenyataan di masa saya dulu, A lah yang lebih diprioritaskan ketimbang B. Lucu bukan?

 

Itulah yang kemudian membuat saya berpikir, entah benar entah tidak, bahwa sistem seperti itu cenderung tidak toleran pada perbedaan pemikiran. Mentoring dijadikan kerangka untuk memastikan bahwa pemikiran seseorang sama (atau setidaknya cenderung sama) dengan pemikiran yang diadopsi oleh sistem. Dalam beberapa kasus, itu memang bisa diterima karena ada hal-hal di mana kesamaan pemikiran menjadi syarat berjalannya sesuatu. Di Parpol misalnya. Tapi malangnya, itu terjadi di semua lini, tidak hanya lini-lini tertentu.

 

Saya pernah punya pengalaman menarik. Sejak awal mengikuti mata kuliah PAI (Pendidikan Agama Islam) di semester awal, saya sudah berangan-angan menjadi seorang asisten PAI. Di kampus saya dulu, PAI punya 3 SKS sehingga selain kuliah, ada juga aktivitas responsinya, dan responsi itu dipandu oleh seorang asisten. Lalu bagaimana sistem responsinya? Yup, tepat! Bentuk responsinya adalah mentoring. Saya punya keinginan untuk menjadi asisten PAI di tingkat atas nanti.

 

Tahun berikutnya saya pun mulai mencari2 di mana kiranya bisa mendaftar seleksi asisten PAI itu. Infonya tidak ketemu, dan tiba-tiba saya dikejutkan oleh pengumuman di mading masjid, bahwa calon asisten dipersilakan untuk ikut tes hari ini jam segini di sini. Tentu nama saya tidak ada di sana. Saya pun bersabar dan berprasangka baik, mungkin saya saja yang ketinggalan berita. Tahun berikutnya saya coba lagi, tapi info2 pun tak kunjung saya dapatkan. Entah memang karena saya kurang mencari atau karena memang infonya ditutup-tutupi saya tidak tahu. Tapi pengumuman di mading masjid lagi-lagi mengejutkan saya. Ada daftar calon asisten di sana (tentu nama saya tidak ada) beserta jadwal tes dan tempat tesnya dilaksanakan. Beruntung ada salah seorang teman saya yang tercantum namanya di mading. Saya lalu konfirm ke beliau, daftarnya di mana dan bagaimana caranya. Tapi jawabannya lebih mengejutkan hati saya. Ia ternyata tidak mendaftar sama sekali, dan tak tahu menahu tentang pencantuman namanya di mading. Yang ia ingat, mentornya (murobinya) memang pernah merekomendasikannya untuk jadi asisten, dan ia pun setuju. Hanya itu. Tak ada administrasi sama sekali yang dilewatinya. Dan akhirnya ia pun ikut formalitas tes dan menjadi asisten PAI.

 

Nah, ternyata, sebegitu kuatnya peran mentoring. Bahwa keikutsertaan seseorang justru sangat dipengaruhi oleh rekomendasi mentor atau murobinya. Di kasus di atas, masalahnya sebenarnya bukan pada apakah saya jadi asisten PAI atau tidak, tapi pada ketidakmerataan akses untuk beramal, berkontribusi menjadi asisten PAI. Padahal, mata kuliah PAI adalah mata kuliah resmi di kampus saya, hanya saja pengelolaannya memang diurus oleh pihak masjid. Pada saat itu saya sebenarnya juga ikut mentoring, namun mentoring yang saya ikuti memang ada dua: satu metoring yang dikelola masjid kampus, dan satu lagi mentoring yang dikelola badan kerohanian islam kampus. Belakangan baru saya tahu bahwa mentor/murobi saya tidak merekomendasikan saya untuk jadi murobi hanya karena saya ikut dua mentoring tersebut. Apakah karena di mentoring yang satu lagi itu dianggap sesat sehingga takut terinfiltrasi pemikirannya, saya kurang tahu. Wallohua’lam.

Bagi saya, tampak jelas sudah sikap diskriminasinya. Mentoring yang saya lihat bukan hanya sekedar aktivitas pembinaan keislaman seseorang, namun sudah terkooptasi sebuah hegemoni yang eksklusif –terlepas dari baik tidaknya niat pelaku hegemoni tersebut. Itu yang menjadi salah satu alasan saya mengapa akhirnya berhenti dan mencari aktivitas pembinaan di tempat lain.

 

Alasan berikutnya adalah keterkaitan mentoring di kampus saya dengan Partai Keadilan Sejahtera. Ya, PKS adalah partai politik yang kita kenal lewat slogannya, bersih, profesional, dan peduli. Lalu apa keterkaitannya? Awalnya saya juga merasa mentoring dan PKS adalah dua entitas yang terpisah, meski sudah sejak lama saya tahu orang yang berkecimpung di dalamnya ya itu-itu juga. Mereka yang aktif mengelola mentoring nyaris semuanya berafiliasi ke PKS. Nah, jika cuma itu kondisinya, saya tidak akan terlalu peduli dan tidak akan saya permasalahkan di sini. Pada kenyataannya, kondisinya ternyata memang lebih daripada itu. Lebih dari sekedar orang-orang yang berkecimpung di mentoring punya afiliasi dengan PKS. Kondisinya yang saya lihat adalah: mentoring dijadikan sebuah pintu masuk untuk menjadi kader parpol PKS. Ya, orang yang ikut mentoring diproyeksikan untuk menjadi kader PKS di kemudian hari.

 

Pada masa kampanye pemilu DPR tahun 2009, ketika khusyuk mengikuti agenda mentoring/liqo, tiba-tiba murobi saya berpesan pada saya bahwa pertemuan yang akan datang tidak dilakukan di masjid kampus seperti biasa, tapi di sebuah masjid di suatu tempat. Singkat cerita, pergilah saya ke sana dengan semangat 45, berpikir mungkin akan menerima taujih/nasehat dari seorang ustad yang lebih tinggi ilmunya ketimbang murobi saya. Setibanya di sana, ternyata ada agenda lain yang tak saya duga: agenda konsolidasi kampanye dan training motivasi untuk direct selling PKS ke warga! Wow, dan saya memang tidak sendirian. Beberapa teman yang saya kenal ikut mentoring juga ada di sana, dan menerima agenda yang sama. Meski saya punya sifat pelupa, tapi saya ingat dengan jelas bahwa sebelumnya murobi saya tak pernah sekalipun menawari saya untuk jadi kader partai. Tak sekalipun. Apakah ini disengaja atau tidak? Saya kurang tahu. Yang jelas, ketika murobi saya mengumumkan untuk liqo di tempat itu lagi, saya tak pernah lagi bersedia.

 

Kisah lainnya, di akhir tahun ketiga keikutsertaan saya di mentoring, ada beberapa kali agenda tatsqif di mana saya diajak ikut serta. Tatsqif di sini bentuknya mirip pengajian yang dilakukan di masjid-masjid pada umumnya. Materi yang disampaikan juga umumnya materi keislaman secara umum, bukan materi kepartaian. Sesekali memang ada topik kepartaian, tapi sifatnya tidak dominan. Namun yang menarik, sebelum mengikuti kegiatan, ada semacam daftar hadir yang perlu diisi. Di salah satu kolom daftar hadir itu ada judul: kecamatan. Maksudnya, kita diminta mengisi keterangan liqo yang kita ikuti berada di bawah DPC mana. Tentu DPC yang dimaksud disini adalah DPC PKS. Ya, mentoring atau liqo itu ternyata dikelola di bawah sebuah struktur eksternal kampus.

 

Saya juga mengakui, bahwa semakin lama liqo saya ikuti, pembina/murobi yang mengelola kelompok pun diganti dengan sosok yang lebih tinggi levelnya dan lebih dalam keikutsertaanya dalam gerakan. Materi yang dibahas semakin berat, dan topik kepartaian pun pelan-pelan dimasukkan dalam taujih yang diberikan.

 

Maka dari pengalaman yang saya alami sendiri, saya jadi yakin, bahwa mentoring bukan sekedar aktivitas pembinaan keislaman semata yang berdiri sendiri. Ia disokong dan memiliki keterkaitan dengan PKS. Dan saya yakin pula bahwa kondisi seperti itu tidak kasuistik di kampus saya saja, tapi juga terjadi di beberapa kampus yang mengadopsi sistem serupa.

 

Karena saya tidak ingin menjadi kader parpol, akhirnya saya memutuskan untuk keluar dari liqo. Saya pernah mencoba mencari dan bertanya pada salah satu kader PKS, adakah gerangan liqo yang tidak membahas-bahas partai dan tidak mengikutsertakan saya ke dalam partai, murni pembinaan keislaman semata? Sayangnya beliau jawab tidak ada. Materi atau mekanisme dalam mentoring/liqo itu sendiri memang didesain untuk mendukung ide atau pemikiran yang diusung PKS. Dalam pemikiran tersebut, memperjuangkan Islam harus mengikutsertakan politik praktis. Dan dalam aktivitas PKS kemudian, para peserta liqo itulah yang diharapkan mampu menjadi pengusung utamanya. Apakah pernyataan yang disampaikan beliau itu memang mewakili kondisi sebenarnya? Saya kurang tahu. Atau apakah itu mewakili pendapat kader PKS yang lain? Saya juga kurang tahu. Yang saya tahu, beliau adalah kader yang punya pengalaman banyak, baik di pengelolaan mentoring di kampus dulu maupun di partai politik secara langsung.

 

Adanya sistem eksklusif diskriminatif dan keterkaitan dengan parpol itulah yang menjadi alasan saya untuk berhenti liqo dan mencari tempat pembinaan lain. Sebenarnya ada banyak hal lain yang kalau diingat cukup mengganjal di hati, seperti sikap beberapa orang yang ekstrim hingga pada level men-dewa-kan murobi: bahwa titah murobi adalah titah yang tak boleh dibantah; pilihan murobi adalah pilihan terbaik; oleh karenanya nikah pun harus lewat murobi, dll. Atau sikap ekstrim dalam berharokah: nikah dengan orang di luar harokah (yang tidak mentoring) adalah sebuah aib dan kesalahan, atau hal-hal lainnya. Namun mungkin tidak adil bagi saya kalau menjadikannya alasan karena saya tahu tidak semua aktivis mentoring/liqo seperti itu. Itu sifatnya kasuistik. Tapi dua hal di atas (eksklusif diskriminatif dan keterkaitan dengan papol) saya anggap bukan lagi kasuistik, tapi sudah menjadi gejala umum yang diterima dan diakomodasi oleh sistem yang menjadikan ‘mentoring/liqo’ sebagai punggawanya.

 

Akhir kata, tulisan saya ini tidak dibuat untuk mendiskreditkan mentoring. Mentoring adalah aktivitas yang bagus dan kalau dikelola dengan baik akan menjadi sesuatu yang empowering bagi orang yang ikut serta. Namun menurut saya, akan jauh lebih baik jika: Pertama, ia tidak dijadikan standar untuk mengukur seseorang. Kedua, dilaksanakan semata-mata untuk membina ummat Islam secara umum. Ketiga, tidak dijadikan sarana rekrutmen kader parpol terlebih melalui kegiatan formal kampus yang seharusnya independen. Keempat, kalaupun menjadi sarana rekrutmen, sampaikanlah dengan terus terang dan jujur sejak awal bahwa kegiatan ini adalah kaderisasi dan Kelima, pisahkan dengan mentoring yang tidak untuk kaderisasi (buat mentoring non parpol).

 

Itu hanya saran dari saya. Namun jika memang sistemnya sudah tidak bisa diubah lagi karena memang sudah bawaannya begitu, apa lagi mau dikata. Lana a’maaluna, walakum a’maalukum; Wa laa tus’aluuna ‘ammaa kaanu ya’maluun.

 

Pun saya tidak mendiskreditkan PKS. Bagi saya pribadi, PKS (disamping berbagai keterbatasan dan kekurangannya) adalah parpol yang masih bisa diharapkan untuk membawa aspirasi ummat Islam di parlemen. Selama PKS tidak sombong, menganggap partai lain lebih rendah dan menolak menerima kejujuran, ia masih merupakan partai yang saya harap turut membawa Indonesa menjadi lebih baik dan bermartabat.

 

–>

Semoga tulisan ini bisa menjadi bahan koreksi yang berharga untuk menciptakan sistem yang lebih baik dan akomodatif pada perbedaan pendapat serta pemikiran. Saya juga berharap tulisan ini bisa memberi sedikit inspirasi, baik bagi yang pro maupun yang kontra. Fastabiqul khoirot, fattabiru ya ulil albab…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s