Ini Kredit, Bukan Belas Kasihan

Bank Garmeen dimulai dengan isi dompet seorang lelaki, Dr. Muhammad Yunus. Sejarahnya dimulai pada tahun 1972; pada tahun itulah Banglades memenangkan perang kemerdekaannya melawan Pakistan. Dr. Yunus baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Vanderbilt di Amerika Serikat dan mengajar di sebuah College di Tennessee. Dia ditawari jabatan di Jurusan Ekonomi, Universitas Chittagong, di Banglades Tenggara.

Dia tiba di tanah airnya dengan harapan membumbung tinggi setelah negaranya merdeka. Tetapi, negaranya ternyata mengalami kemunduran cepat. Pada tahun 1974 terjadi bencana kelaparan yang amat parah dan manusia bergelimpangan mati di jalanan. Dr. Yunus mengajarkan ekonomi pembangunan dan dia merasa semakin frustasi karena apa yang diajarkannya di ruang kelas sangat bertolak belakang dengan kejadian di dunia nyata. Maka dia memutuskan untuk belajar ekonomi di dunia nyata, ekonomi yang dialami kehidupan manusia.
Karena Universitas Chittagong terletak di tengah-tengah beberapa desa. Dr. Yunus dapat berjalan keluar kampus dan langsung memasuki dunia Banglades yang nyata. Dia mulai mengunjungi desa-desa dan berbicara dengan rakyat miskin, berusaha mencari tahu mengapa mereka tidak bisa mengubah kehidupan mereka atau kondisi hidup mereka. Dia tidak menemui rakyat sebagai seorang guru atau peneliti, tetapi sebagai seorang manusia biasa, seorang tetangga.

Pada suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita yang hanya berpenghasilan sepuluh sen sehari dengan membuat kursi dari bambu. Dr. Yunus hampir-hampir tak percaya bahwa ada orang yang bekerja sekeras itu tapi hanya dibayar sepuluh sen sehari. Ketika ia menanyai wanita itu, ternyata wanita itu tidak punya uang untuk membeli bambu yang menjadi bahan kursinya dari toko penjual bambu. Jadi, dia meminjam uang dari seorang pedagang, pedagang yang juga sebagai pembeli kursi buatannya. Ketika si pedagang membeli kursinya, dia menetapkan hargayang nyaris tidak bisa menutupi modal yang dikeluarkannya. Pokoknya, jerih payahnya sama sekali hamper tidak dihargai. Dia bekerja seperti seorang budak.

“Hmm,” pikir Dr. Yunus, “ini bukan masalah yang sulit dipecahkan.” Jika wanita ini bisa mendapatkan uang untuk membeli bambunya sendiri, dia bisa menjual barang dagangannya dengan harga yang ditetapkannya sendiri. Dr. Yunus dan seorang mahasiswa berkeliling desa selama beberapa hari dan mencari tahu apakah ada orang lain seperti wanita tadi yang meminjam uang dari pedagang dan kehilangan uang yang seharusnya menjadi penghasilan mereka. Dalam waktu seminggu mereka mencatat ada 42 orang yang bernasib demikian. Jumlah seluruhnya yang diperlukan ke-42 orang itu hanya $30.
Jalan keluar pertama yang dilakukan Dr. Yunus adalah menyediakan uang sebesar $30 dari dompetnya sendiri. Dr. Yunus juga meminta si mahasiswa untuk menyumbangkan uang kepada orang-orang itu sebagai pinjaman. Tetapi, kemudian dia menyadari bahwa yang dilakukannya itu bukan jalan keluar yang sebenarnya karena jika orang desa lainnya memerlukan uang, mereka tidak akan datang menemuinya karena dia hanyalah dosen perguruan tinggi. Dia tidak bergerak dibidang keuangan. Nah, saat itulah dia memikirkan bank.
Dia menemui seorang manajer bank, tetapi si manajer bahkan berpendapat bahwa hal itu sangat menggelikan untuk dibicarakan. Uang sebesar $30 sama sekali tidak artinya, bahkan tidak akan cukup untuk biaya administrasi, katanya. Lagi pula rakyat yang miskin itu tidak punya agunan. Dr. Yunus mendatangi beberapa bank lain, tetapi mendapat jawaban yang sama. Akhirnya dia menantang bank dengan menawarkan dirinya sebagai penjamin. Setelah berusaha selama enam bulan, dengan agak enggan akhirnya bank-bank itu bersedia memberinya pinjaman $300.

Dr. Yunus meminjamkan uang itu kepada rakyat desa dan mendapatkan bayarannya kembali. Sekali lagi dia meminta bank meminjamkan uang langsung kepada orang desa, dan sekali lagi mereka menolak dan mengatakan bahwa keberhasilan itu hanya bisa dilakukan di satu desa saja. Dr. Yunus bersikeras. Dia meminjamkan uang ke beberapa desa. Usahanya berhasil, tetapi para banker masih tetap belum bisa diyakinkan. Akhirnya, dia meminjamkan uang ke seluruh kecamatan. Dan usahanya masih terus berhasil, dan para banker masih tetap tak bisa dibujuk.

Akhirnya, Dr. Yunus berpikir, “Mengapa saya mengejar-ngejar para banker itu? Mengapa saya tidak mendirikan bank saja dan menangani sendiri masalahnya?” Maka pada tahun 1983, pemerintah memberinya izin untuk mendirikan bank yang dinamakannya Bank Garmeen. Bank ini meminjamkan uang hanya kepada orang-orang miskin di Banglades –rakyat yang tidak punya tanah dan tidak punya modal.

Sekarang Bank Garmeen memiliki 1.048 cabang dan lebih dari dua juta peminjam. Mereka berkiprah di 35.000 desa. Bank ini telah mengeluarkan uang lebih dari sati milyar dolar dan pinjaman rata-rata $150. Bank ini tidak hanya meminjamkan kepada orang miskin, namun bank ini juga milik orang miskin. Orang-orang yang dipinjami uang menjadi pemegang saham bank. Di antara dua juta peminjam, 90% kaum wanita, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi di Banglades.

Bank ini ditiru di seluruh dunia. Dr. Yunus menekankan bahwa pada setiap tahapannya, dia selalu diingatkan orang bahwa hal itu tak mungkin dilakukan dan memang ada alasan kuat mengapa tidak mungkin. Tetapi pada kenyataannya hal itu dapat dilakukan dan dengan cara yang luar biasa dan tak diperkirakan sebelumnya.

“Disadur dari buku Chicken Suop for the Soul at Work”

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s