Ya Allah, Tunjukkanlah Jalan Hidayah-Mu

Perkenalanku dengan jamaah tabligh dimulai dari saya masih kecil. Besar di Tanjung Priuk setelah pindah dari Kertapati, Palembang tahun 1974 pada usia masih 1 tahun. Setelah orang tua membeli tanah dan membangun rumah di Kampung Mangga, maka pindahlah kami: Ayah, Ibu, saya, dan adik yang masih kecil lagi di tahun 1978. Ketika itu belum ada listrik PLN. Untuk penerangan masyarakat menggunakan senter, lampu templok dengan bahan bakar minyak, atau menggunakan patromak yang harus dipompa dulu pada sore harinya. Jalanan belum diaspal, sehinggal bila hujan turun jalan akan menjadi becek. Masih terdapat, sawah, empang, kebun, bahkan hutan. Binatang masih bebas hidup berdampingan dengan manusia. Aktivitas saya ketika masih sekolah dasar diisi dengan sekolah, mengaji di rumah Ustadz Dasuki dan Ustadz Muhammad Yusuf Jinan, dan bermain. Malam harinya anak-anak kecil berkumpul di masjid untuk melaksanakan shalat maghrib dan isya, karena suasana di luar masjid sangat gelap kecuali pada malam-malam purnama.
Masjid kami bernama Masjid Jami’ As-Su’adaa. Masjid yang sederhana, ada kolam dan sumur. Sumur masih menggunakan kerekan untuk menimba air, tapi air begitu dekat dari permukaan tanah karena kami tinggal di dataran rendah walau pantai masih 3-4 kilometer lagi. Seingat saya ketika saya masih SD Masjid As-Su’adaa suka diziarahi oleh musafir dari luar negeri untuk mengajak jamaah masjid untuk memakmurkan masjid dan berhijrah bersama mereka. Waktu kecil ada kepikiran dibenak saya untuk ikut bersama mereka untuk mengembara.
Tahun 1984 saya masuk SMPN 121 Jakarta Utara, ke Masjid biasanya hanya untuk shalat maghrib saja setelah itu sibuk main dengan teman-teman.
Tahun 1987 saya masuk SMAN 52 Jakarta, dan saya pun semakin jauh dari masjid. Waktu lebih banyak dihabiskan bersama teman-teman, walau hanya nongkrong, menghadiri acara ulang tahun sweet seventeen, bergadang, dan lain-lain yang melupakan diri dari kewajiban kepada Allah.
Di sebelah rumah, orangtua saya membuat rumah lagi untuk dikontrakkan. Ketika itu salah satu pengontraknya adalah Uni Rahmah, suami, dan anak-anaknya. Adiknya yang baru saja lulus dari Pondok Pesantren Gontor yang bernama Hamdan Rasmi suka menginap disana. Ustadz Hamdan meneruskan pendidikannya di LIPPIA Matraman, dan beliaulah yang pertama mengenalkan usaha dakwah dan tabligh di Kampung Mangga. Saya tidak benci dengan apa yang dia perbuat. Mengajak anak-anak, remaja, dan orang tua supaya memakmurkan masjid, lalu mengajak juga untuk belajar meluangkan waktu selama 3 Hari untuk beriktikaf di masjid lain. Waktu itu adik saya yang bernama Ridwan yang masih duduk di bangu kelas 4 SD ikut rombongan 3 hari, sedangkan saya masih asik dengan kesibukan sendiri. Ketika sudah pulang dari 3 hari, adik saya jadi rajin berjamaah di masjid, dan membantu orang tua di rumah, semakin cinta kepada Allah dan agama Islam. Saya senang saja. Lalu dia makan dengan nampan sampai habis, awalnya saya malu. Sepertinya adik saya rakus banget nih makannya. Karena saya belum tahu kalau itu adalah sunnah Rasulullah saw.
Tahun 1987 di kejenuhan saya dengan pergaulan, dan sering muncul pertanyaan didalam hati. Hidup saya mau apa sih? Setelah EBTA dan EBTANAS saya diajak sama ustadz Hamdan untuk ‘khuruj’ selama 3 hari. Langsung saya bilang siap, saya diajak ke Masjid Jami’ Kebon Jeruk yang terletak di jalan Hayam Wuruk. Jumat paginya saya diikutsertakan dengan rombongan tiga hari yang akan ziarah ke daerah Cengkareng. Nama masjidnya saya lupa. Amir atau pimpinannya adalah Almarhum Nasrullah-ahbab dari Cengkareng yang sering semasa hidupnya menjadi mimbar wala di Masjid Jami’ Kebon Jeruk dan petugas persiapan medan Ijtima tahunan di Masjid Al Muttaqin Ancol. Anggota rombongan yang masih saya ingat adalah Bapak Bakri dari halakah Cempaka Putih–Senen. Saat keluar tiga hari saya belajar mendawamkan wudhu, namun sering bolak-balik karena sering buang angin. Melaksanaan shalat fardhu yang lima dengan khusuk dan di awal waktu. Shalat-shalat sunnah, baik rawatib, israq, dhuha, tahajud, dan witir. Belajar dzikir pagi petang dengan membaca tasbihaat, shalawat, dan istighfar. Membaca Al Quran dan membenarkan bacaan Al Quran. Enam sifat shahabat. Silaturrahmi dengan tetangga masjid. Mendengarkan majlis tentang Iman dan Amal Shalih. Belajar sunnah-sunnah dan doa-doa Nabi dalam keseharian. Sebagian besar waktu saya habiskan di dalam masjid dengan beriktikaf. Minggu malam, rombongan kembali ke Masjid Jami’ Kebon Jeruk lalu diadakan muhasabah. Pagi harinya diberikan bayan wabsyi (pengaran pulang) lalu saya balik ke Masjid As-Su’adaa dan ke rumah. Baru kali ini saya merasakan sesuatu yang sangat nikmat. Nikamatnya beribadah kepada Allah. Bertaubat memohon ampun atas segala dosa yang pernah dilakukan. Nikmat ingin berjumpa dengan Ilah semua manusia.
Setelah mengikuti program 3 hari saya jadi rajin ke masjid dan ikut program memakmurkan masjid. Di masjid ada Ustadz Hamdan, Ustadz Asnawi, Taufik Alkadri, dkk. Ada majlis taklim, ziarah, bayan, dan keluar tiga hari tiap bulan. Ke masjid kebon jeruk tiap malam Jumat.
Tahun 1990 saya pindah ke Depok. Kuliah di STIE Gunadarma Jurusan Akuntansi. Di tempat kuliah saya ikut dengan kawan-kawan di masjid kampus. Belum ada masjid permanen di Gunadarma. Saya direkrut ikut pengajian rohis, sering disebut dengan tarbiyah atau liqa. Setelah mabit 2 malam saya difollow up oleh senior di STMIK Gunadarma Akh Ahmad. Banyak ilmu yang saya terima dari beliau, namun beliau kurang suka dengan aktivitas saya ke Masjid Jami’ Kebon Jeruk. Lalu murabbi saya diganti menjadi Akh Ridha.
Tahun 1991 saya masuk D3 Fakultas Sastra Program Profesional Bahasa Arab. Pagi kuliah di Gunadarma siangnya saya kuliah di UI. Saya ikut liqa dan tetap aktif di Jamaah Tabligh. Sampai akhirnya saya ditinggalkan karena diberi dua pilihan terus liqa tapi jangan ke Masjid Kebon Jeruk Lagi. Saya tanya alasan kenapa saya dilarang ke Masjid Kebon Jeruk, namun murabbi saya tidak bisa memberikan alasan yang masuk akal saya. Di satu pertemuan liqa pekanan, murabbi saya memindahkan tempat pertemuan dan saya tidak diberitahu.
Tahun 1991 saya khuruj dari Ijtima Ancol ke Banjarmasin Kalimantan Selatan. Amirnya Aswandi Johan alias Abu Ubaidah, mahasiswa LIPIA. Setelah Ijtima bersama dengan Ustadz Lutfi Yusuf, Dr. Sabran Amuntai, dan rombongan Kalimantan Selatan bersama ke Kalsel dari Cirebon dengan Kapal PELNI Tatamailau. Di kapal kami bersama rombongan dari Arab sebanyak 5 orang. Saya sempat menjadi penerjemah saat Jemaah Arab memberikan dakwahnya di kapal. Setelah sampai di Markaz Banjarmasin lalu jamaah di arahkan ke Banjar Kota, Martapura, Pagatan, Barabai. Setelah pulang jamaah lewat Surabaya dan mampir ke Temboro. Sebelum Dzuhur sudah tiba di Markaz Temboro dan disambut oleh Ustadz Uzairon. Lalu jamaah mau ziarah ke Kiyai / Gus Mahmud. Setelah shalat Dzuhur, jamaah jalan kaki ke pondok Gus Mahmud dan disambut dengan makan siang yang sudah tersedia. Jamaah makan bersama dan mendapatkan nasihat dari Gus Mahmud.
Tahun 1992 keluar ke Rangkas Bitung. Di masjid pertama saya bertemu dengan ketua Jawara dan Seni Bela diri Banten, Bapak Tubagus ….. saya lupa namanya. Dia mengaku telah mengirim santet/sihir kepada jamaah tadi malam. Namun santet tersebut tidak bisa mengenai jamaah dan mengenai pohon disebelah masjid, seperti tersambar petir. “Bapak-bapak ini orang-orang hebat”, banyak orang shalih bahkan ulama yang saya santet dan kena, tapi bapak-bapak tidak”, katanya. Banyak intel yang datang ke masjid untuk memeriksa jamaah, Babinsa bahkan Koramil memanggil jamaah untuk dikorek informasi karena tahun ini dekat dengan PEMILU di zaman Orde Baru yang sangat represif.
Tahun 1992 saat liburan kuliah saya keluar 40 hari ke Indramayu, Majalengka, dan Cirebon. Saat itu saya hanya membawa uang sebesar Rp 60.000,- saya kira tafakud saya yang paling kecil. Ternya di rombongan ada yang lebih kecil lagi. Amir Shaheb dari Temboro. Dia titip pesan kepada jamaah, jika ditanya oleh penanggungjawab dari Markaz Cirebon, Indramayu, dan Majalengka bilang saja tafakud rombongan cukup. Hampir tiap hari jamah makan dengan makanan yang sangat sederhana. Tapi nikmat Alhamdulillah. Saya sering menemukan uang di jalan. Suatu ketika jamaah akan masuk ke masjid di Indramayu. Karena jauh harus menggunakan ojek. Saat itu Amir sedang tawar menawar dengan abang ojek antara Rp 1.500 dan Rp 1.000 , saya di sebelah Amir melihat kebawah, dan dibawah dekat kaki saya ada uang Rp 500, saya bilang, “Ini Mir Rp 500 nya.” Kami pun bisa berangkat. Di Majalengka rombongan melakukan ziaran ke pemilik pabrik genteng Padil, lalu beliau menugaskan mantunya untuk mengantar jemput jamaah dengan mobil mercynya dan memberikan uang Rp 60.000. Uang ini sebagian dibelikan alat khidmat untuk halakah di Majalengka dan sebagiannya diberikan susu dan makanan kecil untuk berkhidmat kepada penduduk kampung di pedalaman Indramayu setelah melaksanakan shalat tarawih.
Tahun 1993 saat libur kuliah saya keluar 40 hari ke Bangkulu.
Tahun 1994 setelah wisuda dari D3 Bahasa Arab FSUI, setelah Ijtima Ancol, saya keluar 4 bulan ke India dan Banglades. Amir jamaah adalah Muhammad Siraj Cililitan. Petugas markaz yang sering menjadi mimbar wala di Masjid Jami’ Kebon jeruk. Teman rombongan ada: Mahmud Pekan Baru, Abdul Warits Pekan Baru, Mazlan Jakarta, Abdul Halim Jakarta, seorang santri yang akan melanjutkan pendidikannya di Raiwind Pakistan, dan dua orang dari Ujung Pandang. Di Banglawali Masjid New Delhi, saya berbaiat dengan Maulana In’amul Hassan. Setiap subuh mendengarkan bayan dari Maulana Umar Palanpuri. Bertemu juga dengan Meiji Mehrab yang memberikan arahan tertib kepada setiap Negara di dunia. Bertemu dengan Emon anak Menteri Soni Harono yang dibawa oleh Mustafa Australi yang mukim di Parung, Bogor. Di India jamah di kirim ke Muzaffar Nagar. Tempat dari kakeknya Maulana Ilyas. Auranggabad. Parbani. Lalu jamaah ke Pakistan. Di Pakistan jamaah dikirim ke daerah Surat, Lahore tempat Puranasati. Orang-orang lama yang sezaman dengan Maulana Ilyas. Mardan, daerah suku Posto (Fasthun) yang saya sangat cintai karena Allah karena ketaatan mereka kepada Allah. Karena jamaah kami berhasil mendapatkan jamaah cash, maka Markaz memperbolehkan kami untuk mengikuti program Tin-Panc-Tin, yaitu 3 hari mendengarkan bayan hidayah, 5 hari iktikaf di masjid utama, dan 3 hari mendengarkan bayan wabsyi. Di Pakistan bertemu dengan Bhai Abdul Wahhab, Maulana Jamsheed, dan di Markaz Pakistan juga saya bertemu dengan Maulana Hamdan yang sudah terpisah lama. Beliau sedang mengikuti program Tahfidzul Quran di sana.
Tahun 1995 saya keluar 40 hari ke Trenggalek, Ngawi, dan Madiun.

Tahun 1996-1999 saya melanjutkan s1 di FPBS IKIP Jakarta lulus tahun 1998. Saya hanya menghidupkan maqomi.

Tahun 2000 saya keluar ke Kalimantan Selatan.

Tahun 2001 saya keluar setelah zur Qudama di Ancol ke Sulawesi Selatan. Ke Sulawesi Selatan Markaz di Mamajang, Jeneponto, Bantaeng, dan Bulukumba. Di Bulukumba berjumpa dengan mantan preman Ahmad Dampang, dengan mobil nya beliau menganjar jemput jemaah kami. Bergabung dengan jamaah Solo dan Jakarta.

Tahun 2002 saya keluar di Depok menemani jamaah dari padang

Tahun 2003 saya keluar ke Ambon, daerah pengungsian di Halong, Batu Merah, dan Kota Ambon. Lalu lanjut ke Pulau Geser dan beberapa pulau di sekitar pulau geser. Pulau Geser adalah Pulau di ujung pulau Seram. Terdapat makan seorang pahlawan yang bernama Mayor Abdullah. Bertemu dengan Laskar Jihad pimpinan Jakfar Umar Thalib sebagai panglima. Amir rombongan adalah Muhammad Iftironi, masih keturunan dari pendiri Muhammadiyyah -KH Ahmad Dahlan yang tinggal di Jogjakarta.

Tahun 2004 saya keluar di halakah Depon menemani jamaah dari Pangkalan Bun Kalimantan.

Tahun 2005

Tahun 2006 saya keluar ke Malaysia di daerah putra jaya, selangor, lalu pindah ke Batu Pahat, Johor. Sebelumnya keluar di Pekan Baru dan hadir di Ijtima Pekan Baru di Masjid Istiqlal, Dumai. Di sini alhamdulillah bertemu dengan teman lama – Maulana Hamdan Rasmi.

Tahun 2011 saya keluar ke India dan Banglades. Satu Jamaah dari halakah Depok. Hadir di Musyawarah Indonesia yang dihadiri tidak kurang dari 2000 ahbab Indonesia. Salah satunya ada Putra dari Gito Rolies, Ivan Slank, dll. Di India tasykil ke daerah Siwan. Setelah itu bertolak ke Banglades yang bertepatan dengan Ijtima Tongi.

Tahun 2012 – 2014 saya belajar suluk di Tarekah Naqsabandiyyah Khalidiyyah

Tahun 2015 Umrah bersama isteri.

Tahun 2016

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s