Rukhshah Dalam Ghibah

 Keringanan dalam menyebutkan keburukan orang lain adalah karena adanya tujuan yang benar menurut syariat, dimana tujuan tersebut tidak dapat dicapai kecuali dengannya. Hal demikian itu dapat menolak dosa ghibah, yaitu ada enam hal: 

  1. Mengadukan Kedzaliman

Misalnya ada orang yang telah dirampok oleh orang ang ia kenal, lalu ia mengadukan kedzaliman perampok itu ke polisi dan menceritakan semua yang telah dilakukan oleh perampok tersebut. Atau menjadi saksi di dalam pengadilan, maka kita harus berkata benar terhadapa apa yang telah terjadi. 

  1. Sarana untuk Mengubah Kemungkaran

Misalnya ketika Umar ra mendengar berita bahwa Abu Jandal menenggak khamar di Syam lalu Umar menulis surat kepadanya: “Bismillahi Rahmaanir Rahiim. Haa Miim. Diturunkan Kitab ini (Al Quran) dari Allah Yang Maha Perkasa lahi Maha Mengetahui. Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya.” (QS Al Mukmin: 1-3). Kemudian Abu Jandal bertaubat.

Umar tidak memandang hal tersebut sebagai ghibah dari orang yang menyampaikan berita tersebut, karena tujuannya adalah untuk mengingkari hal itu agar Umar menasihatinya.

 

  1. Meminta Fatwa

Sebagaimana diriwayatkan dari Hindun bin Utbah r.ha bahwa ia berkata kepada Nabi saw, “Sesungguhnya Abu Sufyan adalah seorang yang pelit, dia tidak memberi nafkah yang mencukupiku dan anakku. Apakah aku boleh mengambil uang tanpa sepengetahuannya?” Nabi saw bersabda: “Ambillah apa yang mencukupimu dan anakmu dengan cara yang baik.” (HR Bukhari Muslim)Hindun menyebutkan kebakhilan dan kedzaliman suaminya terhadap dirinya dan anaknya tetapi Nabi tidak menegurnya, karena tujuannya untuk meminta fatwa. 

  1. Memperingatkan Orang Muslim dari Keburukan

Seorang muslim yang akan melakukan sesuatu yang ia belum mengetahui keburukan yag terdapat dalam hal tersebut, lau ada muslim lainnya yang mengetahui lebih dahulu keburukan tersebut maka ia boleh memberitahukan kepada muslim yang kan melakukan hal yang ia belum ketahui. 

  1. Sebutan Nama Julukan yang Mengungkapkan Tentang Cacatnya

Seperti Si Pincang atau Si Gagu. Maka tidak ada dosa bagi orang yang mengatakan, Abu Zanad meriwayatkan dari Al A’raj (Si Pincang) atau yang semisal dengannya. Para ulama melakukan hal tersebut untuk keperluan pengenalan di samping karena hal itu sudah menjadi hal yang tidak dibenci oleh orang yang bersangkutan seandainya ia mengetahuinya. Jika ada pilihan lai yang memungkinkan pengenalannya dengan ungkapan lain maka hal itu lebih utama. 

  1. Jika Orang yang Disebutkan Melakukan Kefasikan Secara Terang-Terangan

Orang yang melakukan dosa besar secara terang-terangan maka tidak ada dosa bagi orang yang membicarakan kefajirannya.   

Iklan

Satu pemikiran pada “Rukhshah Dalam Ghibah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s