Kisah Si Ikan Paus

Pernahkan anda bertanya-tanya bagaimana pelatih ikan paus dan lumba-lumba di Sea World bisa membuat ‘Shamu’, paus seberat Sembilan ton itu dapat melompat setinggi 7 meter keluar dari air dan memperagakan berbagai permainan? Mereka membuat si paus melompati lingkaran tali begitu tingginya dari permukaan air, jarak yang tak terbayangkan oleh kita. Ini benar-benar TANTANGAN BESAR –sebesar tantangan yang anda hadapi sebagai orang tua, pelatih, karyawan, atau manajer.

Dapatkah anda membayangkan cara khas Amerika yang dilakukan oleh para manajer bila harus menangani situasi seperti itu?

Hal pertama yang kita lakukan mungkin akan meletakkan tali itu langsung setinggi 7 meter –tak ada gunanya meletakkannya lebih rendah, atau tak ada gunanya membanggakan kebodohan. Kita menyebutnya penentuan sasaran (GOAL SETTING / SASARAN MUTU-peny) atau perencanaan strategi (ACTION PLAN / LANGKAH-LANGKAH SASARAN MUTU). Jika sasarannya telah ditentukan dengan jelas, yang harus kita lakukan sekarang adalah memikirkan cara untuk memotivasi si ikan paus. Maka, kita akan ambil seember ikan dan meletakkannya tepat 7 meter di atas lingkaran tali itu –jangan berikan imbalannya jika si paus tidak mau bereaksi. Lalu kita harus memberikan pengarahan. Kita membungkuk dari bangku kita yang bagus, yang terletak di tempat tinggi dan berseru, “Hai, Paus! Melompatlah!”

Dan si paus tetap di sana, tak bergerak sedikit pun.

Jadi bagaimana para pelatih di Sea World itu melakukannya?
Prioritas mereka yang pertama adalah mempertegas perilaku yang mereka ingin dilakukan si paus berulang-ulang –dalam hal ini, membuat si paus atau lumba-lumba melompati lingkaran tali. Dengan segala macam cara, mereka menciptakan lingkungan yang mendukung kaidah yang menjamin bahwa si paus TAK MUNGKIN GAGAL. Mereka memulainya dengan meletakkan lingkaran tali itu di bawah permukaan air, dalam posisi yang membuat si paus mau tak mau terpaksa melakukan apa yang diharapkan si pelatih. Setiap kali si paus BERHASIL melewati lingkaran tali, dia mendapatkan ketegasan yang positif. Dia diberi hadiah ikan merah, dibelai-belai, diajak bermain-main, dan yang penting mendapat penegasan.

Tetapi, Bagaimana kalau si paus melompat di bawah lingkaran tali? Tidak apa-apa –dia tidak akan dihukum dengan sengatan listrik, tidak ada kritik membangun, tidak ada omelan, dan tidak ada kata-kata peringatan dalam berkas pribadinya.

Paus diajari bahwa PERILAKU YANG NEGATIF TIDAK AKAN DIAKUI.

PENEGASAN POSITIF adalah landasan dari kaidah sederhana itu, yang membuahkan hasil yang menakjubkan. Dan ketika si paus berhasil lebih sering melompati lingkaran tali daripada melompat di bawahnya, si pelatih meninggikan talinya. KENAIKAN TALI HARUS BERANGSUR-ANGSUR DAN LAMBAT sehingga si paus tidak KELELAHAN SECARA FISIK MAUPUN SECARA EMOSI.

Pelajaran sederhana yang harus dipelajari dari para pelatih paus itu adalah :

1. MERAYAKAN SECARA BERLEBIHAN. Besar-besarkanlah keberhasilan dari hal-hal kecil yang telah dicapai si paus dari hal-hal pencapaian yang kita ingin terus diperlihatkan si paus.

2. JANGAN TERLALU MUDAH MENGECAM. Orang juga bisa merasakan kalau prestasi mereka mengecewakan. Yang mereka perlukan adalah ULURAN TANGAN untuk menawarkan BANTUAN. Jika kita tidak terlalu banyak mengecam, menghukum, dan menegakan disiplin. Orang tidak akan melupakan kegagalannya itu dan biasanya tidak akan mengulanginya lagi.

Iklan

Satu pemikiran pada “Kisah Si Ikan Paus

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s