<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Herry Syafrial</title>
	<atom:link href="http://herrysyafrial.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://herrysyafrial.wordpress.com</link>
	<description>Semua Orang Bisa Menjadi Baik</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Nov 2009 06:08:02 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='herrysyafrial.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/c0d2cce5d157a10c14a49da2cd03de9b?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Herry Syafrial</title>
		<link>http://herrysyafrial.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://herrysyafrial.wordpress.com/osd.xml" title="Herry Syafrial" />
		<item>
		<title>Kisah Umar ra Memanjat Tembok Rumah Orang yang Sedang Bernyanyi</title>
		<link>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/11/13/kisah-umar-ra-memanjat-tembok-rumah-orang-yang-sedang-bernyanyi/</link>
		<comments>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/11/13/kisah-umar-ra-memanjat-tembok-rumah-orang-yang-sedang-bernyanyi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 Nov 2009 06:08:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Kisah]]></category>
		<category><![CDATA[Umar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herrysyafrial.wordpress.com/?p=124</guid>
		<description><![CDATA[Dikeluarkan oleh Kharithi dari Tsaur al Kindi bahwa Umar bin Khaththab ra melakukan kegiatan rutinnya, yaitu meronda di sekitar Madinah pada waktu malam. Ketika itu ia mendengar suara lelaki sedang menyanyi lalu ia memanjat tembok rumah itu dan masuk menemui lelaki itu dan berkata padanya, “Wahai musuh Allah! Apakah kamu mengira bahwa kamu melakukan maksiat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=124&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dikeluarkan oleh Kharithi dari Tsaur al Kindi bahwa Umar bin Khaththab ra melakukan kegiatan rutinnya, yaitu meronda di sekitar Madinah pada waktu malam. Ketika itu ia mendengar suara lelaki sedang menyanyi lalu ia memanjat tembok rumah itu dan masuk menemui lelaki itu dan berkata padanya, “Wahai musuh Allah! Apakah kamu mengira bahwa kamu melakukan maksiat dan Allah akan menutupi kesalahanmu?”</p>
<p>Lelaki itu berkata, “Wahai Amirul Mukminin! Janganlah terburu-buru menghukumku. Aku hanya melakukan satu kesalahan sedangkan engkau telah melakukan kesalahan tiga kali.</p>
<p>Engkau mencari-cari kesalahan orang lain, sedangkan Allah telah berfirman,</p>
<p>“Wa Laa Tajassasuu”<br />
artinya, “Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.” (QS Al Hujurat : 12)</p>
<p>Dan Allah juga berfirman,<br />
“Wa’tul buyuuta min abwaabihaa” artinya, “Dan masuklah ke dalam rumah melalui pintu-pintunya.” (QS Al Baqarah : 189)</p>
<p>Sedangkan engkau telah memanjat tembok untuk menemuiku dan masuk ke dalam rumah ku tanpa izin dariku.</p>
<p>Allah juga berfirman,<br />
&#8220;…Laa tadkhuluu buyuuta ghaira buyuutikum hatta tasta’nisuu wa tusallimuu ‘alaa ahlihaa” artinya, “..Janganlah kamu masuk ke dalam rumah yang bukan rumah kamu, sehingga kamu meminta izin untuk masuk dan member salam kepada penghuninya..” (QS An Nuur : 27)</p>
<p>Umar berkata, “Apabila aku memaafkanmu, apakah kamu akan berbuat kebaikan?”</p>
<p>Jawab lelaki itu, “Ya”</p>
<p>Kemuadian Umar ra memaafkan lelaki itu dan pergi keluar meninggalkan lelaki itu.<br />
(AL KANZ)</p>
Posted in Kisah Hikmah Tagged: Kisah, Umar <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herrysyafrial.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herrysyafrial.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herrysyafrial.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herrysyafrial.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herrysyafrial.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herrysyafrial.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herrysyafrial.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herrysyafrial.wordpress.com/124/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herrysyafrial.wordpress.com/124/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herrysyafrial.wordpress.com/124/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=124&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/11/13/kisah-umar-ra-memanjat-tembok-rumah-orang-yang-sedang-bernyanyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kisah Si Ikan Paus</title>
		<link>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/10/20/kisah-si-ikan-paus/</link>
		<comments>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/10/20/kisah-si-ikan-paus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 03:40:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[Paus]]></category>
		<category><![CDATA[Penegasan]]></category>
		<category><![CDATA[Positif]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herrysyafrial.wordpress.com/?p=122</guid>
		<description><![CDATA[Pernahkan anda bertanya-tanya bagaimana pelatih ikan paus dan lumba-lumba di Sea World bisa membuat ‘Shamu’, paus seberat Sembilan ton itu dapat melompat setinggi 7 meter keluar dari air dan memperagakan berbagai permainan? Mereka membuat si paus melompati lingkaran tali begitu tingginya dari permukaan air, jarak yang tak terbayangkan oleh kita. Ini benar-benar TANTANGAN BESAR –sebesar [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=122&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pernahkan anda bertanya-tanya bagaimana pelatih ikan paus dan lumba-lumba di Sea World bisa membuat ‘Shamu’, paus seberat Sembilan ton itu dapat melompat setinggi 7 meter keluar dari air dan memperagakan berbagai permainan? Mereka membuat si paus melompati lingkaran tali begitu tingginya dari permukaan air, jarak yang tak terbayangkan oleh kita. Ini benar-benar TANTANGAN BESAR –sebesar tantangan yang anda hadapi sebagai orang tua, pelatih, karyawan, atau manajer.</p>
<p>Dapatkah anda membayangkan cara khas Amerika yang dilakukan oleh para manajer bila harus menangani situasi seperti itu?<br />
<span id="more-122"></span></p>
<p>Hal pertama yang kita lakukan mungkin akan meletakkan tali itu langsung setinggi 7 meter –tak ada gunanya meletakkannya lebih rendah, atau tak ada gunanya membanggakan kebodohan. Kita menyebutnya penentuan sasaran (GOAL SETTING / SASARAN MUTU-peny) atau perencanaan strategi (ACTION PLAN / LANGKAH-LANGKAH SASARAN MUTU). Jika sasarannya telah ditentukan dengan jelas, yang harus kita lakukan sekarang adalah memikirkan cara untuk memotivasi si ikan paus. Maka, kita akan ambil seember ikan dan meletakkannya tepat 7 meter di atas lingkaran tali itu –jangan berikan imbalannya jika si paus tidak mau bereaksi. Lalu kita harus memberikan pengarahan. Kita membungkuk dari bangku kita yang bagus, yang terletak di tempat tinggi dan berseru, “Hai, Paus! Melompatlah!”</p>
<p>Dan si paus tetap di sana, tak bergerak sedikit pun.</p>
<p>Jadi bagaimana para pelatih di Sea World itu melakukannya?<br />
Prioritas mereka yang pertama adalah mempertegas perilaku yang mereka ingin dilakukan si paus berulang-ulang –dalam hal ini, membuat si paus atau lumba-lumba melompati lingkaran tali. Dengan segala macam cara, mereka menciptakan lingkungan yang mendukung kaidah yang menjamin bahwa si paus TAK MUNGKIN GAGAL. Mereka memulainya dengan meletakkan lingkaran tali itu di bawah permukaan air, dalam posisi yang membuat si paus mau tak mau terpaksa melakukan apa yang diharapkan si pelatih. Setiap kali si paus BERHASIL melewati lingkaran tali, dia mendapatkan ketegasan yang positif. Dia diberi hadiah ikan merah, dibelai-belai, diajak bermain-main, dan yang penting mendapat penegasan.</p>
<p>Tetapi, Bagaimana kalau si paus melompat di bawah lingkaran tali? Tidak apa-apa –dia tidak akan dihukum dengan sengatan listrik, tidak ada kritik membangun, tidak ada omelan, dan tidak ada kata-kata peringatan dalam berkas pribadinya.</p>
<p> Paus diajari bahwa PERILAKU YANG NEGATIF TIDAK AKAN DIAKUI.</p>
<p>PENEGASAN POSITIF adalah landasan dari kaidah sederhana itu, yang membuahkan hasil yang menakjubkan. Dan ketika si paus berhasil lebih sering melompati lingkaran tali daripada melompat di bawahnya, si pelatih meninggikan talinya. KENAIKAN TALI HARUS BERANGSUR-ANGSUR DAN LAMBAT sehingga si paus tidak KELELAHAN SECARA FISIK MAUPUN SECARA EMOSI.</p>
<p>Pelajaran sederhana yang harus dipelajari dari para pelatih paus itu adalah : </p>
<p>1.	<strong>MERAYAKAN SECARA BERLEBIHAN</strong>. Besar-besarkanlah keberhasilan dari hal-hal kecil yang telah dicapai si paus dari hal-hal pencapaian  yang kita ingin terus diperlihatkan si paus.</p>
<p>2.	<strong>JANGAN TERLALU MUDAH MENGECAM</strong>. Orang juga bisa merasakan kalau prestasi mereka mengecewakan. Yang mereka perlukan adalah ULURAN TANGAN untuk menawarkan BANTUAN. Jika kita tidak terlalu banyak mengecam, menghukum, dan menegakan disiplin. Orang tidak akan melupakan kegagalannya itu dan biasanya tidak akan mengulanginya lagi.</p>
Posted in Artikel Tagged: Motivasi, Paus, Penegasan, Positif <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herrysyafrial.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herrysyafrial.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herrysyafrial.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herrysyafrial.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herrysyafrial.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herrysyafrial.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herrysyafrial.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herrysyafrial.wordpress.com/122/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herrysyafrial.wordpress.com/122/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herrysyafrial.wordpress.com/122/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=122&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/10/20/kisah-si-ikan-paus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ini Kredit, Bukan Belas Kasihan</title>
		<link>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/10/20/ini-kredit-bukan-belas-kasihan/</link>
		<comments>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/10/20/ini-kredit-bukan-belas-kasihan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 20 Oct 2009 01:17:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>
		<category><![CDATA[Banglades]]></category>
		<category><![CDATA[Bank]]></category>
		<category><![CDATA[Dr. Yunus]]></category>
		<category><![CDATA[Kredit Kecil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herrysyafrial.wordpress.com/?p=120</guid>
		<description><![CDATA[Bank Garmeen dimulai dengan isi dompet seorang lelaki, Dr. Muhammad Yunus. Sejarahnya dimulai pada tahun 1972; pada tahun itulah Banglades memenangkan perang kemerdekaannya melawan Pakistan. Dr. Yunus baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Vanderbilt di Amerika Serikat dan mengajar di sebuah College di Tennessee. Dia ditawari jabatan di Jurusan Ekonomi, Universitas Chittagong, di Banglades [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=120&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bank Garmeen dimulai dengan isi dompet seorang lelaki, Dr. Muhammad Yunus. Sejarahnya dimulai pada tahun 1972; pada tahun itulah Banglades memenangkan perang kemerdekaannya melawan Pakistan. Dr. Yunus baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya di Universitas Vanderbilt di Amerika Serikat dan mengajar di sebuah College di Tennessee. Dia ditawari jabatan di Jurusan Ekonomi, Universitas Chittagong, di Banglades Tenggara.<br />
<span id="more-120"></span><br />
Dia tiba di tanah airnya dengan harapan membumbung tinggi setelah negaranya merdeka. Tetapi, negaranya ternyata mengalami kemunduran cepat. Pada tahun 1974 terjadi bencana kelaparan yang amat parah dan manusia bergelimpangan mati di jalanan. Dr. Yunus mengajarkan ekonomi pembangunan dan dia merasa semakin frustasi karena apa yang diajarkannya di ruang kelas sangat bertolak belakang dengan kejadian di dunia nyata. Maka dia memutuskan untuk belajar ekonomi di dunia nyata, ekonomi yang dialami kehidupan manusia.<br />
Karena Universitas Chittagong terletak di tengah-tengah beberapa desa. Dr. Yunus dapat berjalan keluar kampus dan langsung memasuki dunia Banglades yang nyata. Dia mulai mengunjungi desa-desa dan berbicara dengan rakyat miskin, berusaha mencari tahu mengapa mereka tidak bisa mengubah kehidupan mereka atau kondisi hidup mereka. Dia tidak menemui rakyat sebagai seorang guru atau peneliti, tetapi sebagai seorang manusia biasa, seorang tetangga.</p>
<p>Pada suatu hari dia bertemu dengan seorang wanita yang hanya berpenghasilan sepuluh sen sehari dengan membuat kursi dari bambu. Dr. Yunus hampir-hampir tak percaya bahwa ada orang yang bekerja sekeras itu tapi hanya dibayar sepuluh sen sehari. Ketika ia menanyai wanita itu, ternyata wanita itu tidak punya uang untuk membeli bambu yang menjadi bahan kursinya dari toko penjual bambu. Jadi, dia meminjam uang dari seorang pedagang, pedagang yang juga sebagai pembeli kursi buatannya. Ketika si pedagang membeli kursinya, dia menetapkan hargayang nyaris tidak bisa menutupi modal yang dikeluarkannya. Pokoknya, jerih payahnya sama sekali hamper tidak dihargai. Dia bekerja seperti seorang budak.</p>
<p>“Hmm,” pikir Dr. Yunus, “ini bukan masalah yang sulit dipecahkan.”   Jika wanita ini bisa mendapatkan uang untuk membeli bambunya sendiri, dia bisa menjual barang dagangannya dengan harga yang ditetapkannya sendiri. Dr. Yunus dan seorang mahasiswa berkeliling desa selama beberapa hari dan mencari tahu apakah ada orang lain seperti wanita tadi yang meminjam uang dari pedagang dan kehilangan uang yang seharusnya menjadi penghasilan mereka. Dalam waktu seminggu mereka mencatat ada 42 orang yang bernasib demikian. Jumlah seluruhnya yang diperlukan ke-42 orang itu hanya $30.<br />
Jalan keluar pertama yang dilakukan Dr. Yunus adalah menyediakan uang sebesar $30 dari dompetnya sendiri.  Dr. Yunus juga meminta si mahasiswa untuk menyumbangkan uang kepada orang-orang itu sebagai pinjaman. Tetapi, kemudian dia menyadari bahwa yang dilakukannya itu bukan jalan keluar yang sebenarnya karena jika orang desa lainnya memerlukan uang, mereka tidak akan datang menemuinya karena dia hanyalah dosen perguruan tinggi. Dia tidak bergerak dibidang keuangan. Nah, saat itulah dia memikirkan bank.<br />
Dia menemui seorang manajer bank, tetapi si manajer bahkan berpendapat bahwa hal itu sangat menggelikan untuk dibicarakan. Uang sebesar $30 sama sekali tidak artinya, bahkan tidak akan cukup untuk biaya administrasi, katanya. Lagi pula rakyat yang miskin itu tidak punya agunan. Dr. Yunus mendatangi beberapa bank lain, tetapi mendapat jawaban yang sama. Akhirnya dia menantang bank dengan menawarkan dirinya sebagai penjamin. Setelah berusaha selama enam bulan, dengan agak enggan akhirnya bank-bank itu bersedia memberinya pinjaman $300.</p>
<p>Dr. Yunus meminjamkan uang itu kepada rakyat desa dan mendapatkan bayarannya kembali. Sekali lagi dia meminta bank meminjamkan uang langsung kepada orang desa, dan sekali lagi mereka menolak dan mengatakan  bahwa keberhasilan itu hanya bisa dilakukan di satu desa saja. Dr. Yunus bersikeras. Dia meminjamkan uang ke beberapa desa. Usahanya berhasil, tetapi para banker masih tetap belum bisa diyakinkan. Akhirnya, dia meminjamkan uang ke seluruh kecamatan. Dan usahanya masih terus berhasil, dan para banker masih tetap tak bisa dibujuk.</p>
<p>Akhirnya, Dr. Yunus berpikir, “Mengapa saya mengejar-ngejar para banker itu? Mengapa saya tidak mendirikan bank saja dan menangani sendiri masalahnya?” Maka pada tahun 1983, pemerintah memberinya izin untuk mendirikan bank yang dinamakannya Bank Garmeen. Bank ini meminjamkan uang hanya kepada orang-orang miskin di Banglades –rakyat yang tidak punya tanah dan tidak punya modal.</p>
<p>Sekarang Bank Garmeen memiliki 1.048 cabang dan lebih dari dua juta peminjam. Mereka berkiprah di 35.000 desa. Bank ini telah mengeluarkan uang lebih dari sati milyar dolar dan pinjaman rata-rata $150. Bank ini tidak hanya meminjamkan kepada orang miskin, namun bank ini juga milik orang miskin. Orang-orang yang dipinjami uang menjadi pemegang saham bank. Di antara dua juta peminjam, 90% kaum wanita, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terjadi di Banglades.</p>
<p>Bank ini ditiru di seluruh dunia. Dr. Yunus menekankan bahwa pada setiap tahapannya, dia selalu diingatkan orang bahwa hal itu tak mungkin dilakukan dan memang ada alasan kuat mengapa tidak mungkin. Tetapi pada kenyataannya hal itu dapat dilakukan dan dengan cara yang luar biasa dan tak diperkirakan sebelumnya.</p>
<p>&#8220;Disadur dari buku Chicken Suop for the Soul at Work&#8221;</p>
Posted in Artikel Tagged: Banglades, Bank, Dr. Yunus, Kredit Kecil <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herrysyafrial.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herrysyafrial.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herrysyafrial.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herrysyafrial.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herrysyafrial.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herrysyafrial.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herrysyafrial.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herrysyafrial.wordpress.com/120/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herrysyafrial.wordpress.com/120/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herrysyafrial.wordpress.com/120/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=120&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/10/20/ini-kredit-bukan-belas-kasihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Memahami Tauhid Rubbubiyyah dan Uluhiyah</title>
		<link>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/08/19/memahami-tauhid-rubbubiyyah-dan-uluhiyah/</link>
		<comments>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/08/19/memahami-tauhid-rubbubiyyah-dan-uluhiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 01:23:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herrysyafrial.wordpress.com/?p=117</guid>
		<description><![CDATA[Tauhid Rububiyyah.
Mari kita mulai dengan pembahasan singkat tauhid rububiyyah, yang menjelaskan kata ar-Rabb dengan arti Pencipta, hal ini sangat jauh dari apa yang dimaksud oleh Al-Qur’an. Sebenarnya arti kata ar-Rabb didalam bahasa dan didalam Al-Qur’an al-Karim tidak keluar dari arti “ Yang memiliki urusan pengelolaan dan pengaturan”. Makna umum ini sejalan dengan berbagai macam ekstensi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=117&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Tauhid Rububiyyah.</strong></p>
<p>Mari kita mulai dengan pembahasan singkat tauhid rububiyyah, yang menjelaskan kata ar-Rabb dengan arti Pencipta, hal ini sangat jauh dari apa yang dimaksud oleh Al-Qur’an. Sebenarnya arti kata ar-Rabb didalam bahasa dan didalam Al-Qur’an al-Karim tidak keluar dari arti “ Yang memiliki urusan pengelolaan dan pengaturan”. Makna umum ini sejalan dengan berbagai macam ekstensi (mishdaq)-nya, seperti pendidikan, perbaikan, kekuasaan, dan kepemilikan. Akan tetapi, kita tidak bisa menerapkan kata ar-Rabb kepada arti Penciptaan, sebagaimana yang dikatakan oleh golongan Wahabi/Salafi. Untuk membuktikan secara jelas kesalahan ini, marilah kita merenungkan ayat-ayat berikut ini, supaya kita dapat menyingkap arti kata ar-Rabb yang terdapat didalam Aal-Qur’an:<br />
Surat Al Baqarah (2) : 21: “Wahai manusia, sembahlah Rabb-mu yang telah menciptakanmu.”<br />
Dalam surat Al Anbiyaa (21) : 56: “Sebenarnya Rabb kamu ialah Rabb langit dan bumi yang telah menciptakannya “.<br />
<span id="more-117"></span><br />
Jika kata ar-Rabb berarti Pencipta maka ayat-ayat diatas tidak diperlukan penyebutan kata yang telah menciptakanmu atau kata yang telah menciptakannya. Karena jika tidak, maka berarti terjadi pengulangan kata yang tidak perlu. Jika kita meletakkan kata al-Khaliq (Pencipta) sebagai ganti kata ar-Rabb pada kedua ayat di atas, maka tidak lagi diperlukan penyebutan kata yang telah menciptakanmu dan kata yang telah menciptakannya. Sebaliknya, jika kita mengatakan bahwa arti kata ar-Rabb adalah Pengatur atau Pengelola, maka disana tetap diperlukan penyebutan kata yang telah menciptakanmu dan kata yang telah menciptakannya. Sehingga dengan demikian, makna atau arti ayat yang pertama diatas ialah “sesungguhnya Zat yang telah menciptakanmu adalah pengatur urusanmu”, sementara arti pada ayat yang kedua ialah “Sesungguhnya pencipta langit dan bumi adalah penguasa dan pengatur keduanya “.<br />
Adapun bukti-bukti yang menunjukkan kepada makna ini banyak sekali, namun tidak perlu diungkapkan dibuku ini karena akan membutuhkan cukup waktu untuk menjelaskannya secara rinci.Oleh karena itu, perkataan Muhammad Ibnu Abdul-Wahhab yang berbunyi “Adapun tentang tauhid rububiyyah, baik Muslim maupun Kafir mengakuinya” adalah perkataan yang tanpa dasar, dan jelas-jelas ditentang oleh nash-nash Al-Qur’an, yang firman-Nya:”Apakah aku akan mencari Rabb selain Allah, padahal Dia adalah Rabb bagi segala sesuatu.” (QS. al-An’am: 164). Firman Allah swt. kepada Rasul-Nya ini tidak lain berarti agar beliau menyampaikan kepada kaumnya sebagai berikut: ‘Apakah engkau memerintahkan aku untuk mengambil Rabb (Tuhan) yang aku akui pengelolaan dan pengaturannya selain Allah, yang tidak ada pengatur selain-Nya sebagaimana engkau mengambil berhala-berhalamu dan mengakui pengelolaan dan pengaturannya’.<br />
Jika semua orang-orang kafir mengakui bahwa pengelolaan dan pengaturan hanya semata-mata milik Allah –sebagai mana dikatakan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab– maka ayat Al-An’am itu tidak mempunyai arti sama sekali, sehingga hanya menjadi sesuatu yang sia-sia, na’udzu billah. Karena setiap manusia –berdasarkan sangkaan Muhammad bin Abdul Wahhab ini– baik muslim maupun kafir, semuanya mentauhidkan Allah didalam rububiyyahnya, maka tentu mereka tidak memerintahkan untuk mengambil Rabb selain Allah. Juga zaman sekarang yang kita lihat dan dengar sendiri banyak orang-orang kafir yang sama sekali tidak mengakui wujudnya/adanya Tuhan, apalagi mentauhidkan-Nya!<br />
Terdapat juga ayat yang berkenaan dengan seorang yang beriman dari kalangan keluarga Fir’aun. Allah swt. berfirman didalam  surat al-Mukmin [40]:28: “Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki karena dia mengatakan, ‘Rabbku ialah Allah’, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu”. Demikian juga, berpuluh-puluh ayat lainnya menguatkan bahwa kata ar-Rabb bukanlah berarti Pencipta, melainkan berarti Pengatur, yang di tangan-Nya terletak pengaturan segala sesuatu. Kata ar-Rabb dengan arti ini (yaitu Pencipta), sebagaimana ditekankan oleh ayat-ayat Al-Qur’an, tidak menjadi kesepakatan diantara anggota manusia. Muhammad bin Abdul Wahhab telah menukil pemikiran ini dari Ibnu Taimiyyah tanpa melalui proses pengkajian, sehingga bahaya yang ditimbulkannya atas kaum Muslimin sangat besar. Ibnu Taimiyyah tidak mengeluarkan pemikiran ini dari kerangka ilmiah. Berbeda dengan Muhammad bin Abdul Wahhab, yang di tunjang oleh keadaan sehingga bisa melaksanakan pemikiran ini pada tataran praktis dan menerapkannya pada kaum Muslimin. Maka hasil dari semua ini ialah, mereka mudah mengkafirkan madzhab lain selain madzhab Wahabi.</p>
<p><strong>Tauhid Uluhiyyah </strong><br />
Supaya lebih jelas, kita akan mengkaji pandangan Muhammad Abdul Wahhab mengenai seputar tauhid uluhiyyah. Yang dimaksud dengan tauhid uluhiyyah oleh kalangan Wahabi ialah bahwa ibadah semata-mata hanya untuk Allah swt., dan seseorang tidak boleh menyekutukan-Nya dengan yang lainnya di dalam beribadah kepada-Nya. Inilah tauhid yang menjadi tujuan diutusnya para Nabi dan para Rasul. Kita semua tidak ada keraguan sedikitpun tentang pemahaman ini. Namun, disana terdapat kekaburan mengenai istilah. Karena, didalam Al-Qur’an, Allah swt. bukanlah berarti al-ma’bud. Kita dapat menama- kan tauhid ini dengan tauhid ibadah. Namun demikian tidak ada masalah dengan istilah jika kita telah sepakat mengenai pemahamannya.Kaum Muslimin sepakat akan wajibnya menjauhkan diri dari ber-ibadah kepada selain Allah swt. dan hanya semata-mata kepada-Nya kita beribadah. Namun yang menjadi perselisih- an ialah mengenai batasan pengertian ibadah. Dan ini merupakan sesuatu yang paling penting didalam bab ini. Karena, inilah yang menjadi tempat tergelincirnya kaki golongan Wahabi/ Salafi. Jika kita mengatakan bahwa tauhid yang murni ialah kita mempersembahkan ibadah semata-mata kepada Allah swt., maka yang demikian tidak akan ada artinya jika kita tidak mendefenisikan terlebih dahulu pengertian ibadah, sehingga kita mengetahui batas-batasannya, yang tentunya akan menjadi tolak ukur yang tetap bagi kita untuk membedakan seorang muwahhid (yang bertauhid) dan seorang musyrik. Sebagai contoh, orang yang bertawassul kepada para wali menziarahi kuburan mereka, mengagungkan mereka, apakah termasuk seorang musyrik atau seorang muwahhid (bertauhid)? Sebelum kita menjawab, kita harus terlebih dahulu mempunyai ukuran yang dengannya kita dapat menyingkap ekstensi-ekstensi ibadah pada kenyataan diluar.<br />
Golongan Wahab/Salafii menganggap, bahwa seluruh ketundukan, perendahan diri dan penghormatan adalah ibadah, ini pengertian yang salah! Golongan Wahabi/Salafi ini menganggap bahwa setiap bentuk ketundukan atau perendahan diri seorang pada sesuatu (Nabi Allah, Wali Allah dan sebagainya), orang tersebut dianggap sebagai hamba sesuatu tersebut, dilain kata dia telah menyembahnya. Dengan demikian berarti dia telah menyekutukan Allah. Menurut golongan ini bila seorang yang menempuh perjalanan yang jauh dengan tujuan untuk menziarahi Rasulallah saw., sehingga dapat mencium dan menyentuh makamnya yang suci, dengan tujuan bertabarruk (baca bab Tabarruk), maka dia terhitung sebagai orang kafir dan orang musyrik. Demikian juga halnya dengan orang yang mendirikan bangunan di atas kuburan, untuk menghormati dan mengagungkan orang yang dikubur didalamnya.<br />
Golongan Wahab/Salafii menganggap, semua ketundukan….dan sebagainya yang telah dikemukakan diatas adalah ibadah dan penyembahan, ini pengertian yang salah ! Muhammad Ibnu Abdul Wahhab berkata pada salah satu risalahnya:<br />
“…..Barangsiapa yang menginginkan sesuatu dari kuburan, pohon, bintang, para malaikat atau para Rasul, dengan tujuan untuk memperoleh manfaat atau menghilangkan bahaya, maka dia telah menjadikannya sebagai Tuhan selain Allah. Berarti dia telah berdusta dengan ucapannya yang berbunyi‘ Tidak ada Tuhan selain Allah’. Dia harus diminta bertaubat. Jika dia bertaubat, dia dibebaskan; namun jika tidak, maka dia harus dibunuh. Jika orang musyrik ini berkata, ‘Saya tidak bermaksud darinya kecuali hanya untuk bertabarruk, dan saya tahu bahwa Allah-lah yang memberikan manfaat dan mendatangkan madharat.’ Katakanlah kepadanya, ‘Sesungguhnya Bani-Israilpun tidak menghendaki kecuali apa yang kamu kehendaki’. Sebagaimana yang telah Allah swt. beritakan tentang mereka. Yaitu manakala mereka telah berhasil menyeberangi laut, mereka mereka mendatangi sebuah kaum yang tengah menyembah berhala mereka. Kemudian Bani Israil berkata berkata, ‘Hai Musa, buatkanlah untuk kami seorang Tuhan sebagaimana Tuhan-Tuhan yang mereka miliki’, kemudian Musa berkata, ‘Sesungguhnya kamu adalah kaum yang bodoh.’” (‘Aqa’id al-Islam, kumpulan surat-surat Muhammad bin Abdul Wahhab, hal.26).<br />
Muhammad bin Abdul Wahhab juga berkata didalam risalahnya yang lain: “Barangsiapa yang bertabarruk kepada batu atau kayu, atau menyentuh kuburan atau kubah dengan tujuan untuk bertabarruk (mengambil barokah) kepada mereka, maka berarti dia telah menjadikan mereka sebagai Tuhan-Tuhan yang lain”. (‘Aqa’id al-Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, hal.26)<br />
Selain dari Muhammad Abdul Wahhab ini, mari kita rujuk juga kata-kata seorang dari golongan Wahabi –Muhammad Sulthan al-Ma’shumi– terhadap kaum Muslimin yang meng-Esakan Allah dan sedang menziarahi kuburan Rasulallah saw. untuk bertabarruk kepada Nabi saw. sebagai berikut:   “Pada kunjungan saya yang ke empat kekota Madinah, saya menyaksikan di Mesjid Nabawi disisi kuburan Rasulallah saw. yang mulia, banyak sekali terdapat hal-hal yang bertentangan dengan iman, hal-hal yang menghancurkan Islam dan hal-hal yang membatalkan ibadah, yaitu berupa kemusyrikan-kemusyrikan yang muncul disebabkan sikap berlebihan, kebodohan, taklid buta dan ta’assub yang batil. Sebagian besar yang melakukan kemunkaran-kemunkaran ini adalah orang-orang asing (bukan orang Saudi sendiri ?) yang berasal dari berbagai penjuru dunia, yang mereka tidak memiliki pengetahuan tentang hakikat agama. Mereka telah menjadikan kuburan Rasulallah saw. sebagai berhala, disebabkan cinta yang berlebihan, sementara mereka tidak merasa.”(Al–Musyahadat al-Ma’shumiyyah ‘Inda Qabr Khair al-Bariyyah, hal.15) .<br />
Sudah jelas bagi orang yang berpendidikan agama akan menolak tegas pikiran dangkal si Syekh Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan Muhammad Sulthan al-Ma’shumi ini, dengan adanya omongannya itu menunjukkan mereka tidak bisa membedakan antara ‘ibadah dan ta’dzim/penghormatan. Baik menurut syariat maupun akal, kita tidak dapat meletakkan secara keseluruhan kata khudhu’ (ketundukkan) dan tadzallul (perendahan diri) sebagai ibadah. Kita melihat banyak sekali perbuatan yang dilakukan oleh manusia didalam kehidupan sehari-harinya yang disertai dengan ketundukkan dan perendahan diri.<br />
Contohnya; ketundukkan seorang murid kepada gurunya dan begitu juga ketundukkan seorang prajurit dihadapan komandannya. Tidak mungkin ada seorang manusia yang berani mengatakan perbuatan yang mereka lakukan itu ibadah. Allah swt. telah memerintahkan kita untuk menampakkan diri kepada kedua orang tua ketundukkan dan perendahan. Sebagaimana firman-Nya: “Dan turunkanlah sayapmu (rendahkanlah dirimu) dihadapan mereka berdua dengan penuh kasih sayang”.Kata “penurunan sayap” disini adalah merupakan kiasan dari ketundukan yang tinggi. Kita tidak mungkin menyebut perbuatan ini sebagai ibadah. Bahkan, pedoman seorang muslim adalah “tunduk dan merendahkan diri di hadapan seorang Mukmin, serta congkak dan meninggikan diri dihadapan orang kafir”. Sebagaimana Allah swt. berfirman, “Maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan merekapun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang Mukmin, dan bersikap keras terhadap orang-orang kafir”. Jika semua perendahan diri dikatakan sebagai ibadah, berarti Allah telah memerintahkan orang-orang mukmin untuk beribadah kepada satu sama lainnya. Jelas, ini sesuatu yang mustahil!<br />
Banyak ayat ilahi dengan jelas berbicara tentang hal ini, dan menafikan sama sekali klaim yang dikatakan oleh golongan Wahabi/Salafi. Diantaranya ialah, ayat yang menceritakan sujudnya para malaikat kepada Adam. Sujud adalah merupakan peringkat tertinggi dari khudhu’ (ketundukkan) dan tadzallul (perendahan diri). Allah swt. berfirman: “Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat, ‘Sujudlah kamu kepada Adam’”.(QS. al-Baqarah: 34). Jika sujud kepada selain Allah swt. dan penampakkan puncak ketundukkan dan perendahan diri itu disebut ‘ibadah’ –sebagaimana yang dikatakan oleh kalangan Salafi/Wahabi– maka tentu para malaikat ,na’udzu billah, telah musyrik dan kafir. Dari ayat ini kita dapat mengetahui bahwa puncak dari ketundukkan bukanlah ibadah. Disamping itu, tidak ada seorangpun yang mengatakan bahwa kata ‘sujud’ didalam ayat ini berarti makna hakiki/yang sesungguhnya. Banyak ahli tafsir menulis bahwa sujud diayat tersebut berarti sujud penghormatan atau ta’dzim terhadap Adam a.s jadi bukan sujud ibadah atau sujud kepada Adam untuk dijadikan sebagai kiblatnya, sebagaimana menjadikan Ka’bah sebagai kiblat mereka.<br />
Jadi pikiran dan kata-kata Muhammad Ibnu Abdul Wahhab dan Muhammad Sulthan al-Ma’shumi, seperti tersebut diatas ini adalah pikiran yang tidak benar dan tanpa dasar. Karena, seandainya arti sujud kepada Adam adalah berarti menjadikan Adam sebagai kiblat atau sebagai penyembahan, maka tidak ada alasan bagi Iblis untuk mengajukan protes. Iblis protes karena sujud ditujukan kepada Adam ini bukan dalam arti hakiki/sesungguhnya hanya sebagai penghormatan tinggi saja. Begitu juga Al-Qur’an al-Karim telah mengatakan sesuatu yang bertentangan dengan kemungkinan diatas. Yaitu melalui perkataan Iblis yang berbunyi, “Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?”. (QS. al-Isra: 61). Yang Iblis pahami dari perintah Allah swt. ialah sujud kepada diri Adam itu sendiri (sebagai penghormatan). Oleh karena itu, dia protes dengan mengatakan, Saya lebih baik darinya. Dengan kata lain dia mengatakan, Saya lebih utama darinya. Bagaimana mungkin seorang yang merasa lebih utama harus sujud kepada orang yang tidak lebih utama ?<br />
Disamping itu jika yang dimaksud dengan sujud disini ialah menjadi- kan Adam sebagai kiblat, maka tidaklah harus berarti bahwa kiblat itu lebih utama dari orang yang sujud. Dengan demikian berarti Adam tidak mempunyai keutamaan atas mereka. Ini jelas bertentangan dengan zhahir/lahir ayat itu. Sebagaimana firman Allah swt. dalam surat Al-Isra’ (17); 61-62: ‘Apakah aku akan sujud kepada orang yang Engkau ciptakan dari tanah?’ Juga katanya (Iblis), ‘Terangkanlah kepadaku inikah orangnya yang Engkau muliakan atas diriku? Sesungguhnya jika Engkau memberi tangguh padaku sampai hari kiamat, niscaya benar-benar akan aku sesatkan keturunannya, kecuali sebagian kecil‘. Jadi jelas keengganan Iblis untuk sujud kepada Adam tidak lain adalah dikarenakan pada sujud tersebut terdapat kedudukan dan keutamaan yang besar bagi Adam as. dengan lain kata untuk ta’dzim (penghormatan tinggi) pada Adam  as.. Mari kita ikuti dialog mengenai sujudnya Malaikat untuk Nabi Adam as. berkut ini:<br />
”Pada suatu hari seorang Wahabi, yaitu pemimpin jama’ah Ansharus-Sunnah dikota Barbar kawasan utara Sudan, pernah memprotes seorang madzhab sunnah berkenaan dengan pembahasan ini. Dia (pemimpin jama’ah) mengatakan;<br />
‘Sesungguhnya sujudnya malaikat kepada Adam adalah dikarenakan perintah Allah swt.’. Seorang bertanya padanya; ‘Jika demikian, berarti anda tetap bersikeras bahwa perbuatan ini, yaitu sujud, termasuk kategori syirik namun Allah swt. memerintahkannya’. Syekh Wahabi ini menjawab: ‘Ya’. Seorang tersebut bertanya lagi kepadanya, ‘Apakah perintah Ilahi ini telah mengeluarkan sujudnya malaikat kepada Adam dari katagori syirik?’. Si Syekh Wahabi menjawab, ‘Ya’.<br />
Kemudian orang tersebut berkata, “Ini perkataan yang tidak berdasar, yang tidak akan diterima oleh orang yang bodoh sekalipun, apalagi oleh orang yang berilmu. Karena, perintah Ilahi tidak dapat mengubah esensi sesuatu. Sebagai contoh, esensi dari celaan dan caci maki ialah penghinaan. Jika Allah swt. memerintahkan kita untuk mencaci Fir’aun, apakah perintah Ilahi ini dapat mengubah esensi celaan, sehingga celaan akan berubah menjadi pujian dan penghormatan bagi Fir’aun? Demikian juga sujud yang dikarenakan perintah Allah akan berubah (dari kemusyrikan) menjadi tauhid yang murni. Tidak !, yang demikian ini mustahil. Dengan perkataan ini berarti anda telah menuduh para malaikat telah berbuat syirik”.  Dengan jawaban seorang tersebut si Syekh golongan Wahabi ini tampak keheranan diwajahnya dan diam tidak bicara.<br />
Orang tersebut meneruskan sambil berkata; “Dihadapan anda ada dua kemungkinan, yang pertama apakah sujud ini keluar dari katagori ibadah?,  dan ini adalah apa yang kami katakan dan yakini. Yang kedua, apakah sujud ini merupakan salah satu bentuk ibadah, sehingga dengan demikian berarti malaikat yang sujud telah berbuat syirik, namun perbuatan syirik yang telah diizinkan dan di perintahkan oleh Allah swt.? Perkataan yang kedua ini adalah perkataan yang tidak mungkin dikatakan oleh seorang Muslim yang berakal sehat, dan jelas-jelas tertolak berdasarkan firman Allah swt. yang berbunyi, “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Allah tidak menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji.’ Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?’” (QS. al-A’raf (7): 28). Sekiranya sujud itu ibadah dan perbuatan syirik, tentu Allah swt. tidak akan menyuruhnya !<br />
Al-Qur’an al-Karim juga telah memberitahukan kita akan sujudnya saudara-saudara Yusuf dan juga ayahnya kepada dirinya. Sujud yang mereka lakukan ini bukan dikarenakan perintah Allah, namun demikian Allah swt. tidak menyebutnya sebagai perbuatan syirik, dan tidak menuduh saudara-saudara Yusuf dan juga ayahnya telah melakukan perbuatan syirik. Allah swt. berfirman; ”Dan dia menaikkan kedua ibu bapaknya keatas singgasana. Dan mereka (semuanya) merebahkan diri seraya sujud kepada Yusuf. Dan Yusuf berkata, ‘Wahai ayahku, inilah tabir mimpiku yang dahulu itu; sesungguhnya Tuhanku telah menjadikannya suatu kenyataan’”. (QS. Yusuf [12] : 100). Mimpi yang dikatakan Yusuf itu terdapat didalam surat Yusuf [12]; 4; “Ingatlah ketika Yusuf berkata kepada ayahnya,’ Wahai ayahku, sesungguhnya aku bermimpi melihat sebelas buah bintang, matahari dan bulan; aku lihat semuanya sujud kepadaku”.<br />
Allah swt. telah menyebut peristiwa sujudnya mereka kepada Yusuf pada dua tempat yaitu sujudnya saudara-saudara Yusuf  dan sujudnya sebelas bintang, matahari dan bulan dalam mimpinya kepadanya. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan arti sujud diayat ini yaitu perbuatan yang menampakkan ketundukkan, perendahan diri dan pengagungan, jadi bukanlah ibadah. Atas dasar ini, kita tidak bisa menuduh atau menjuluki seorang Muslim muwahhid (bertauhid) yang tunduk dan merendahkan diri dihadapan makam Rasulallah, makam para imam dan makam para wali,  sebagai orang musyrik yang menyembah kuburan. Karena, ketundukkan bukanlah berarti ibadah atau penyembahan.<br />
Jika perbuatan yang semacam ini dikatagorikan sebagai perbuatan ibadah kepada kuburan, maka kita juga harus konsekwen mengatakan bahwa amal perbuatan kaum muslimin pada manasik haji –thawaf mengelilingi Ka’bah, melakukan sa’i antara shafa-marwa, mencium batu hajar aswad dan lain sebagainya– termasuk ibadah dan perbuatan syirk. (Na’udzu billahi). Karena dilihat dari bentuk dhahir/lahir perbuatan-perbuatan ini tidak berbeda dengan perbuatan mengelilingi kuburan Rasulallah saw., menciumi atau menyentuhnya.<br />
Allah swt. berfirman mengenai tawaf dan Sa’i; “Dan hendaklah mereka melakukan tawaf mengelilingi rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. al-Hajj : 29). Allah swt. juga berfirman, “Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barang siapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber’umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa’i diantara keduanya”. (QS. al-Baqarah: 158).<br />
Apakah anda memandang bahwa berthawaf mengelilingi batu dan tanah (Ka’bah) merupakan ibadah kepadanya? Seandainya secara umum ketundukkan atau perendahan diri dikatakan sebagai ibadah, tentu perbuatan-perbuatan inipun dikatagorikan sebagai ibadah, dan tidak bisa dirubah esensinya melalui perintah Allah. Karena sebagaimana telah kita jelaskan bahwa perintah Allah tidak dapat mengubah esensi suatu perbuatan“! Demikianlah dialog yang cukup menarik antara Syeikh Wahabi dan golongan madzhab Sunnah.<br />
Namun yang menjadi masalah bagi golongan Salafi (baca: Wahabi) ialah mereka kurang memahami definisi ibadah, dan tidak memahami jiwa dan hakikatnya, sehingga mereka hanya berurusan dengan bentuk lahiriyahnya saja. Ketika mereka melihat seorang peziarah kuburan Rasulallah saw. menciumi makam Rasulallah saw. atau makam para waliyullah, maka dengan serta merta terbayang didalam benak mereka seorang musyrik yang menciumi berhalanya, lalu dengan segera mereka menyamakan perbuatan seorang Muslim muwahhid yang menciumi kuburan tersebut dengan perbuatan seorang musyrik yang menciumi berhalanya. Jelas pikiran seperti ini adalah salah! Seandainya semata-mata bentuk luar/lahiriyah cukup untuk dijadikan dasar penetapan hukum, maka tentunya merekapun harus mengkafirkan seluruh orang Muslim yang mencium hajar aswad. Akan tetapi, kenyataannya tidaklah demikian! Seorang  Muslim yang mencium hajar aswad, perbuatannya itu dihitung sebagai tauhid yang murni –karena mereka tidak meyakini hajar aswad sebagai sesembahannya– sementara seorang kafir yang mencium berhala, perbuatannya itu dihitung sebagai perbuatan syirik yang nyata, karena mereka meyakini berhala ini sebagai sesembahannya yang memiliki sifat ketuhanan”.</p>
Posted in Agama  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herrysyafrial.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herrysyafrial.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herrysyafrial.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herrysyafrial.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herrysyafrial.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herrysyafrial.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herrysyafrial.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herrysyafrial.wordpress.com/117/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herrysyafrial.wordpress.com/117/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herrysyafrial.wordpress.com/117/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=117&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/08/19/memahami-tauhid-rubbubiyyah-dan-uluhiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BANCI</title>
		<link>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/08/19/banci/</link>
		<comments>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/08/19/banci/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 01:12:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herrysyafrial.wordpress.com/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Abdul Wahhab bin Abdil Hamid Tsaqafi rah.a. berkata, “Aku melihat satu jenazah yang diusung oleh tiga orang laki-laki dan satu orang wanita. Dalam pengusungan jenazah tersebut tidaj ada seorang pun yang mengiringi mereka. Aku pun berjalan bersama mereka dan menggantikan sisi yang diusung oleh wanita itu. Sesampainya dipemakaman, mereka mendoakan almarhum, lalu membaringkan jenazah di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=114&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Abdul Wahhab bin Abdil Hamid Tsaqafi rah.a. berkata, “Aku melihat satu jenazah yang diusung oleh tiga orang laki-laki dan satu orang wanita. Dalam pengusungan jenazah tersebut tidaj ada seorang pun yang mengiringi mereka. Aku pun berjalan bersama mereka dan menggantikan sisi yang diusung oleh wanita itu. Sesampainya dipemakaman, mereka mendoakan almarhum, lalu membaringkan jenazah di dalam kubur. Di pemakaman tersebut aku bertanya kepada mereka, “Jenazah siapakah ini?” Wanita itu berkata, “Ini adalah jenazah anakku.”  Aku bertanya, “Apakah tidak ada laki-laki lain di kampung mu?” Ia berkata, “Banyak, tetapi mereka tidak mau menyertai jenazah anakku karena mereka menganggapnya hina.” Aku bertanya, “Apa yang menyebabkan mereka menganggapnya hina?” Ia berkata, “Ia adalah seorang mukhannits (laki-laki yang bertingkah laku seperti perempuan).” Aku sangat kasihan kepada wanita itu, kemudian aku membawanya ke rumahku, lalu aku berikan kepadanya dirham, pakaian, dan gandum.<br />
Pada malam harinya, aku bermimpi melihat seorang yang tampan memakai baju putih yang sangat indah dating kepadaku, lalu aku bertanya, “Siapakah engkau?” Ia berkata, “Aku adalah mukhannits yang engkau kebumikan hari ini, aku telah mendapat rahmat dari Allah SWT karena mereka telah menganggapku hina.” (Ithaf)</p>
Posted in Kisah Hikmah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herrysyafrial.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herrysyafrial.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herrysyafrial.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herrysyafrial.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herrysyafrial.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herrysyafrial.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herrysyafrial.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herrysyafrial.wordpress.com/114/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herrysyafrial.wordpress.com/114/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herrysyafrial.wordpress.com/114/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=114&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/08/19/banci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Anak Laki-Laki Harun Ar-Rasyid rah.a</title>
		<link>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/08/19/anak-laki-laki-harun-ar-rasyid-rah-a/</link>
		<comments>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/08/19/anak-laki-laki-harun-ar-rasyid-rah-a/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 01:10:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kisah Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herrysyafrial.wordpress.com/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Harun Ar Rasyid mempunyai seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 16 tahun. Ia banyak duduk di majlis orang-orang zuhud dan wara’. Ia juga sering berziarah ke pemakaman. Ketika sampai di pemakaman, ia berkata, “Ada masanya kalian tinggal di dunia ini dan sebagai tuannya. Akan tetapi ternyata dunia tidak melindungi kalian sehingga kalian sampai ke dalam [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=111&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Harun Ar Rasyid mempunyai seorang anak laki-laki yang berumur sekitar 16 tahun. Ia banyak duduk di majlis orang-orang zuhud dan wara’. Ia juga sering berziarah ke pemakaman. Ketika sampai di pemakaman, ia berkata, “Ada masanya kalian tinggal di dunia ini dan sebagai tuannya. Akan tetapi ternyata dunia tidak melindungi kalian sehingga kalian sampai ke dalam kubur. Seandainya aku mengetahui apa yang menimpa kalian sekarang ini, tentu aku ingin mengetahui apa yang kalian katakana dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ditanyakan kepada kalian. Kemudian ia membaca syair ini:<br />
<span id="more-111"></span><br />
“Pemakaman menakutkanku setiap hari. Suara tangisan dan ratapan wanita yang berduka cita membuatku sedih.”<br />
Pada suatu hari, ia dating ke istana ayahnya, Harun Ar Rasyid. Pada waktu itu, semua menteri dan para pejabat kerajaan beserta tamu-tamu terhormat lainnyasedang berkumpul bersama raja, sedangkan anak laki-laki tersebut hanya mengenakan kain yang sangat sederhana dengan surban dikepalanya. Ketika orang-orang istana melihat dirinya dalam keadaan seperti itu, mereka saling berkata, “Tingkah laku anak gila ini menghina Amirul Mukminin di hadapan para bangsawan. Jika Amirul Mukminin menasehati dan mengingatkannya, mungkin ia akan berhenti dari kebiasaannya gilanya itu.” Begitu mendengar perkataan mereka, Amirul Mukminin berkata kepada anak laki-lakinya, “Wahai anakku saying, engkau telah mempermalukan diriku di hadapan para bangsawan.” Mendengar kata-kata itu, ia tidak menjawab sepatah katapun atas perkataan ayahnya, tetapi ia memanggil seekor burung yang bertengger di ruangan tersebut dan berkata, “Demi Dzat yang menciptakanmu, terbang dan hinggaplah di atas tanganku.” Burung itupun terbang dan hinggap di atas tangannya. Kemudian ia berkata, “Sekarang, kembalilah ke tempatmu.” Maka terbanglah burung itu lalu kembali ke tempatnya. Setelah itu ia berkata, “Ayahku, sebenarnya kecintaanmu kepada dunia itulah yang telah menghinakan diriku. Sekarang aku telah bertekad untuk berpisah denganmu.” Setelah berkata demikian, anak tersebut pergi meninggalkan istana. Ia pergi hanya membawa Al Quran. Ibunya memberinya sebuah cincin yang sangat mahal agar dapat digunakan pada saat memerlukan. Ia berjalan dari istana hingga tiba di Bashrah. Ia mulai bekerja sebagai buruh. Tetapi dalam satu minggu, ia hanya bekerja selama satu hari, yakni pada hari sabtu. Hasil jerih payahnya selama sehari ia gunakan untuk keperluan hidupnya selama seminggu. Kemudian pada hari ke delapan, yakni pada hari sabtu, ia bekerja lagi. Ia hanya menerima upah sebesar satu dirham, dan untuk keperluan setiap harinya, ia menggunakannya sebesar satu danaq (seperenam dirham). Ia tidak mau mengambil lebih atau kurang dari upah tersebut.<br />
 Kisah selanjutnya diceritakan oleh Abu Amir Bashri rah a. Ia berkata, “Ketika sebelah rumahku roboh, aku memerlukan seorang tukang batu untuk memperbaiki rumahku. Ada seseorang yang memberitahu aku bahwa ada seorang anak laki-laki yang dapat memperbaiki rumah. Maka aku segera mencarinya. Di luar kota, aku melihat seorang anak muda tampan yang sedang duduk membaca Al Quran. Di sisinya terletak sebuah tas kecil. Aku bertanya kepadanya, ‘Wahai anakku, apakah engkau mau bekerja sebagai buruh?’ Ia menjawab, ‘Mengapa tidak, kita diciptakan memang untuk bekerja. Katakan kepadaku apa yang harus aku kerjakan?’ Aku berkata, ‘Memperbaiki bangunan.’ Ia berkata, ‘Aku bersedia asalkan aku mendapat upah satu dirham dan satu danaq sehari, dan pada waktu shalat aku tidak bekerja. Aku harus mengerjakan shalat.’ Aku menerima syaratnya. Kemudian aku membawanya ke rumah dan menyuruhnya bekerja. Ketika saat shalat Maghrib tiba, aku sangat terkejut, karena ternyata ia telah menyelesaikan pekerjaan dengan baik, pekerjaan yang dapat dilakukan oleh sepuluh orang. Aku memberinya upah dua dirham, akan tetapi ia tidak mau menerimanya, karena melebihi dari syarat yang telah ia ajukan. Ia hanya mau mengambil satu dirham dan satu danaq, lalu pergi. Karena merasa penasaran, pada hari berikutnya aku keluar mencarinya, tetapi ia tidak kutemukan. Aku bertanya kepada orang-orang dengan menerangkan ciri-ciri anak muda tersebut, kalau-kalau ada yang mengetahuinya. Orang-orang memberitahuku bahwa anak tersebut hanya bekerja pada hari sabtu. Selain hari tersebut, tidak ada seorang pun yang dapat menemukannya. Karena merasa puas dengan pekerjaan anak muda tersebut, aku memutuskan untuk menunda pembangunan dinding rumahku pada hari sabtu mendatang dengan meminta bantuan kepada anak muda tersebut. Pada hari sabtu, aku mencarinya lagi dan kudapati ia sedang membaca Al Quran sebagaimana biasanya. Aku mengucapkan salam kepadanya dan menanyakan apakah ia bersedia bekerja lagi di tempatku dengan syarat yang sama dengan hari sabtu yang lalu. Ia berangkat bersamaku dan mulai mengerjakan dinding rumahku lagi.<br />
Aku masih merasa sangat penasaran dengan pekerjaan anak muda tersebut, bagaimana mungkin ia mampu mengerjakan sendiri sebuah pekerjaan yang biasa dilakukan oleh sepuluh orang pekerja. Maka, ketika ia mengerjakan pekerjaannya, dengan diam-diam aku mengintipnya. Betapa terkejutnya ketika aku melihat apa yang dilakukannya. Ketika ia mengaduk semen dan meletakkannya di dinding, batu-batu itu menyatu dengan sendirinya. Maka aku sadar dan yakin bahwa anak muda tersebut bukanlah pemuda biasa, akan tetapi seorang kekasih Allah. Sebagaimana hamba-hamba-Nya yang khusus, dalam melakukan pekerjaannya, pemuda tersebut selalu mendapat bantuan dari Allah secara ghaib.<br />
Pada sore harinya aku hendak memberinya upah sebesar tiga dirham, akan tetapi ia tidak mau menerimanya. Ia hanya mengambil satu dirham dan satu danaq, kemudian pergi. Aku menunggunya lagi selama seminggu. Dan pada hari sabtu, aku keluar mencarinya. Akan tetapi aku tidak menemukannya. Aku memperoleh berita dari seseorang yang mengatakan bahwa pemuda tersebut sedang sakit. Tiga hari lamanya ia jatuh sakit. Kemudian aku minta tolong kepada seseorang untuk mengantarkan aku ke tempat pemuda yang sedang menderita sakit itu. Sesampainya di tempat tinggalnya, ternyata pemuda itu tengah berbaring tak sadarkan diri di atas tanah, kepalanya berbantalkan separuh potongan batu bata. Ketika aku memberi salam padanya, ia tidak menjawab. Maka aku mengucapkan salam sekali lagi. Ia membuka matanya sedikit dan mengenaliku. Aku segera mengangkat kepalanya dari batu bata itu dan meletakkannya di atas pangkuanku. Tetapi ia menarik kepalanya dan membaca beberapa bait syair, dua di antaranya adalah :<br />
Wahai kawanku, janganlah engkau terperdaya oleh kenikmatan dunia. Karena hidupmu akan berlalu. Kemewahan hanyalah untuk sekejap mata.<br />
Dan apabila engkau mengusung jenazah ke pemakaman, ingatlah suatu hari engkau pun akan diusung ke pemakaman.<br />
Setelah mengucapkan syair tersebut, ia berkata, “Wahai Abu Amir, jika ruhku telah keluar dari tubuhku, mandikanlah aku, dan kafanilah aku dengan pakaian ini. Aku menyahut, “Wahai saying, aku tidak keberatan membelikan kain kafan yang baru untukmu.” Ia menjawab, “Orang yang masih hidup lebih memerlukan pakaian yang baru daripada orang yang meninggal (sama dengan ucapan Abu Bakar Ash Shiddiq ra ketika hendak meninggal dunia). Anak itu menambahkan, “Kain kafan yang baru ataupun using akan segera membusuk. Apa yang tinggal bersama seseorang setelah kematiannya hanyalah amal perbuatannya. Berikanlah sarung dan cerekku ini kepada penggali kubur sebagai upahnya. Al Quran dan cincin ini tolong sampaikan langsung kepada Khalifah Harun Ar Rasyid dan sampaikan kepadanya pesanku, ‘Wahai ayah, jangan sampai engkau meninggal dalam keadaan lalai dan tertipu oleh dunia.” Dengan keluarnya kata-kata tersebut dari bibirnya, pemuda itu pun meninggal dunia. Dan pada saat itulah aku menyadari bahwa ternyata ia adalah seorang pangeran, putra mahkota.<br />
Setelah putra mahkota itu meniggal dunia, aku pun memandikannya, mengkafaninya, dan memakamkannya sesuai dengan wasiatnya. Kedua benda berupa sarung dan cerek aku berikan kepada penggali kubur. Kemudian aku pergi ke Baghdad dengan membawa Al Quran dan cincin untuk aku serahkan kepada Khalifah Harun Ar Rasyid. Sungguh aku sangat beruntung, ketika aku sampai di pintu gerbang istana khalifah, pasukan raja sedang keluar dari istana khalifah. Aku pun berdiri di tempat yang tinggi. Mula-mula keluar pasukan berkuda yang sangat besar, yakni berjumlah 1000 tentara. Setelah itu keluar lagi sepuluh pasukan berkuda, masing-masing pasukan berjumlah 1000 tentara. Amirul Mukminin sendiri berada di dalam pasukan yang kesepuluh. Dengan kerasnya aku berseru, “Wahai Amirul Mukminin, demi kekerabatanmu dengan Rasulullah saw, berhentilah sebentar!” Mendengar suaraku itu, ia melihat kepadaku. Maka dengan cepat aku maju kea rah Amirul Mukminin dan berkata, “Ini adalah titipan seorang laki-laki asing kepadaku. Ia berwasiat agar aku menyampaikan dua macam benda ini langsung kepada engkau.” Bagitu melihatnya, raja pun mengenalinya dan menundukkan kepala sesaat. Air matanya mengalir dari kedua matanya. Kemudian khalifah menyuruh pengurus istana untuk mengantarku ke istana.<br />
Setelah khalifah kembali pada sore harinya, khalifah memerintahkan pengurus istana untuk menutup semua tabir istana dan berkata kepada penjaga pintu, “Panggil orang itu, walaupun ia akan membengkitkan kembali kesedihanku.” Penjaga pintu dating kepadaku dan berkata, ‘Amirul Mukminin memanggilmu. Tetapi ingat, Amirul Mukminin sedang berduka. Jika engkau ingin menyampaikan sesuatu dalam sepuluh kata, cobalah disampaikan dalam lima kata saja.’ Setelah berkata demikian, ia membawaku menemui Amirul Mukminin. Pada waktu itu Amirul Mukminin duduk seorang diri. Ia berkata kepadaku, ‘Mendekatlah kepadaku.’ Aku pun duduk di dekat khalifah. Lalu khalifah berkata, ‘Apakah engkau mengenal anakku?’ Aku menjawab, ‘Betul, aku mengenalnya.’ Khalifah bertanya, ‘Pekerjaan apakah yang ia lakukan?’ Aku menjawab, ‘Ia bekerja sebagai tukang batu.’ Khalifah bertanya, ‘Apakah engkau juga pernah mempekerjakannya sebagai tukang batu?’ Aku menjawab, ‘Ya, pernah.’ Khalifah bertanya lagi, ‘Apakah engkau tidak tahu bahwa ia masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Rasulullah saw?’ (Harun Ar Rasyid adalah keturunan Abbas ra, paman Nabi Muhammad saw). Aku berkata, ‘Amirul Mukminin, terlebih dahulu aku memohon ampunan dari Allah SWT, setelah itu aku memohon maaf kepadamu. Pada waktu itu aku belum mengetahui kalau ia masih mempunyai hubungan kekerabatan dengan Rasulullah saw. Aku baru mengetahuinya ketika ia hendak meninggal dunia.’ Khalifah bertanya, ‘Apakah engkau memandikannya dengan tanganmu sendiri?’ Aku menjawab, ‘Benar. Khalifah berkata, ‘Ulurkan tanganmu!’ Ia menarik tanganku, kemudian menempelkan di dadanya dambil membaca beberapa syair yang artinya:<br />
 Wahai engkau yang menjauh dariku,<br />
Hatiku larut dalam kesedihan karenamu<br />
Mataku mencucurkan air mata penderitaan<br />
Wahai engkau yang jauh kuburnya<br />
Terlalu jauh, tetapi kesedihanmu lebih dekat di hatiku<br />
Benar, kematian itu membingungkan kesenangan yang tertinggi di dunia<br />
Wahai anakku yang menjauh dariku<br />
Enakau bagai bulan purnama yang tergantung di atas dahan perak<br />
Bulan telah menetap di kubur<br />
Sedang dahan perak menjadi debu<br />
Setelah melantunkan syair di atas, Harun Ar Rasyid ingin pergi ke Bashrah untuk menziarahi makam anaknya. Abu Amir pun menyertainya. Begitu sampai di makam anaknya, Harun Ar Rasyid membaca beberapa bait syair yang artinya sebagai berikut:<br />
Wahai musafir kea lam yang tidak diketahui<br />
Engkau takkan kembali ke rumah<br />
Maut dengan cepat telah merenggutmu pada awal masa remajamu<br />
Wahai penyejuk mataku, engkaulah pelipur laraku<br />
Kediaman hatiku di kesunyian<br />
Engkau telah merasakan racun kematian<br />
Yang seharusnya ayahmulah yang meminumnya di usia tua<br />
Sungguh, setiap orang akan merasakan kematian<br />
Apakah ia seorang pengembara, atau seorang penduduk kota<br />
Segala puji bagi Allah Yang Esa, Yang tidak mempunyai sekutu<br />
Karena ini adalah bukti keputusan-Nya<br />
Abu Amir rah a berkata, “Pada malam harinya, ketika aku telah menyelesaikan wirid-wiridku, aku tertidur. Dalam tidurku, aku bermimpi melihat sebuah istana yang berkubah dari nur, yang di atasnya terdapat awan dari nur yang menaunginya. Kemudia awan itu hilang, dan anak itu memanggilku sambil berkata, ‘Wahai Abu Amir, semoga Allah memberimu balasan yang lebih baik karena engkau telah memandikan, mengkafani, memekamkan aku, dan telah menunaikan semua wasiatku. Aku bertanya kepadanya, ‘Wahai kekasihku, bagaimana keadaanmu, apa yang engkau alami?’ Ia berkata, ‘Aku telah sampai ke hadapan Tuhan Yang Maha Pemurah dan Dia sangat ridha kepadaku.’ Al Malik telah memberi tahu kepadaku bahwa aku memdapatkan sesuatu yang tidak pernah dilihat oleh mata manusia, tidak pernah terdengar oleh telinga manusia, dan akal tidak dapat memikirkannya.<br />
Kemudian ruh pemuda tersebut berkata kepadaku dalam mimpiku, “Allah SWT telah berjanji kepadaku, Dia bersumpah dengan keagungan-Nya bahwa Dia akan menganugerahkan kenikmatan, kehormatan, dan karunia semacam itu kepada semua hamba-Nya yang keluar dari dunia seperti aku.’<br />
Penulis kitab Raudh mengatakan bahwa ia juga mendapatkan cerita yang sama secara keseluruhan dari sanad yang lain. Di dalamnya juga diterangkan bahwa seseorang bertanya kepada Harun Ar Rasyid mengenai keadaan anak itu. Ia menjawab, ‘Anakku lahir sebelum aku menjadi raja. Ia mendapat didikan adab yang sangat baik, ia telah belajar Al Quran dan ilmu-ilmu lain. Ketika aku menjadi raja, ia pergi meninggalkan aku. Ia tidak pernah mengambil manfaat dari duniaku. Ketika ia hendak pergi, akulah yang berkata kepada ibunya agar ia diberi sebuah cincin mutiara yang sangat indah dan mahal harganya. Akan tetapi ia tidak pernah menggunakannya, bahkan ketika menjelang wafat, ia mengembalikannya. Anak ini sangat patuh kepada ibunya.” (Raudh) </p>
Posted in Kisah Hikmah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herrysyafrial.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herrysyafrial.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herrysyafrial.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herrysyafrial.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herrysyafrial.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herrysyafrial.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herrysyafrial.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herrysyafrial.wordpress.com/111/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herrysyafrial.wordpress.com/111/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herrysyafrial.wordpress.com/111/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=111&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/08/19/anak-laki-laki-harun-ar-rasyid-rah-a/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bapak</title>
		<link>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/08/04/bapak/</link>
		<comments>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/08/04/bapak/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 01:33:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[Bapak]]></category>
		<category><![CDATA[Wafat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herrysyafrial.wordpress.com/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahir Rahmanir Rahiim.
Sebelumnya saya meminta maaf kepada sahabat saya Munawar Aziz, karena tidak sempat bertakziah pada hari wafatnya Ayahanda Beliau. Sebagai gantinya saya upload tulisan Beliau mengenang Bapak Tercinta&#8230;.
Bapak
(Sebuah Tauladan dari Bapak)

“Kullu Nafsin Zaaikatul Maut”… Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Sebuah kalimat yang diucapkan ayah dalam keheningan diskusi… kami tidak pernah menyangka bahwa itu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=108&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Bismillahir Rahmanir Rahiim.</p>
<p>Sebelumnya saya meminta maaf kepada sahabat saya Munawar Aziz, karena tidak sempat bertakziah pada hari wafatnya Ayahanda Beliau. Sebagai gantinya saya upload tulisan Beliau mengenang Bapak Tercinta&#8230;.</p>
<h1 style="text-align:center;">Bapak</h1>
<p align="center">(Sebuah Tauladan dari Bapak)</p>
<p align="center">
<p><strong>“Kullu Nafsin Zaaikatul Maut”</strong>… Setiap yang berjiwa akan merasakan mati. Sebuah kalimat yang diucapkan ayah dalam keheningan diskusi… kami tidak pernah menyangka bahwa itu pesan terakhir dari seorang yang begitu saya kagumi. Dua hari kemudian beliau menghembuskan nafasnya untuk terakhir kali di kamarnya tanpa merepotkan dan mengganggu siapa pun pukul 04.30 WIB menjelang Adzan Subuh pada tanggal 22 July 2009 di usia 71 tahun.</p>
<p>Dalam keadaan lumpuh akibat 3 kali stroke dan sudah 2 kali operasi Jantung, Katarak, dan Hernia yang dialaminya selama 5 tahun, Bapak tidak pernah berputus asa, terus bersemangat menjalani hidupnya, bahkan terus berusaha berobat kesana kemari. Bapak masih berusaha jalan kaki sendiri dari kamarnya ke ruang tamu untuk makan dan menemui siapa pun yang menjenguk. Itu dia lakukan karena untuk menghormati dan menghargai tamu yang datang. Bahkan Bapak ditengah keterbatasan gerak dan penglihatannya, dia masih makan sendiri dengan kedua tangannya (tanpa di suap). Subhanallah…</p>
<p><span id="more-108"></span></p>
<p>Dulu saya pernah berpikir, seseorang yang sulit di masa tuanya adalah akibat masa mudanya yang tidak baik. Tetapi saya coba berpikir dan mengingat semua mengenai Bapak… Tak ada celah sedikit pun kesalahan atau cacat yang bapak lakukan pada kami anak-anak dan keluarga. Juga dimata tetangga dan teman kerjanya. Bapak begitu sempurna di mata kami.</p>
<p>Ingat ketika masa kecil dulu… kami tidur berjejer. Sebelum tidur Bapak selalu menceritakan kisah-kisah nabi dan rasul, masih terngiang kisah-kisah para nabi… Nabi Nuh dengan kapalnya, nabi Ibrahim dan Ka’bahnya, nabi Syu’aib dengan kesabarannya, nabi Muhammad dan penyebaran Islam… dan semua nabi lainya yang dicerikan dengan ekspresi Bapak… Sampai sekarang saya masih ingat cara beliau bercerita, gaya dan tutur katanya… hingga semua itu begitu membekas, walau sudah 30 tahun yang lalu beliau bercerita. Terima kasih Bapak…</p>
<p>Tak ada bagi Bapak waktu untuk bersantai, dengan beban berat keluarga yang dipikulnya, beliau harus bekerja dengan keras pagi, siang dan malam. Tak pernah Bapak duduk-duduk santai bersama keluarga sepulang kerja, atau pergi keluyuran bersama kawan-kawannya… Justeru Bapak pulang ke rumah dengan membawa mesin air jet pump yang dibelinya di pasar Loak (barang bekas) di Taman Puring – Kebayoran Lama untuk diperbaiki dan di cat kembali.</p>
<p>Selesai sholat, Bapak sudah mulai duduk memperbaiki mesin air jet pump yang dibelinya dalam keadaan rusak, sepanjang malam Bapak sibuk memperbaikinya, hanya berhenti saat sholat. Bahkan kalau tidak dipaksa untuk makan, bapak sering kali mengabaikannya. Hingga jam 1- 2 malam Bapak baru berhenti bekerja dan tidur. Tidak pernah Bapak tidur dibawah jam 9 malam… Itu dia lakukan untuk mengejar dan menutupi kebutuhan Rumah Tangga. Seakan ada date line untuk menyelesaikannya… karena sudah di tunggu oleh pembelinya.</p>
<p>Bapak benar-benar memberikan service yang luar biasa memuaskan pelanggannya, setelah selesai di perbaiki, dan di cat, tidak jarang Bapak membantu memasangnya. Bahkan Bapak juga sering diminta bantuannya untuk membuat lubang sumur tanah (pekerjaan yang penuh tantangan, membutuhkan tenaga dan energy yang luar biasa menggali 10-25 m dibawah tanah dengan pipa-pipa besi panjang). Beberapa kali saya bantu, tapi sering kali Bapak yang melarang dan minta saya belajar untuk serius dan focus pada sekolah. Masih terbayang di wajahnya yang penuh dengan peluh keringat, bahkan saya pernah melihat tangannya berdarah karena kena besi.</p>
<p>Semua itu dilakukan hanya untuk mencari tambahan diluar gaji yang tidak mungkin mencukupi dengan menghidupi 9 anak yang masih sekolah di kota besar Jakarta. Masya Allah… setiap tetes keringatnya, setiap hela nafasnya, bahkan darah yang mengucur benar-benar “Lillahi ta ‘ala” beribadah kepada Allah SWT untuk menghidupi keluarganya. Sungguh Allah Maha Tahu dan Maha Melihat atas semua yang dilakukannya… dan kerja keras itu yang akan menemaninya di alam kubur. Subhanallah…….. Wallahu a’lam.</p>
<p>Matanya rusak, operasi Katarak membuatnya tidak lebih baik. Jantungnya terganggu, bahkan 2 kali operasi pun tidak memberinya kesembuhan, operasi hernia pun harus dijalani karena sering kali jongkok dan duduk saat memperbaiki mesin air hingga tengah malam, Bahkan 3 kali stroke tidak membuatnya surut…. Semua dilakukannya hanya untuk menghidupi keluarga, hanya untuk kami anak-anaknya… Bapak, terima kasih atas semua perjuangan Bapak. Malu bagi kami bila saat ini kami bermalas-malasan… menyengsarakan anak dan istri… ma’afkan kami atas segala kekurangan dan kesalahan kami… LOVE U Bapak…</p>
Posted in Keluarga Tagged: Bapak, Wafat <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herrysyafrial.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herrysyafrial.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herrysyafrial.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herrysyafrial.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herrysyafrial.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herrysyafrial.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herrysyafrial.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herrysyafrial.wordpress.com/108/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herrysyafrial.wordpress.com/108/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herrysyafrial.wordpress.com/108/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=108&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/08/04/bapak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mutiara Kata</title>
		<link>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/06/09/mutiara-kata/</link>
		<comments>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/06/09/mutiara-kata/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 09:29:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Rehat]]></category>
		<category><![CDATA[Kata Mutiara]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herrysyafrial.wordpress.com/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Tolong Menolong
Saling menolong merupakan perbuatan terpuji
Perumpamaan dua orang saudara ibarat dua tangan yang saling membersihkan satu sama lainnya
Karakter / Kepribadian
Perjalanan hidup akan menunjukkan karakter pribadi seseorang.
Dan, tidaklah seseorang itu akan eksis (dipandang), kecuali dari bagaimana ia mengolah dirinya sendiri.
Manusia terbagi dalam empat golongan :
1. Orang yang mengerti dan mengerti bahwa ia mengerti, itulah orang pandai,maka [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=106&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><strong>Tolong Menolong</strong></p>
<p>Saling menolong merupakan perbuatan terpuji<br />
Perumpamaan dua orang saudara ibarat dua tangan yang saling membersihkan satu sama lainnya</p>
<p><strong>Karakter / Kepribadian</strong></p>
<p>Perjalanan hidup akan menunjukkan karakter pribadi seseorang.<br />
Dan, tidaklah seseorang itu akan eksis (dipandang), kecuali dari bagaimana ia mengolah dirinya sendiri.<br />
Manusia terbagi dalam empat golongan :<br />
1. Orang yang mengerti dan mengerti bahwa ia mengerti, itulah orang pandai,maka ikutilah dia.<br />
2. Orang yang mengerti tapi tidak mengerti bahwa ia mengerti,itulah orang yang lalai,maka peringatilah ia.<br />
3. Orang yang tidak mengerti dan ia mengerti bahwa ia tidak mengerti,itulah orang yang sadar diri, maka ajarkanlah ia.<br />
4. Orang yang tidak mengerti dan tidak mengerti bahwa ia tidak mengerti, itulah orang yang bodoh, maka tinggalkanlah ia.</p>
<p>Sesuatu yang paling disukai oleh manusia adalah yang dilarang baginya.<br />
Manusia adalah pengikut bagi siapa yang menang.<br />
Kebanggaan seseorang dengan kelebihan (diri)-nya, lebih utama dari pada kebanggaan seseorang dengan asal keturunannya.<br />
Dalam wajah seseorang terdapat kesaksian dari sebuah kabar.<br />
(Wajah seseorang dapat menunjukkan watak, perilaku, dan karakternya).<br />
Siapa yang mencintai sesuatu, ia akan banyak mengingatnya.<br />
Janganlah engkau (berlaku) terlalu manis maka engkau akan ditelan, dan jangan pula terlalu pahit karena akan dibuang.<br />
Nilai seseorang itu sebesar kebaikan yang diperbuatnya.<br />
Orang dari keturunan mulia tentu akan dermawan (sifatnya) dan berbuat sesuai dengan keturunannya.<br />
Bahaya dari sebuah peri kemanusiaan adalah ingkar janji.<br />
Kemerdekaan (seseorang) tetaplah sebuah kemerdekaan, walaupun ia ditimpa kesusahan/kemelaratan.<br />
Barang siapa yang banyak kebaikannya banyak pula sahabatnya.</p>
<p><strong>Waktu</strong></p>
<p>Waktu itu lebih berharga dari pada emas.<br />
Janganlah kamu menunda pekerjaanmu hingga esok, selama kamu sanggup mengerjakannya hari ini.<br />
Tidak akan kembali hari-hari yang telah berlalu.<br />
Akan datang setiap hari esok dengan apa yang ada di dalamnya.<br />
Segala sesuatu yang akan datang adalah dekat.<br />
Waktu subuh itu sangat jelas bagi orang yang mempunyai mata.<br />
(Terbitnya fajar setelah berlalunya malam &#8211; guna menunaikan ibadah kepada Allah SWT &#8211; merupakan sesuatu yang harus dijaga oleh setiap orang yang sehat dan normal tanpa udzur).<br />
Perputaran (masa) hal yang batil hanya sesaat saja, tetapi perputaran (masa) hal yang haq (kebenaran) adalah hingga tibanya hari kiamat.<br />
Waktu itu bagaikan pedang, jika tidak kau potong maka ia (waktu) akan memotongmu.<br />
Hari-hari dalam kesenangan itu pendek waktunya. (Maka, senantiasa bersiaplah menghadapi segala bentuk kesukaran).</p>
<p><span id="more-106"></span></p>
<p><strong>Menjaga Lisan</strong></p>
<p>Diam merupakan sebuah keputusan hukum.<br />
Sebaik-baik perkataan adalah yang sedikit namun dapat menjadi petunjuk.<br />
Keselamatam seseorang terletak pada penjagaan lisannya.<br />
Siapa yang manis lisannya pasti akan banyak kawannya.<br />
Tidak sedikit perkataan lebih tajam dari pukulan.<br />
Tanda-tanda akal seseorang adalah perbuatannya, dan tanda-tanda ilmunya adalah perkataannya.<br />
Jika engkau memberi nasihat hendaklah yang ringkas (tapi tegas), sebab bicara akan membuat lupa bagian-bagian (penting)-nya.<br />
Jika sempurna akal (seseorang) akan sedikitlah bicaranya.<br />
Tidaklah setiap yang didengar harus dibicarakan.<br />
Siapa yang berkata-kata dengan tidak pantas, ia akan mendengar yang tidak diharapkan.<br />
Jika perkataan (seumpama) perak,maka diam adalah emas.<br />
Rahasiamu adalah tawananmu.Maka jika engkau membicarakannya, engkau akan menjadi tawanannya.<br />
Tidak sedikit orang yang mencela perkataan baik, bermula dari pemahamannya yang picik.<br />
Manusia dinilai dari dua anggota tubuhnya yang kecil : hatinya dan lidahnya.<br />
Tidak sedikit diam itu lebih jelas dari berkata-kata.<br />
Bahaya itu tergantung pada pembicaraan mulut.<br />
Mencaci maki adalah perbuatan cela.<br />
Berdusta merupakan tanda-tanda kemunafikan.<br />
Bencananya sebuah pembicaraan adalah kebohongan.<br />
Tergelincirnya kaki lebih selamat dari pada tergelincirnya lisan/lidah.<br />
Mengutamakan pekerjaan dari pada pembicaraan merupakan sebuah kemuliaan.<br />
Penyesalan dengan diam lebih baik dari pada penyesalan dengan berkata-kata.<br />
Lemah lembutnya perkataan merupakan ikatan hati.<br />
Lisan seseorang merupakan bagian dari penghambaan hatinya.<br />
Tidak jarang sebuah kalimat bisa menyebabkan hilangnya kenikmatan.<br />
Pangkal dosa adalah dusta.<br />
Perkataan itu bisa menembus apa yang tidak dapat ditembus oleh jarum.<br />
Diam itu saudaranya ridha (kerelaan).<br />
Setiap tempat ada perkataannya dan setiap perkataan ada tempatnya. (maksudnya: Berbicaralah pada tempatnya).</p>
<p><strong>Sabar</strong></p>
<p>Kesabaran dapat menolong setiap pekerjaan.<br />
Siapa yang bersabar pasti beruntung.<br />
Sabar adalah tipu muslihat bagi orang yang tidak memiliki tipu muslihat.<br />
Siapa yang bercita-cita akan mencapai apa cita-citakan.<br />
Tidak jarang nafsu sesaat dapat mewariskan kesedihan yang berkepanjangan.</p>
<p><strong>Persahabatan / Persaudaraan</strong></p>
<p>Sebaik-baiknya teman adalah orang yang dapat menunjukkan kepada kebaikan.<br />
Dan, pergaulilah manusia dengan apa yang mereka senangi selamanya.<br />
Sebaik-baiknya teman duduk di setiap saat adalah buku.<br />
Teman (sejati)-mu adalah orang yang membuatmu menangis, bukan yang membuatmu tertawa.<br />
Orang yang berbahagia adalah yang dinasihati oleh orang lain.<br />
Katakanlah padaku siapa teman pergaulanmu, maka aku akan katakan pada mu siapa dirimu.<br />
Tidak sedikit saudara yang tidak dilahirkan oleh ibumu.<br />
Carilah teman sebelum berjalan, dan tetangga sebelum berumah tinggal.<br />
Tidak berhak untuk dilahirkan (ke muka bumi) orang yang hidup hanya untuk dirinya saja.<br />
Pendapat dua orang lebih baik dari pendapat satu orang. Dan pendapat tiga orang tidak mungkin meleset.<br />
Janganlah engkau musuhi orang yang jika berbicara ia melakukannya.<br />
Bila engkau ingin ditaati, maka perintahlah apa yang bisa dikerjakan.<br />
Saudaramu (yang sejati) adalah dia yang memberimu ketauladanan yang baik.<br />
Saudaramu (yang sejati) adalah dia yang jujur padamu.<br />
Perselisihan merupakan penyebab perpecahan.<br />
Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.<br />
Kadang-kadang tersiksanya tetangga disebabkan dosa tetangga lainnya.<br />
Beramah tamah merupakan sebuah sunnah (tradisi baik).<br />
Siapa yang tidak menginginkanmu, janganlah engkau menginginkannya.<br />
Pergaulilah orang-orang yang jujur dan yang selalu menepati janji.<br />
Berkunjunglah kadang-kadang saja, maka kecintaan itu akan bertambah.<br />
Tidaklah masyarakat akan melihat kepadamu kecuali apa yang nampak darimu.<br />
Tidaklah akan menyesal orang yang bermusyawarah.<br />
Seseorang adalah cermin bagi saudaranya.<br />
Persatuan adalah dasar dari keberhasilan.<br />
Barangsiapa yang menolongmu dalam kejahatan maka ia telah menyiksamu.<br />
Janganlah engkau bersikap lemah, karena bisa diperas. Dan janganlah bersikap keras, karena engkau bisa dihancurkan.<br />
Kecantikan seorang teman tampak pada waktu kesempitan.<br />
Persaudarailah kawan dan minyakilah lawan<br />
(Akrabilah kawan seperjuangan dan sependirian. Dan tetaplah berbuat baik, dengan menunjukkan keluhuran budi serta kejujuran,kepada para musuh.Dengan demikian lawan mungkin akan berbalik menjadi kawan).<br />
Saudaramu adalah orang yang menolongmu dengan apa yang dimilikinya, bukan yang menunjuk-nunjukkan bahwa ia senasab denganmu.<br />
Saudara dalam pertempuran adalah orang yang berjuang bersamamu.<br />
Hak saudaramu atas dirimu adalah sama dengan hakmu atas dirinya.<br />
Tidak akan dapat dua pedang dikumpulkan dalam sebuah rangka.<br />
Tidak akan dapat dikumpulkan antara musang dengan burung Unta.<br />
(kiasan terhadap tidak mungkinnya dipersatukan dua orang atau kelompok yang saling berbeda paham).<br />
Barangsiapa yang mencari teman tanpa cacat ia tak akan menemuinya.<br />
Lindungilah sahabatmu sekalipun dalam kebakaran.</p>
<p><strong>Rendah Hati</strong></p>
<p>Wahai Tuhanku, hamba tak pantas menjadi penghuni surga (Firdaus)<br />
Namun, hamba pun tak sanggup menjadi penghuni neraka (jahim).<br />
Terimalah taubat hamba dan ampunilah dosa-dosa hamba.<br />
Sesungguhnya Engkaulah Maha Pengampun atas segala dosa yang hamba perbuat.<br />
Dosa-dosa hamba bagaikan tumpukan pasir.<br />
Terimalah taubat hamba, wahai yang Maha Mulia.<br />
Sementara umur hamba kian hari kian berkurang.<br />
Dan dosa hamba makin bertambah, bagaimana mungkin hamba mampu memikulnya.<br />
Wahai Tuhanku, hamba-Mu yang penuh dengan dosa ini,<br />
Kini menghadap-Mu memohon ampunan.<br />
Jika engkau mengampuni, pantaslah karena Engkau Maha Pengampun.<br />
Namun, jika engkau menolak permohonan hamba, kepada siapa hamba berharap selain Engkau.<br />
Rendah hati itu adalah sifat yang baik.<br />
Mahkota kemanusiaan adalah (sikap) rendah hati.<br />
Bekerja dan Bersungguh &#8211; sungguh<br />
Bekerja itu bermanfaat.<br />
Siapa yang berupaya sungguh-sungguh pasti dia mendapatkan (apa yang diupayakan).<br />
Tidak ada suatu kenikmatan (yang diperoleh) kecuali sudah bersusah-payah (sebelumnya).<br />
Bersungguh-sungguhlah, jangan malas, dan jangan lelah (lalai), karena penyesalan akan datang pada orang-orang yang malas.<br />
Siapa yang menanam pasti akan mengetam/menuai.<br />
Berpikirlah sebelum engkau bertindak.<br />
Berkata Sayidina Umar bin Al-Khattab:Janganlah kalian hanya duduk-duduk (bertopeng dagu) dalam mencari rizki, lantas berdoa Ya Allah, berilah aku rizki. Padahal kalian tahu, sesungguhnya langit tidak akan menurunkan hujan berupa emas maupun perak.<br />
Siapa yang menanam duri tidak akan menuai anggur.<br />
Jika jelas keinginan yang dituju akan terang pula jalan yang ditempuh.<br />
Siapa yang menuntut sesuatu pasti akan mendapatkannya, baik seluruhnya atau hanya sebagiannya saja.<br />
Bagi setiap orang yang rajin (bersungguh-sungguh) ada bagian yang akan diperolehnya.<br />
Apa yang tidak tercapai seluruhnya, jangan ditinggal semuanya.<br />
Tidaklah tercapai kemuliaan kecuali setelah menempuh beberapa ujian.<br />
Ambillah sesuatu yang anda mampu mengerjakannya.<br />
Kesungguhanmu niscaya akan menjaga kenikmatanmu.<br />
(Orang yang tekun dan bersungguh-sungguh pasti akan menikmati hasil ketekunan dan kesungguhannya).<br />
Menghargai (pekerjaan orang lain) adalah bagian dari pekerjaan (itu sendiri).<br />
(Jika) pekerjaan berbentuk tubuh, maka ruhnya adalah keikhlasan.<br />
Berbuatlah sekehendakmu, karena sesungguhnya engkau akan mendapat hasil darinya (hasil perbuatanmu).<br />
Siapa yang tidak mengalami kesukaran, ia tidak akan mendapatkan cita-cita.<br />
Dalam ujianlah seseorang akan dihormati atau (bahkan) dicela.<br />
Pekerjaan itu membuat yang sukar menjadi mudah.<br />
Mengatur (me-manage) pekerjaan berarti meringankan separuh waktu.<br />
Setiap perbuatan pasti akan mendapat balasan, dan setiap pembicaraan pasti ada sahutannya.<br />
Jika engkau tidak bisa (sanggup) mengerjakan sesuatu, maka tinggalkanlah, dan beralih kepada sesuatu yang engkau sanggup mengerjakannya.<br />
Bersungguh-sungguh (bekerja) untuk orang lain, maka ia akan bersungguh-sungguh pula (bekerja) untukmu.<br />
Siapa yang bertanah tandus tentu ia akan mencari rumput.<br />
(Daerah yang gersang dan minim sumber daya alamnya, biasanya akan menghasilkan penduduk yang rajin mencari penghasilan di daerah lain. Ini juga sebagai kiasan, bahwa seseorang yang berasal dari keluarga dengan derajat rendah biasanya akan berusaha &#8211; dengan gigih &#8211; untuk meningkatkan derajatnya).<br />
Setiap pekerjaan itu harus dengan penyelesaian (diselesaikan hingga tuntas).</p>
<p><strong>Ilmu dan Belajar</strong></p>
<p>Bencana ilmu adalah lupa.<br />
Coba dan perhatikanlah, niscaya kamu akan menjadi orang yang faham.<br />
Belajar di waktu kecil bagaikan mengukir di atas batu.<br />
Ilmu tanpa amal bagaikan pohon tanpa buah.<br />
Semua wadah akan menyempit (penuh) jika diisi di dalamnya, kecuali wadah ilmu.Sesungguhnya ia (justru) akan semakin meluas.<br />
Membaca adalah guru yang alim pandai dengan semua ilmu.<br />
Jikalau tidak karena ilmu niscayalah manusia akan seperti hewan.<br />
Dua perkara yang tidak akan membuat seseorang merasa puas : Mencari ilmu dan mencari harta.<br />
Belajarlah di waktu kecil dan amalkanlah setelah besar.<br />
Belajarlah, karena tak ada seorang pun yang dilahirkan dalm keadaan pandai, dan tidaklah orang yang berilmu itu sama seperti orang yang jahil/bodoh.<br />
Ilmu jauh lebih baik dari harta. Karena, ilmu akan menjagamu, sedangkan harta engkaulah yang menjadi penjaganya.<br />
Bertanya merupakan setengah dari ilmu pengetahuan.<br />
Jikalau tidak karena seorang pendidik, niscaya aku tak akan mengenal Tuhanku.<br />
Tuntutlah ilmu semenjak dari buaian hingga ke liang lahat.<br />
Tuntutlah ilmu walaupun (hingga) di negeri Cina.<br />
(Kalimat hikmah ini diambil dari salah satu hadits Rasulullah SAW, yang menggambarkan bagaimana jauhnya dan tertutupnya &#8216;negeri tembok besar&#8217; tersebut saat itu, namun tetap ada sesuatu &#8211; berupa ilmu pengetahuan &#8211; yang bisa kita ambil darinya).<br />
Kebodohan itu ibarat kendaraan. Siapa yang menaikinya pasti hina dan siapa yang mengawaninya pasti tersesat.<br />
Kebodohan itu seburuk-buruknya teman.<br />
Apabila seorang alim tergelincir akan tergelincir pulalah alam karenanya.<br />
(Tergelincir seorang alim, misalnya dengan memfatwakan sesuatu yang salah, maka akan menyebabkan tergelincir pula orang yang mendengarkan dan mengikuti fatwanya tersebut).<br />
Para penguasa ilmu tidak akan pernah sirna.<br />
Wahai saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu kecuali dengan enam perkara, yang akan kukabarkan berikut perinciannya dengan jelas : Yaitu kesungguhan, harta benda (bekal), bergaul dengan guru, serta waktu yang panjang.</p>
<p><strong>Nasihat bagi para penuntut ilmu</strong></p>
<p>Seorang alim adalah orang yang besar walaupun ia muda usia<br />
Dan, seorang bodoh adalah orang yang kerdil walaupun ia telah beranjak tua<br />
Belajarlah, sebab tak ada seorang pun yang dilahirkan sebagai seorang alim<br />
Sebab,tak sama sang empunya ilmu dengan orang yang bodoh<br />
Sesungguhnya, biarpun tinggi jabatan seseorang<br />
Jika tak ada ilmu, kerdillah ia dipandang oleh manusia lain, dalam setiap kesempatan.</p>
<p><strong>Kejujuran</strong></p>
<p>Siapa yang sedikit kejujurannya akan sedikit pula temannya.<br />
Ajarilah putramu kejujuran, dan kejujuran (pasti) akan mengajarnya segala hal.<br />
Janji itu adalah hutang.<br />
Siapa yang jujur, ia akan selamat.</p>
<p><strong>Kesadaran</strong></p>
<p>Seseorang hamba harus dipukul dengan tongkat (untuk giat bekerja), sedangkan orang yang merdeka cukuplah ia dengan isyarat.<br />
Binasalah seseorang yang tidak tahu ukuran (siapa) dirinya.<br />
Siapa yang tahu jauhnya perjalanan (yang akan ditempuh), ia pasti akan bersiap-siap.<br />
Percaya kepada diri sendiri merupakan dasar dari keberhasilan</p>
<p><strong>Akhlaq Terpuji / Adab</strong></p>
<p>Siapa yang berjalan di atas jalur yang benar pasti akan sampai.<br />
Siapa yang berjalan di atas jalan rata pasti selamat dari tergelincir.<br />
(Bila dalam pekerjaannya orang berlaku jujur dan sewajarnya, pastilah ia akan selamat dari malapetaka)<br />
Perbaikilah dirimu niscaya orang lain akan berbuat baik padamu<br />
Segala sesuatu jika semakin banyak (jumlahnya) akan murah harganya, kecuali adab (budi pekerti).<br />
Tidaklah sebuah kecantikan itu disebabkan oleh pakaian yang menghias kita, tetapi, sesungguhnya, kecantikan itu (lebih disebabkan) oleh ilmu dan budi pekerti.<br />
Kemuliaan itu (dipandang) karena budi pekerti, bukan karena keturunan.<br />
Tidaklah disebut yatim orang yang telah ditinggal mati oleh orang tuanya. Tetapi, yatim sesungguhnya, adalah orang yang yatim (kehilangan) ilmu dan budi pekerti.<br />
Budi pekerti seseorang jauh lebih baik dari emas yang dimilikinya.<br />
Janganlah engkau menghina mereka yang miskin, tapi (justru) jadilah engkau penolong bagi mereka.<br />
Bukanlah hari raya (ditujukan) bagi orang yang mengenakan pakaian baru, tetapi sesungguhnya hari raya itu (ditujukan) bagi orang yang ketaatannya (kepada Allah SWT dan rasul-Nya) semakin bertambah.<br />
Belas kasih terhadap orang yang lemah merupakan bagian dari akhlaq mulia.<br />
Jadilah orang yang lemah lembut apabila ditimpa kemalangan, dan bersabarlah apabila datang kepadamu suatu bencana.<br />
Sebaik-baik manusia adalah yang paling baik budi pekertinya.<br />
Tinggalkanlah keburukan niscaya ia (keburukan itu) akan meninggalkanmu.<br />
Siapa yang meninggalkan hawa nafsu (syahwat) berarti ia telah hidup merdeka.<br />
Tegak bangsa karena budi, hilang budi runtuhlah bangsa.<br />
Makanlah apa yang engkau sukai, tetapi berpakaianlah apa yang disukai oleh orang.<br />
Memaafkan adalah suatu shadaqah.<br />
Takut pada kejahatan merupakan (termasuk) upaya mencari kebaikan.<br />
Jangan kau hina orang yang lebih rendah darimu, sebab setiap sesuatu pasti memiliki kelebihan juga.<br />
Makan disertai pujian lebih baik dari pada makan disertai diam.<br />
(Mengucapkan pujian dan terima kasih pada orang yang telah berbuat baik merupakan sebuah keharusan bagi setiap manusia).<br />
Budi pekerti mulia adalah harta, dan menggunakannya merupakan kesempurnaannya.<br />
Siapa yang baik prasangkanya, akan baik pulalah hidupnya.<br />
Kebaikan akan abadi biarpun panjang zaman melewatinya (sepanjang masa).<br />
Meninggalkan sesuatu yang merusak lebih utama dari pada mencari kenikmatan.<br />
Katakanlah kebenaran itu walaupun pahit (rasanya).<br />
Koreksi (diri) adalah sabun (pembersih) hati.<br />
Seseorang yang bertaubat dari suatu dosa adalah seperti orang yang tidak memiliki dosa.<br />
Teguh hati itu adalah menjaga sesuatu yang diserahkan, dan meninggalkan sesuatu yang telah dicukupkan (baginya).<br />
(Menjaga yang diserahkan yaitu tidak melalaikan kewajiban yang sudah ditugaskan. Sedangkan meninggalkan yang dicukupi yaitu tidak perlu ikut mengurusi sesuatu yang bukan menjadi tanggung jawabnya, atau sesuatu yang tidak penting baginya).<br />
Cukuplah bagimu dari sebuah kejahatan mendengarkannya saja.<br />
Siapa yang baik hatinya akan baik pula keadaan lahirnya.</p>
Posted in Rehat Tagged: Kata Mutiara <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herrysyafrial.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herrysyafrial.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herrysyafrial.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herrysyafrial.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herrysyafrial.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herrysyafrial.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herrysyafrial.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herrysyafrial.wordpress.com/106/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herrysyafrial.wordpress.com/106/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herrysyafrial.wordpress.com/106/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=106&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/06/09/mutiara-kata/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Membongkar Kedok Wahaby</title>
		<link>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/03/17/membongkar-kedok-wahaby/</link>
		<comments>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/03/17/membongkar-kedok-wahaby/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Mar 2009 02:22:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herrysyafrial.wordpress.com/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya Wahabi maka kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat
dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=103&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Menanggapi banyaknya permintaan pembaca tentang sejarah berdirinya Wahabi maka kami berusaha memenuhi permintaan itu sesuai dengan asal usul dan sejarah perkembangannya semaksimal mungkin berdasarkan berbagai sumber dan rujukan kitab-kitab yang dapat<br />
dipertanggung-jawabkan, diantaranya, Fitnatul Wahabiyah karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan I’tirofatul Jasus AI-Injizy pengakuan Mr. Hempher, Daulah Utsmaniyah dan Khulashatul Kalam karya Sayyid Ahmad Zaini Dahlan, dan lain-lain. </p>
<p><span id="more-103"></span></p>
<p>Nama Aliran Wahabi ini diambil dari nama pendirinya, Muhammad bin Abdul Wahab (lahir di Najed tahun 1111 H / 1699 M). Asal mulanya dia adalah seorang pedagang yang sering berpindah dari satu negara ke negara lain dan diantara negara yang pernah disinggahi adalah<br />
Baghdad, Iran, India dan Syam. Kemudian pada tahun 1125 H / 1713 M, dia terpengaruh oleh seorang orientalis Inggris bernama Mr. Hempher yang bekerja sebagai mata-mata Inggris di Timur Tengah.</p>
<p>Sejak itulah dia menjadi alat bagi Inggris untuk menyebarkan ajaran barunya. Inggris memang telah berhasil mendirikan sekte-sekte bahkan agama baru di tengah umat Islam seperti Ahmadiyah dan Baha&#8217;i. Bahkan Muhammad bin Abdul Wahab ini juga termasuk dalam target program kerja kaum kolonial dengan alirannya Wahabi. </p>
<p>Mulanya Muhammad bin Abdul Wahab hidup di lingkungan sunni pengikut madzhab Hanbali, bahkan ayahnya Syaikh Abdul Wahab adalah seorang sunni yang baik, begitu pula guru-gurunya. Namun sejak semula ayah dan guru-gurunya mempunyai firasat yang kurang baik tentang dia bahwa dia akan sesat dan menyebarkan kesesatan. Bahkan mereka menyuruh orang-orang untuk berhati-hati terhadapnya. Ternyata tidak berselang lama firasat itu benar. Setelah hal itu terbukti<br />
ayahnya pun menentang dan memberi peringatan khusus padanya. Bahkan kakak kandungnya, Sulaiman bin Abdul Wahab, ulama&#8217; besar dari madzhab Hanbali, menulis buku bantahan kepadanya dengan judul As-Sawa&#8217;iqul Ilahiyah Fir Raddi Alal Wahabiyah. Tidak ketinggalan pula salah satu gurunya di Madinah, Syekh Muhammad bin Sulaiman<br />
AI-Kurdi as-Syafi&#8217;i, menulis surat berisi nasehat: </p>
<p>&#8220;Wahai Ibn Abdil Wahab, aku menasehatimu karena Allah, tahanlah lisanmu dari mengkafirkan kaum muslimin, jika kau dengar seseorang meyakini bahwa orang yang ditawassuli bisa memberi manfaat tanpa kehendak Allah, maka ajarilah dia kebenaran dan terangkan dalilnya<br />
bahwa selain Allah tidak bisa memberi manfaat maupun madharrat, kalau dia menentang bolehlah dia kau anggap kafir, tapi tidak mungkin kau mengkafirkan As-Sawadul A&#8217;dham (ketompok mayoritas) diantara kaum muslimin, karena engkau menjauh dari kelompok terbesar, orang<br />
yang menjauh dari kelompok terbesar lebih dekat dengan kekafiran, sebab dia tidak mengikuti jalan muslimin”. </p>
<p>Sebagaimana diketahui bahwa madzhab Ahlus Sunah sampai<br />
hari ini adalah kelompok terbesar. Allah berfirman :<br />
&#8220;Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu<br />
(Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan) dan kami masukkan ia ke dalam jahannam, dan jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali&#8221; (QS: An-Nisa 115) </p>
<p>Salah satu dari ajaran yang (diyakini oleh Muhammad bin Abdul Wahab, adalah mengkufurkan kaum muslim sunni yang mengamalkan tawassul, ziarah kubur, maulid nabi, dan lain-lain. Berbagai dalil akurat yang disampaikan ahlussunnah wal jama&#8217;ah berkaitan dengan tawassul,<br />
ziarah kubur serta maulid, ditolak tanpa alasan yang dapat diterima. Bahkan lebih dari itu, justru berbalik mengkafirkan kaum muslimin sejak 600 tahun sebelumnya, termasuk guru-gurunya sendiri. </p>
<p>Pada satu kesempatan seseorang bertanya pada Muhammad bin Abdul Wahab, &#8220;Berapa banyak Allah membebaskan orang dari neraka pada bulan Ramadhan?&#8221; Dengan segera dia menjawab, &#8220;Setiap malam Allah membebaskan 100 ribu orang, dan di akhir malam Ramadhan Allah membebaskan sebanyak hitungan orang yang telah dibebaskan dari<br />
awal sampai akhir Ramadhan&#8221; Lelaki itu bertanya lagi &#8220;Kalau begitu pengikutmu tidak mencapai satu persen pun dari jumlah tersebut, lalu siapakah kaum muslimin yang dibebaskan Allah tersebut? Dari manakah jumlah sebanyak itu? Sedangkan engkau membatasi bahwa hanya<br />
pengikutmu saja yang muslim.&#8221; Mendengar jawaban itu Ibn Abdil Wahab pun terdiam seribu bahasa. </p>
<p>Sekalipun demikian Muhammad bin Abdul Wahab tidak menggubris nasehat ayahnya dan guru-gurunya itu. Dengan berdalihkan pemurnian ajaran Islam, dia terus menyebarkan ajarannya di sekitar wilayah Najed. Orang-orang yang pengetahuan agamanya minim banyak<br />
yang terpengaruh. Termasuk diantara pengikutnya adalah penguasa Dar&#8217;iyah, Muhammad bin Saud (meninggal tahun 1178 H / 1765 M) pendiri dinasti Saudi, yang dikemudian hari menjadi mertuanya. Dia mendukung secara penuh dan memanfaatkannya untuk memperluas<br />
wilayah kekuasaannya. Ibn Saud sendiri sangat patuh pada perintah Muhammad bin Abdul Wahab. Jika dia menyuruh untuk membunuh atau merampas harta seseorang dia segera melaksanakannya dengan keyakinan bahwa kaum muslimin telah kafir dan syirik selama 600 tahun<br />
lebih, dan membunuh orang musyrik dijamin surga. </p>
<p>Sejak semula Muhammad bin Abdul Wahab sangat gemar mempelajari sejarah nabi-nabi palsu, seperti Musailamah Al-Kadzdzab, Aswad Al-Ansiy, Tulaihah Al-Asadiy dll. Agaknya dia punya keinginan mengaku<br />
nabi, ini tampak sekali ketika ia menyebut para pengikut dari daerahnya dengan julukan Al-Anshar, sedangkan pengikutnya dari luar daerah dijuluki Al-Muhajirin. Kalau seseorang ingin menjadi pengikutnya, dia harus mengucapkan dua syahadat di hadapannya kemudian harus mengakui bahwa sebelum masuk Wahabi dirinya adalah musyrik, begitu pula kedua orang tuanya. Dia juga diharuskan mengakui bahwa para ulama&#8217; besar sebelumnya telah mati kafir. Kalau mau mengakui hal tersebut dia diterima menjadi pengikutnya, kalau tidak dia pun langsung dibunuh. Muhammad bin Abdul Wahab juga sering merendahkan Nabi SAW dengan dalih pemurnian akidah, dia juga membiarkan para pengikutnya melecehkan Nabi di hadapannya, sampai-sampai seorang pengikutnya berkata : </p>
<p>&#8220;Tongkatku ini masih lebih baik dari Muhammad, karena tongkat-ku masih bisa digunakan membunuh ular, sedangkan Muhammad telah mati dan tidak tersisa manfaatnya sama sekali. Muhammad bin Abdul Wahab di hadapan pengikutnya tak ubahnya seperti Nabi di hadapan umatnya. Pengikutnya semakin banyak dan wilayah kekuasaan semakin luas. Keduanya bekerja sama untuk memberantas tradisi yang dianggapnya keliru dalam masyarakat Arab, seperti tawassul, ziarah kubur, peringatan Maulid dan sebagainya. Tak mengherankan bila para pengikut Muhammad bin Abdul Wahab lantas menyerang makam-makam yang mulia. Bahkan, pada 1802, mereka menyerang Karbala-Irak, tempat dikebumikan jasad cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin<br />
Ali bin Abi Thalib. Karena makam tersebut dianggap tempat munkar yang berpotensi syirik kepada Allah. Dua tahun kemudian, mereka menyerang Madinah, menghancurkan kubah yang ada di atas kuburan, menjarah hiasan-hiasan yang ada di Hujrah Nabi Muhammad.<br />
Keberhasilan menaklukkan Madinah berlanjut. </p>
<p>Mereka masuk ke Mekkah pada 1806, dan merusak kiswah, kain penutup Ka&#8217;bah yang terbuat dari sutra. Kemudian merobohkan puluhan kubah di Ma&#8217;la, termasuk kubah tempat kelahiran Nabi SAW, tempat kelahiran Sayyidina Abu Bakar dan Sayyidina Ali, juga kubah Sayyidatuna Khadijah, masjid Abdullah bin Abbas. Mereka terus<br />
menghancurkan masjid-masjid dan tempat-tempat kaum solihin sambil bersorak-sorai, menyanyi dan diiringi tabuhan kendang. Mereka juga mencaci-maki ahli kubur bahkan sebagian mereka kencing di kubur kaum solihin tersebut. </p>
<p>Gerakan kaum Wahabi ini membuat Sultan Mahmud II, penguasa Kerajaan Usmani, Istanbul-Turki, murka. Dikirimlah prajuritnya yang bermarkas di Mesir, di bawah pimpinan Muhammad Ali, untuk melumpuhkannya. Pada 1813, Madinah dan Mekkah bisa direbut kembali. Gerakan Wahabi surut. Tapi, pada awal abad ke-20, Abdul Aziz bin Sa&#8217;ud bangkit kembali mengusung paham Wahabi. Tahun 1924, ia berhasil menduduki Mekkah, lalu ke Madinah dan Jeddah, memanfaatkan kelemahan Turki akibat kekalahannya dalam Perang Dunia I. Sejak itu, hingga kini, paham Wahabi mengendalikan pemerintahan di Arab Saudi. Dewasa ini pengaruh gerakan Wahabi<br />
bersifat global. Riyadh mengeluarkan jutaan dolar AS setiap tahun untuk menyebarkan ideologi Wahabi. Sejak hadirnya Wahabi, dunia Islam tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu menghalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafi&#8217;i yang sudah mapan. </p>
<p>Kekejaman dan kejahilan Wahabi lainnya adalah meruntuhkan kubah-kubah di atas makam sahabat-sahabat Nabi SAW yang berada di Ma&#8217;la (Mekkah), di Baqi&#8217; dan Uhud (Madinah) semuanya diruntuhkan dan diratakan dengan tanah dengan mengunakan dinamit penghancur.<br />
Demikian juga kubah di atas tanah Nabi SAW dilahirkan, yaitu di Suq al Leil diratakan dengan tanah dengan menggunakan dinamit dan dijadikan tempat parkir onta, namun karena gencarnya desakan kaum<br />
Muslimin International maka dibangun perpustakaan. Kaum Wahabi benar-benar tidak pernah menghargai peninggalan sejarah dan menghormati nilai-nilai luhur Islam. Semula AI-Qubbatul Khadra (kubah hijau) tempat Nabi Muhammad SAW dimakamkan juga akan dihancurkan dan diratakan dengan tanah tapi karena ancaman International maka orang-orang biadab itu menjadi takut dan mengurungkan niatnya. Begitu pula seluruh rangkaian yang menjadi manasik haji akan dimodifikasi termasuk maqom Ibrahim akan digeser tapi karena banyak<br />
yang menentangnya maka diurungkan. </p>
<p>Pengembangan kota suci Makkah dan Madinah akhir-akhir ini tidak mempedulikan situs-situs sejarah Islam. Makin habis saja bangunan yang menjadi saksi sejarah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Bangunan itu dibongkar karena khawatir dijadikan tempat keramat. Bahkan<br />
sekarang, tempat kelahiran Nabi SAW terancam akan dibongkar untuk perluasan tempat parkir. Sebelumnya, rumah Rasulullah pun sudah lebih dulu digusur. Padahal, disitulah Rasulullah berulang-ulang menerima<br />
wahyu. Di tempat itu juga putra-putrinya dilahirkan serta Khadijah meninggal. </p>
<p>Islam dengan tafsiran kaku yang dipraktikkan wahabisme paling punya andil dalam pemusnahan ini. Kaum Wahabi memandang situs-situs sejarah itu bisa mengarah kepada pemujaan berhala baru. Pada bulan Juli yang lalu, Sami Angawi, pakar arsitektur Islam di wilayah tersebut<br />
mengatakan bahwa beberapa bangunan dari era Islam kuno terancam musnah. Pada lokasi bangunan berumur 1.400 tahun Itu akan dibangun jalan menuju menara tinggi yang menjadi tujuan ziarah jamaah haji dan umrah. </p>
<p>&#8220;Saat ini kita tengah menyaksikan saat-saat terakhir sejarah Makkah. Bagian bersejarahnya akan segera diratakan untuk dibangun tempat parkir,&#8221; katanya kepada Reuters. Angawi menyebut setidaknya 300<br />
bangunan bersejarah di Makkah dan Madinah dimusnahkan selama 50 tahun terakhir. Bahkan sebagian besar bangunan bersejarah Islam telah punah semenjak Arab Saudi berdiri pada 1932. Hal tersebut berhubungan dengan maklumat yang dikeluarkan Dewan Keagamaan<br />
Senior Kerajaan pada tahun 1994. Dalam maklumat tersebut tertulis, ”Pelestarian bangunan bangunan bersejarah berpotensi menggiring umat Muslim pada penyembahan berhala.” </p>
<p>Nasib situs bersejarah Islam di Arab Saudi memang sangat menyedihkan. Mereka banyak menghancurkan peninggalan-peninggalan Islam sejak masa Ar-Rasul SAW. Semua jejak jerih payah Rasulullah itu habis oleh modernisasi ala Wahabi. Sebaliknya mereka malah<br />
mendatangkan para arkeolog (ahli purbakala) dari seluruh dunia dengan biaya ratusan juta dollar untuk menggali peninggalan-peninggalan sebelum Islam baik yang dari kaum jahiliyah maupun sebelumnya dengan dalih obyek wisata. Kemudian dengan bangga mereka<br />
menunjukkan bahwa zaman pra Islam telah menunjukkan kemajuan yang luar biasa, tidak diragukan lagi ini merupakan pelenyapan bukti sejarah yang akan menimbulkan suatu keraguan di kemudian hari. </p>
<p>Gerakan wahabi dimotori oleh para juru dakwah yang radikal dan ekstrim, mereka menebarkan kebencian permusuhan dan didukung oleh keuangan yang cukup besar. Mereka gemar menuduh golongan Islam yang tak sejalan dengan mereka dengan tuduhan kafir, syirik dan<br />
ahli bid&#8217;ah. Itulah ucapan yang selalu didengungkan di setiap kesempatan, mereka tak pernah mengakui jasa para ulama Islam manapun kecuali kelompok mereka sendiri. Di negeri kita ini mereka menaruh dendam dan kebencian mendalam kepada para Wali Songo yang menyebarkan dan meng-Islam-kan penduduk negeri ini. </p>
<p>Mereka mengatakan ajaran para wali itu masih kecampuran kemusyrikan Hindu dan Budha, padahal para Wali itu telah meng-Islam-kan 90 % penduduk negeri ini. Mampukah wahabi-wahabi itu meng-Islam-kan yang 10 % sisanya? Mempertahankan yang 90 % dari terkaman orang kafir saja tak bakal mampu, apalagi mau menambah<br />
10 % sisanya. Justru mereka dengan mudahnya mengkafirkan orang-orang yang dengan nyata bertauhid kepada Allah SWT. Jika bukan karena Rahmat Allah yang mentakdirkan para Wali Songo untuk berdakwah ke negeri kita ini, tentu orang-orang yang menjadi corong kaum wahabi itu masih berada dalam kepercayaan animisme,<br />
penyembah berhala atau masih kafir. (Naudzu Billah min Dzalik). </p>
<p>Oleh karena itu janganlah dipercaya kalau mereka mengaku-aku sebagai faham yang hanya berpegang teguh pada Al-Qur&#8217;an dan As-Sunnah. Mereka berdalih mengikuti keteladanan kaum salaf apalagi mengaku sebagai golongan yang selamat dan sebagainya, itu semua omong kosong belaka. Mereka telah menorehkan catatan hitam dalam sejarah dengan membantai ribuan orang di Makkah dan Madinah serta daerah lain di wilayah Hijaz (yang sekarang dinamakan Saudi).<br />
Tidakkah anda ketahui bahwa yang terbantai waktu itu terdiri dari para ulama yang sholeh dan alim, bahkan anak-anak serta balita pun mereka bantai di hadapan ibunya. Tragedi berdarah ini terjadi sekitar tahun<br />
1805. Semua itu mereka lakukan dengan dalih memberantas bid&#8217;ah, padahal bukankah nama Saudi sendiri adalah suatu nama bid&#8217;ah? Karena nama negeri Rasulullah SAW diganti dengan nama satu keluarga<br />
kerajaan pendukung faham wahabi yaitu As-Sa&#8217;ud. </p>
<p>Sungguh Nabi SAW telah memberitakan akan datangnya Faham Wahabi ini dalam beberapa hadits, ini merupakan tanda kenabian beliau SAW dalam memberitakan sesuatu yang belum terjadi. Seluruh hadits-hadits ini adalah shahih, sebagaimana terdapat dalam kitab shahih BUKHARI &amp; MUSLIM dan lainnya. Diantaranya:<br />
&#8220;Fitnah itu datangnya dari sana, fitnah itu datangnya dari arah<br />
sana,&#8221; sambil menunjuk ke arah timur (Najed).<br />
(HR. Muslim dalam Kitabul Fitan) </p>
<p>&#8220;Akan keluar dari arah timur segolongan manusia yang membaca Al-Qur&#8217;an namun tidak sampai melewati kerongkongan mereka (tidak sampai ke hati), mereka keluar dari agama seperti anak panah keluar dari busurnya, mereka tidak akan bisa kembali seperti anak panah yang tak akan kembali ketempatnya, tanda-tanda mereka ialah bercukur (Gundul).&#8221;<br />
(HR Bukho-ri no 7123, Juz 6 hal 20748). Hadis ini juga diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Majah, Abu Daud, dan Ibnu Hibban </p>
<p>Nabi SAW pernah berdo&#8217;a:<br />
&#8220;Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman,&#8221; Para sahabat berkata: Dan dari Najed, wahai Rasulullah, beliau<br />
berdo&#8217;a: Ya Allah, berikan kami berkah dalam negara Syam dan Yaman, dan pada yang ketiga kalinya beliau SAW bersabda: &#8220;Di sana (Najed) akan ada keguncangan fitnah serta di sana pula akan muncul tanduk<br />
syaitan.&#8221;, Dalam riwayat lain dua tanduk syaitan. </p>
<p>Dalam hadits-hadits tersebut dijelaskan, bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul). Dan ini adalah merupakan nash yang jelas ditujukan kepada para penganut Muhammad bin Abdul Wahab, karena dia telah memerintahkan setiap pengikutnya mencukur rambut<br />
kepalanya hingga mereka yang mengikuti tidak diperbolehkan berpaling dari majlisnya sebelum bercukur gundul. Hal seperti ini tidak pernah terjadi pada aliran-aliran sesat lain sebelumnya. Seperti yang telah dikatakan oleh Sayyid Abdurrahman Al-Ahdal:<br />
&#8220;Tidak perlu kita menulis buku untuk menolak Muhammad bin Abdul Wahab, karena sudah cukup ditolak oleh hadits-hadits Rasulullah SAW itu sendiri yang telah menegaskan bahwa tanda-tanda mereka adalah bercukur (gundul), karena ahli bid&#8217;ah sebelumnya tidak pernah<br />
berbuat demikian&#8221;.<br />
Al-Allamah Sayyid AIwi bin Ahmad bin Hasan bin Al-Quthub Abdullah AI-Haddad menyebutkan dalam kitabnya Jala&#8217;udz Dzolam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abbas bin Abdul Muthalib dari Nabi SAW:<br />
&#8220;Akan keluar di abad kedua belas nanti di lembah BANY HANIFAH seorang lelaki, yang tingkahnya bagaikan sapi jantan (sombong), lidahnya selalu menjilat bibirnya yang besar, pada zaman itu banyak terjadi kekacauan, mereka menghalalkan harta kaum muslimin,<br />
diambil untuk berdagang dan menghalalkan darah kaum muslimin&#8230;&#8221;<br />
AI-Hadits. </p>
<p>BANY HANIFAH adalah kaum nabi palsu Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad bin Saud. Kemudian dalam kitab tersebut Sayyid AIwi menyebutkan bahwa orang yang tertipu ini tiada lain ialah Muhammad bin Abdul Wahab. Adapun mengenai sabda Nabi SAW yang<br />
mengisyaratkan bahwa akan ada keguncangan dari arah timur (Najed) dan dua tanduk setan, sebagian, ulama mengatakan bahwa yang dimaksud dengan dua tanduk setan itu tiada lain adalah Musailamah Al-Kadzdzab dan Muhammad Ibn Abdil Wahab. </p>
<p>Pendiri ajaran wahabiyah ini meninggal tahun 1206 H / 1792 M, seorang ulama&#8217; mencatat tahunnya dengan hitungan Abjad: “Ba daa halaakul khobiits” (Telah nyata kebinasaan Orang yang Keji) </p>
<p>(Masun Said Alwy) </p>
<p>Diambil dari rubrik Bayan, majalah bulanan Cahaya<br />
Nabawiy No. 33 Th. III Sya’ban 1426 H / September 2005</p>
Posted in Agama  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herrysyafrial.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herrysyafrial.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herrysyafrial.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herrysyafrial.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herrysyafrial.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herrysyafrial.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herrysyafrial.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herrysyafrial.wordpress.com/103/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herrysyafrial.wordpress.com/103/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herrysyafrial.wordpress.com/103/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=103&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/03/17/membongkar-kedok-wahaby/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kesalahan Albani Dalam Menilai Hadits</title>
		<link>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/02/26/kesalahan-albani-dalam-menilai-hadits/</link>
		<comments>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/02/26/kesalahan-albani-dalam-menilai-hadits/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 26 Feb 2009 06:26:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Alkayyis</dc:creator>
				<category><![CDATA[Agama]]></category>
		<category><![CDATA[Albani]]></category>
		<category><![CDATA[Hadits]]></category>
		<category><![CDATA[Religion]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://herrysyafrial.wordpress.com/?p=98</guid>
		<description><![CDATA[Albani mendloifkan sejumlah hadits Imam Bukhori dan Muslim
Oleh : Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof
Dalam kitab “Sharh al-Aqeedah at-Tahaweeah, hal. 27-28″ (edisi kedelapan, Maktab al-Islami) oleh Syeikh Ibn Abi Al-Izz al-Hanafi (Rahimahullah), Albani berkata bahwa hadis apapun yang datang dari koleksi Imam Bukhori dan Imam Muslim adalah Shohih, bukan karena ia diriwayatkan oleh Imam Bukhori [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=98&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><strong><span lang="IN">Albani mendloifkan sejumlah hadits Imam Bukhori dan Muslim</span></strong><span lang="IN"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Oleh : Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Dalam kitab “Sharh al-Aqeedah at-Tahaweeah, hal. 27-28</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span></span><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"> (edisi kedelapan, Maktab al-Islami) oleh Syeikh Ibn Abi Al-Izz al-Hanafi (Rahimahullah), Albani berkata bahwa hadis apapun yang datang dari koleksi Imam Bukhori dan Imam Muslim adalah Shohih, bukan karena ia diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan Muslim, tetapi karena pada faktanya hadis-hadis ini memang shohih. Akan tetapi kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan apa yang ia katakan sebelumnya, setelah ia mendhoifkan sejumlah besar hadis-hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhori dan imam Muslim !? Baik, marilah sekarang kita melihat bukti-buktinya : SELEKSI TERJEMAHAN DARI JILID II</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><span id="more-98"></span></p>
<p> </p>
<p></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">(Hal. 10 no. 1)<br />
Hadis : Nabi SAW bersabda : ”Allah SWT berfirman bahwa ‘Aku akan menjadi musuh dari tiga kelompok orang : 1). Orang yang bersumpah dengan nama Allah namun ia merusaknya, 2). orang yang menjual seseorang sebagai budak dan memakan harganya, 3). Dan orang yang mempekerjakan seorang pekerja dan mendapat secara penuh kerja darinya (sang pekerja -pent) tetapi ia tidak membayar gajinya (HR. Bukhori no. 2114 -versi bahasa arab, atau lihat juga versi bahasa inggris 3430 hal. 236). Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini dhoif dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu’, 4111 no. 4054</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">. Sedikitnya apakah ia tidak mengetahui bahwa hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Bukhori dari Abu Hurairah ra. !!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 2 : (Hal. 10 no. 2)<br />
Hadis : ‘Berkurban itu hanya untuk sapi yang dewasa, jika ini menyulitkanmu maka dalam hal ini kurbankanlah domba jantan !! (HR. Muslim no. 1963 &#8211; versi bahasa arab, atau lihat versi bahasa inggris 34836 hal. 1086). Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu’, 664 no. 6222</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Muslim, Abu Dawud, Nasa’i dan Ibn Majah dari Jabir ra. !!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 3 : (Hal. 10 no. 3)<br />
Hadis : Diantara manusia yang terjelek dalam pandangan Allah pada hari<br />
kiamat, adalah seorang lelaki yang mencintai istrinya dan istrinya<br />
mencintainya juga, kemudian ia mengumumkan rahasia istrinya (HR. Muslim No. 1437 &#8211; versi bahasa arab). Al-Albani mengklaim bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu, 2197 no. 2005</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abi Sayid ra. !!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 4 (Hal. 10, no. 4)<br />
Hadis : “Jika seseorang bangun pada malam hari (untuk sholat malam -pent), hendaknya ia mengawali sholatnya dengan 2 raka’at yang ringan (HR. Muslim No. 768). Al-Albani mengatakan bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu I213 no. 718</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">. Walaupun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. !!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 5 : (Hal. 11 no. 5)<br />
Hadis : ‘Engkau akan dibangkitkan dengan kening ,tangan, dan kaki yang<br />
bercahaya pada hari kiamat, dengan menyempurnakan wudhu ..’ (HR. Muslim No. 246). Al-Albani mengklaim bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu’ 2/14 no. 1425</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh oleh Imam Muslim dari Abu Hurairah ra. !!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 6 : (Hal. 11 no. 6)<br />
Hadis : ‘Kepercayaan paling besar dalam pandangan Allah pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang tidak mengumumkan rahasia antara dirinya danistrinya’ (HR. Muslim no. 124 dan 1437). Al-Albani menyatakan bahwa hadisini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu, 2192 no. 1986</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud dari Abi Sayidra. !!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 7 : (Hal. 11 no. 7)<br />
Hadis : ‘Jika seseorang membaca sepuluh ayat terakhir dari surat Al-Kahfi,ia akan terlindungi dari fitnah Dajal’ (HR. Muslim no. 809). Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu, 5233 no. 5772</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">. Kalimat yang digunakan oleh Imam Muslim adalah ‘menghafal’ dan bukan ‘membaca’ sebagaimana klaim Al-Albani ! Sungguh sebuah kesalahan yang sangat fatal ! Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Muslim, Ahmad, dan Nasa’i dari Abu Darda ra. (Juga dinukil oleh Imam Nawawi dalam Riyadhus Sholihin 21021 &#8211; versi bahasa inggris) !!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 8 : (Hal. 11 no. Cool<br />
Hadis : ‘Nabi SAW mempunyai seekor kuda yang dipanggil dengan ‘Al-Lahif”(HR. Bukhori, lihat Fath Al-Bari li Al-Hafidz Ibn Hajar 658 no. 2855.Tetapi Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam ‘Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuhu, 4208 no. 4489</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">. Sekalipun hadis ini diriwayatkan oleh Imam Bukhori dari Sahl Ibn Sa’ad ra. !!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Syeikh Al-Saqof berkata : ‘Ini merupakan kemarahan dari orang yang sakit, sedikit dari (penyimpangan -pent) yang banyak dan jika bukan karena takut akan terlalu panjang dan membosankan pembaca, saya akan menyebutkan lebih banyak contoh dari Kitab-kitabnya Al-Albani ketika membacanya. Saya mencoba membayangkan apa yang akan saya temukan jika mengkaji ulang semua yang ia<br />
tulis ?’.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><strong><span lang="IN">KELEMAHAN AL-ALBANI DALAM MENELITI HADIS (jilid 1 hal. 20)</span></strong><span lang="IN"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Syeikh Saqof berkata : ‘Hal yang aneh dan mencengangkan adalah bahwa Syeikh<br />
Al-Albani banyak menyalahpahami sejumlah besar hadis para Ulama dan tidak<br />
mengindahkan mereka, diakibatkan pengetahuannya yang terbatas, baik secara<br />
langsung atau tidak langsung. Ia memuji dirinya sendiri sebagai sumber yang<br />
‘tidak terbantahkan’ dan seringkali mencoba meniru para Ulama Besar dengan<br />
menggunakan sejumlah istilah seperti ‘Lam aqif ala sanadih’, yang artinya<br />
‘Saya tidak dapat menemukan sanadnya’, atau menggunakan istilah yang serupa<br />
! Ia juga menuduh sejumlah penghafal hadis terbaik dengan tuduhan ‘kurang<br />
teliti’, meskipun ia sendiri (yaitu Al-Albani -pent) adalah contoh terbaik<br />
untuk menggambarkannya (yaitu seorang yang bermasalah tentang<br />
ketelitiannya -pent). Sekarang akan kami sebutkan beberapa contoh untuk membuktikan penjelasan kami :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 9 : (Hal. 20 no. 1)<br />
Al-Albani menyatakan dalam ‘Irwa Al-Gholil 6251 no. 1847</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> (dalam kaitannya dengan sebuah riwayat dari Ali ra.) : ‘Saya tidak dapat menemukan sanadnya’.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Syeikh Saqof berkata : ‘Sangat menggelikan ! Jika Al-Albani memang benar adalah salah satu dari Ulama dalam Islam, maka ia akan mengetahui bahwa hadis ini dapat ditemukan dalam kitab ‘Sunan Baihaqi’ 7121 : yang diriwayatkan oleh Abu Sayid Ibn Abi Amarah, yang berkata bahwa Abu al-Abbas Muhammad Ibn Yaqub, yang berkata kepada kami bahwa Ahmad Ibn Abdal Hamid berkata bahwa Abu Usama dari Sufyan dari Salma Ibn Kahil dari Muawiya Ibn Sua’id, ‘Saya menemukan (hadis -pent) ini dalam kitab Ayahku dari Ali ra.’!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 10 : (Hal. 21 no. 2)<br />
Al-Albani menyatakan dalam ‘Irwa Al-Gholil 3283 : hadis dari Ibn Umar ra. :’Ciuman adalah riba (’Kisses are Usury’ &#8211; versi bahasa inggris). : ‘Saya tidak dapat menemukan sanadnya’.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Syeikh Saqof berkata : ‘Hal ini adalah kesalahan yang fatal, karena secara pasti hadis ini dinukil dalam ‘Fatawa Al-Shaykh Ibn Taymiyya Al-Misriyah (3/295)’ : ‘Harb berkata Ubaidillah Ibn Muadz berkata kepada kami, Ayahku berkata kepadaku bahwa Sua’id dari Jiballa mendengar dari Ibn Umar ra. Berkata :’Ciuman adalah riba’. Dan seluruh perawi hadis ini adalah terpercaya menurut Ibn Taimiyah !!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Hadis dari Ibn Mas’ud ra. : ‘Al-Qur’an diturunkan dengan 7 dialek. Semua<br />
yang ada dalam versi ini mempunyai makna eksplisit dan implisit dan semua larangan sudah pula dijelaskan’. Al-Albani menyatakan dalam penelitiannya atas kitab ‘Mishkat Masabih 180 no. 238, bahwa penulis dari ‘Mishkat’ mengomentari sejumlah hadis dengan kalimat ‘Diriwayatkan dalam Sharhus Sunnah’, tetapi ketika ia meneliti ‘Bab Ilm wa Fadhoil Al-Qur’an’ ia tidak dapat menemukannya !</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Syeikh Saqof berkata : Para Ulama Besar telah berbicara ! SALAH, sebagaimana biasanya. Saya berharap untuk meluruskan ‘penyimpangan’ ini, hanya jika ia (yaitu Al-Albani -pent) memang serius serta tertarik untuk mencari hadis ini, maka kami persilahkan ia untuk melihat Bab yang berjudul ‘Al-Khusama fi al-Qur’an’ dari Sharh-us-Sunnah’ (1/262), dan diriwayatkan juga oleh Ibn Hibban dalam Shahih-nya (no. 74), Abu Ya’ala dalam Musnad-nya (no.5403), At-Tahawi dalam Sharh al-Mushkil al-Athar (4/172), Bazzar (3/90 Kashf al-Asrar) dan Haitami telah menyebutkannya dalam Majmu’ al-Zawaid (7/152) dan ia menisbatkannya kepada Al-Bazzar, Abu Ya’la dan Tabarani dalam Al-Autsat, yang menyatakan bahwa para perawinya adalah terpercaya’ !!!.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 12 : (Hal. 22 no. 4)<br />
Al-Albani menyatakan dalam ‘kitab Shohih-nya’ ketika mengomentari Hadis no. 149 : ‘Orang beriman adalah orang yang tidak memenuhi perutnya . . Hadis ini berasal dari Aisyah ra. sebagaimana yang disebutkan oleh Al-Mundhiri (3/237) dan Al-Hakim dari Ibn Abas ra.. . Saya (Albani) tidak menemukannya dalam Mustadrak al-Hakim setelah mencarinya dalam ‘bagian pemikiran’ (’Thoughts’ section &#8211; versi bahasa inggris).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Syeikh Saqof berkata : ‘Tolong jangan mendorong masyarakat untuk jatuh dalam kebodohan dengan kekacauan yang engkau lakukan !! Jika engkau meneliti Kitab Mustadrak Al-Hakim (2/12), engkau akan menemukan hadis ini ! Hal ini membuktikan bahwa engkau tidak mampu untuk menggunakan indeks buku dan hafalan hadis !!!?.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 13 : (Hal. 23)<br />
Penilaian yang lain yang juga menggelikan apa yang dilakukan oleh Albani dalam Kitab ‘Shohih-nya 2/476</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, ketika mengklaim bahwa hadis : ‘Abu bakar adalah bagian dariku, sambil memegang posisi dari telingaku’, tidak ada dalam kitab ‘Hilya’.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Syeikh Saqof berkata : Kami menyarankan engkau untuk kembali melihat kitab “Hilya , 4/73 !”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 14 : (Hal. 23 no. 5)<br />
Al-Albani berkata dalam kitab “Shahihah, 1/638 no. 365, edisi keempat :<br />
‘Yahya ibn Malik telah diabaikan oleh enam Ulama Hadis yang Utama, karena ia tidak disebutkan dalam kitab Tahdzib, Taqrib atau Tadzhib’.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Syeikh Saqof berkata: ‘Ini adalah menurut persangkaanmu ! Kenyataannya sebenarnya tidak seperti itu, karena secara pasti Ia (yaitu Al-hafidz Ibn Hajar -pent) telah menyebutkannya (yaitu Yahya ibn Malik -pent) dalam Tahdhib Al-Tahdhib li Hafidz Ibn Hajar Al-Asqalani (12/19 &#8211; Edisi Dar El-Fikr) dengan nama kuniyah Abu Ayub Al-Maraghi’ !!!. Maka berhati-hatilah!!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 15 : (Hal. 7)<br />
Al-Albani mengkritik Imam Al-Muhadis Abu’l Fadl Abdullah Ibn Al-Siddiq<br />
Al-Ghimari (Rahimahullah) ketika menyebutkan dalam kitabnya “Al-Kanz<br />
Al-Thamin” sebuah hadis dari Abu Hurairah ra. yang berkaitan dengan perawi Abu Maimunah : ‘Sebarkan salam, berilah makan faqir-miskin …’.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani menyatakan dalam ‘Silsilah Al-Dhoifah, 3/492</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, setelah menisbatkan hadis kepada Imam Ahmad (2/295) dan lainnya, : ‘Saya katakan bahwa sanad hadis ini ‘Dhoif’ (lemah), Daraqutni telah berkata bahwa ‘Qatada dari Abu Maimuna dari Abu Hurairah : Tidak dikenal (Majhul), dan hadisnya ditinggalkan’. Al-Albani kemudian berkata pada paragraf yang sama : ‘Sebagai catatan, sesuatu yang aneh terjadi diantara Imam Suyuti dan Al-Munawi ketika mereka meneliti hadis ini, dan saya juga telah menunjukkannya pada hadis no. 571, bahwa Al-Ghimari juga salah ketika menyebutkan hadis ini dalam ‘Al-Kanz ‘.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Akan tetapi realitanya menunjukkan bahwa Al-Albani-lah yang sebenarnya paling sering melakukan kesalahan, ketika ia membuat kontradiksi yang besar dengan menggunakan sanad yang sama dalam “Irwa al-Ghalil, 3/238</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span></span><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">, tatkala ia berkata : ‘Dinukil oleh Imam Ahmad (2/295), Al-Hakim . . . dari Qatada dari Abu Maimuna dan ia adalah perawi yang terpercaya dalam kitab ‘Al-Taqrib’, dan Hakim berkata : ‘A Sahih Sanad’, dan Al-Dhahabi setuju dengan penilaian Imam Hakim ! Semoga Allah SWT meluruskan kesalahan ini ! Lalu siapakan menurut pendapat anda yang melakukan kesalahan dan penyimpangan, apakah<br />
Al-Muhaddis Al-Ghumari (termasuk Imam Suyuti and Munawi) ataukah Al-Albani ?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 16 : (Hal. 27 no. 3)<br />
Al-Albani hendak melemahkan hadis yang membolehkan para wanita memakai perhiasan emas, dimana pada sanad hadis itu terdapat seorang perawi bernama Muhammad ibn Imara. Al-Albani mengklaim bahwa Abu Hatim berkata bahwa perawi ini adalah ‘tidak begitu kuat (Laisa bi Al-Qowi)’, lihat kitab “Hayat al-Albani wa-Atharu. . . jilid 1, hal. 207.”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Yang sebenarnya bahwa Imam Abu Hatim Al-Razi menyatakan dalam Kitabnya ‘Al-Jarh wa At-Ta’dil, 8/45</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">: ‘Perawi yang baik akan tetapi tidak begitu kuat (Laisa bi Al-Qowi)’. Oleh karena itu, perlu dicatat bahwa Al-Albani menghilangkan kalimat ‘Perawi yang baik’ ! .</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">NB &#8211; Al-Albani telah membuat sejumlah hadis yang melarang emas untuk para wanita menjadi hadis yang shohih, walaupun sebelumnya sejumlah Ulama telah menyatakan bahwa hadis-hadis ini adalah ‘Dhoif’ dan dihapus dengan hadis lain yang membolehkan emas bagi wanita. DR. Yusuf al-Qardawi berkata dalam bukunya : ‘Islamic Awakening between Rejection and Extremism’ (judul dalam versi bahasa Inggris -pent) hal. 85: ‘Pada masa kami muncullah Syeikh Nasirudin Al-Albani dengan pendapat-pendapatnya, yang ternyata banyak bertentangan dengan kesepakatan (Ijma’) yang membolehkan para wanita untuk menghiasi dirinya dengan emas, dimana pendapat ini telah diterima oleh seluruh Madzhab selama 14 abad lamanya. Ia (yaitu Al-Albani -pent) tidak hanya menyakini bahwa hadis-hadis ini adalah shohih, akan tetapi hadis ini<br />
juga tidak dihapus (dinasakh ketentuan hukumnya -pent). Sehingga, ia<br />
menyakini bahwa hadis-hadis itu melarang cincin dan anting emas bagi wanita. Sehingga kalau demikian faktanya, maka siapakah yang menetang Ijma’ Umat dengan pendapat-pendapatnya yang ekstrim ?!? .</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 17 : (Hal. 37 no. 1)<br />
Hadis : Mahmud ibn Lubaid ra. berkata : ‘Rasul SAW telah mendapat informasi tentang seorang lelaki yang telah menceraikan istrinya sebanyak tiga kali (dalam satu duduk), kemudian beliau menjadi marah dan berkata: ”Apakah ia hendak mempermainkan Kitab Allah , tatkala aku masih ada diantara kalian ? kemudian seorang lelaki berdiri dan berkata : ‘Wahai Nabi Allah, apakah saya boleh membunuhnya ?” (HR. An-Nasa’I).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani menyatakan bahwa Hadith ini adalah ‘Dhoif’ dalam penelitiannya<br />
pada “Mishkat al-Masabih, 2/981 (edisi ketiga, Beirut 1405 H; Maktab<br />
Al-Islami)”, ketika dia berkata : ‘Orang ini adalah terpercaya, tetapi<br />
sanadnya terputus karena ia tidak mendengar hadis ini dari ayahnya’.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani kemudian melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia lakukan sebelumnya dalam Kitab-nya yang berjudul “Ghayatul Maram Takhrij Ahadith al-Halal wal Haram, no. 261, hal. 164, edisi ketiga, Maktab al-Islami, 1405 H”; dengan mengatakan bahwa hadis yang sama adalah hadis yang ‘SAHIH’ !!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 18 : (Hal. 37 no. 2)<br />
Hadis : ‘Jika salah seorang dari kalian tidur dibawah (sinar) matahari dan<br />
ada bayangan menutupi dirinya, dan sebagian dirinya berada dalam bayangan itu dan bagian yang lain terkena (sinar) matahari, hendaknya ia bangun’. Al-Albani menyatakan bahwa Hadith ini ‘SAHIH’ dalam penelitiannya pada “Shahih Al-Jami’ Al-Shaghir wa Ziyadatuh (1/266/761)”, tetapi kemudian melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya dengan dengan mengatakan bahwa hadis yang sama sebagai hadis ‘Dhoif’ pada penelitiannya atas kitab “Mishkat Al-Masabih, 3/1337 no. 4725, edisi ketiga”, dan ia menisbatkan hadis ini pada kitab ‘Sunan Abu Dawud’ !”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 19 : (Hal. 38 no. 3)<br />
Hadis : ‘Sholat Jum’at adalah wajib bagi setiap muslim’. Al-Albani menilai<br />
bahwa Hadith ini adalah hadis ‘Dhoif’, pada penelitiannya di kitab “Mishkat<br />
Al-Masabih, 1/434</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, Dan berkata : ‘Perawi hadis ini adalah terpercaya tetapi (sanadnya) tidak bersambung sebagaimana diindikasikan oleh Imam Abu Dawud’. Kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam Kitab “Irwa al-Ghalil, 3/54 no. 592</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dengan menyatakan bahwa hadis ini adalah hadis yang ‘SAHIH’ !!! Maka berhati-hatilah, Wahai orang yang bijaksana !?!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 20 : (hal. 38 no. 4)<br />
Al-Albani membuat kontradiksi yang lain. Ia menganggap Al-Muharrar ibn Abu Huraira sebagai perawi terpercaya di satu tempat dan didhoifkan ditempat yang lain. Al-Albani menyatakan dalam kitab “Irwa al-Ghalil, 4/301</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> bahwa ‘Muharrar adalah terpercaya dengan pertolongan Allah SWT, dan Al-Hafiz (yaitu Ibn Hajar) mengomentarinya ‘Dapat diterima’, bahwa pernyataan ini (yaitu penilaian Al-Hafidz Ibn Hajar -pent) tidak dapat diterima, oleh karena itu sanadnya shohih’. Kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab “Sahihah 4/156</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> dimana ia menjadikan sanadnya ‘Dhoif’, dengan berkata : ”Para perawinya seluruhnya adalah para perawi Imam Bukhori” , kecuali Al-Muharrar yang merupakan salah satu perawi Imam An-Nasa’I dan Ibn Majah saja. Ia tidak dipercaya kecuali hanya Ibn Hibban, dan karena sebab itulah Al-Hafidz Ibn Hajar tidak mempercayainya, hanya saja ia berkata ‘Dapat Diterima’ ?!? Berhati-hatilah dari penyimpangan ini !!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 21: (hal. 39 no. 5)<br />
Hadis : Abdullah Ibn Amr ra. : ‘Sholat Jum’at menjadi wajib bagi siapapun<br />
yang medengar seruannya’ (HR. Abu Dawud). Al-Albani menyatakan bahwa hadis adalah hadis ‘Hasan’ dalam “Irwa Al-Ghalil 3/58</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, Kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah ‘Dhoif’, dalam Kitab “Mishkatul Masabih 1/434 no 1375</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> !!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 22 : (Hal. 39 no. 6)<br />
Hadis : Anas Ibn malik ra. berkata bahwa Nabi SAW pernah bersabda :<br />
‘Janganlah menyulitkan diri kalian sendiri, kalau tidak Allah akan<br />
menyulitkan dirimu. Tatkala ada manusia yang menyulitkan diri mereka, maka Allah-pun akan menyulitkan mereka’ (HR. Abu Dawud).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘Dhoif’ pada penelitiannya dalam kitab “Mishkat, 1/64</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, Kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah ‘Hasan’ dalam Kitab “Ghayatul Maram, Hal. 141</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> !!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 23 : (Hal. 40 no. 7)<br />
Hadis dari Sayidah Aisyah ra. : ‘Siapapun yang memberitahukan kepadamu bahwa Nabi SAW buang air kecil dengan berdiri, maka jangan engkau mempercayainya. Beliau tidak pernah buang air kecil kecuali beliau dalam keadaan duduk’ (HR. Ahmad, An-Nasa’I dan At-Tirmidzi).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani menyatakan bahwa sanad hadis ini adalah ‘Dhoif’ dalam “Mishkat 1/117.” Kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah ‘SAHIH’ dalam “Silsilat Al-Ahadis Al-Shahihah 1/345 no. 201</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> !!! Maka ambillah pelajaran dari ini, wahai pembaca yang mulia !?!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 24 : (Hal. 40 no. Cool<br />
Hadis : Ada 3 kelompok orang, dimana para Malaikat tidak akan mendekat : 1). Mayat dari orang kafir; 2). Laki-laki yang menggunakan parfum wanita; 3). Seseorang yang melakukan jima’ (hubungan sex -pent) sampai ia membersihan dirinya’ (HR. Abu Dawud).<br />
Al-Albani meneliti hadis ini dalam “Shahih Al-Jami Al-Shaghir wa Ziyadatuh, 3/71 no. 3056</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> dengan menyatakan bahwa hadis ini ‘HASAN’ pada penelitian dalam kitab “Al-Targhib 1/91</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> [Ia juga menyatakan hadis ini 'Hasan' pada bukunya yang diterjemahkan dakam bahasa inggris dengan judul 'The Etiquettes of Marriage and Wedding, hal. 11]. Kemudian ia membuat pertentangan yang aneh dengan menyatakan bahwa hadis yang sama adalah ‘Dhoif’ pada penelitiannya dalam kitab “Mishkatul-Masabih, 1/144 no. 464</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> dan menegaskan bahwa para perawi hadis ini adalah terpercaya, namun sanadnya ada yang terputus antara Al-Hasan Al-Basri dan Ammar ra., sebagaimana dikatakan oleh Imam Al-Mundhiri dalam Kitab ‘Al-Targhib (1/91)’ !?!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 25 : (Hal. 42 no. 10)<br />
Imam Malik meriwayatkan bahwa ‘Ibn Abbas ra. biasanya meringkas sholatnya pada jarak perjalanan antara Makkah dan Ta’if atau Makkah dan Usfan atau antara Makkah dan Jeddah’ . . . Al-Albani mendhoif-kan hadis ini dalam kitab “Mishkat, 1/426 no. 1351</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span></span><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">,<br />
tetapi kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya dengan dengan mengatakan bahwa hadis yang sama sebagai hadis ‘SAHIH’ dalam “Irwa Al-Ghalil, 3/14</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> !!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 26 : (Hal. 43 no. 12)<br />
Hadis : ‘Tinggalkan orang-orang Ethoipia selama mereka meninggalkanmu, karena tidak seorangpun akan mengambil harta yang berada di Ka’bah kecuali seseorang yang mempunyai dua kaki yang lemah dari Ethoipia’.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani telah mendhoif-kan hadis ini dalam kitab “Mishkat 3/1495 no.<br />
5429</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> dengan mengatakan bahwa : “Sanad hadis ini Dhoif”. Tetapi kemudian ia melakukan sesuatu yang bertentangan dengan apa yang ia katakan sebelumnya (sebagaimana kebiasannya), dengan mengoreksi penilaiannya atas hadis yang sama dalam Kitab “Shahihah, 2/415 no. 772.”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No. 27 : (Hal. 32)<br />
Ia memuji Syeikh Habib al-Rahman al-Azami dalam kitab ‘Shahih Al-Targhib wa Tarhib, hal. 63</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dimana ia berkata : ‘Saya ingin agar anda mengetahui satu hal yang membanggakan saya ….. dimana kitab ini telah dikomentari oleh Ulama yang terhormat dan terpandang yaitu Syeikh Habib al-Rahman al-Azami” . . . dan ia juga mengatakan pada halaman yang sama, ”Dan yang membuatku lebih merasa senang dalam hal ini, bahwa kajian serta hasil penelitian ini ditanggapi (dengan baik -pent) oleh Syeikh Habib Al-Rahman Al-Azami. . . .”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani yang sebelumnya memuji Syeikh al-Azami dalam buku diatas, kemudian membuat pertentangan lagi dalam pengantar dari bukunya yang berjudul ‘Adab Az-Zufaf’ (The Etiquettes of Marriage and Wedding), edisi terbaru hal. 8, dimana ia disitu berkata : ‘Al-Ansari telah menggunakan dalam akhir dari suratnya, salah satu dari musuh As-Sunnah, Hadis dan Tauhid, dimana orang yang terkenal dalam hal ini adalah Syeikh Habib Al-Rahman Al-Azami. . . . . disebabkan karena sikap pengecutnya dan sedikit mengambil dari para Ulama . . . . .”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">NB : (Nukilan diatas berasal dari Kitab ‘Adab Az-Zufaf’ , tidak ditemukan<br />
dalam terjemahan versi bahasa Inggris yang diterjemahkan oleh para<br />
pengikutnya, yang menunjukkan mereka dengan sengaja tidak menerjemahkan bagian tertentu dari keseluruhan kitab tersebut). Oleh karena itu perhatikan penyimpangan ini, Wahai para pembaca yang mulia ?!?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 28 : (Hal. 143 no. 1)<br />
Hadis dari Abi Barza ra. : ‘Demi Allah, engkau tidak akan menemukan orang yang lebih (baik -pent) daripada diriku’ (HR. An-Nasa’I 7/120 no. 4103).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani mengatakan bahwa Hadis ini adalah ‘SAHIH’ dalam kitab “Shahih<br />
Al-Jami wa Ziyadatuh, 6/105 no. 6978</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dan secara aneh menentang dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa hadis yang sama adalah ‘Dhoif’ dalam kitab “Dhoif Sunan Al-Nasa’i, pg. 164 no. 287.”Maka berhati-hatilah dari penyimpangan ini ?!?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No 29 : (Hal. 144 no. 2 )<br />
Hadis dari Harmala Ibn Amru Al-Aslami dari pamannya : ”Melempar batu<br />
kerikil saat ‘Jimar’ dengan meletakkan ujung ibu jari pada jari telunjuk”<br />
(Shahih Ibn Khuzaimah, 4/276-277 no. 2874) .</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani sedikit saja mengetahui kelemahan dari hadis ini yang dinukil<br />
dalam “Shahih Ibn Khuzaimah”, (dengan berani -pent) ia mengatakan bahwa sanad hadis ini adalah ‘Dhoif’, kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dengan mengatakan bahwa hadis yang sama adalah ‘SAHIH’ pada “Shahih Al-Jami’ wa Ziyadatuh, 1/312 no. 923 !”</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No 30 : (Hal.144 no. 3 )<br />
Hadis dari Sayyidina Jabir ibn Abdullah ra. : ”Nabi SAW pernah ditanya<br />
tentang masalah ‘junub’ … bolehkah ia (yaitu orang yang sedang<br />
junub -pent) makan, minum dan tidur …Beliau menjawab : ‘Boleh’, jika orang ini melakukan wudhu’ ” (HR. Ibn Khuzaimah no. 217 ; HR. Ibn Majah no. 592).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani telah menuduh bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam komentarnya dalam “Ibn Khuzaimah, 1/108 no. 217</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan mengoreksi status dari hadis diatas dalam kitab “Shahih Ibn Majah, 1/96 no. 482 ” !!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 31 : (Hal. 145 no. 4)<br />
Hadis dari Aisyah ra. : ‘Tong adalah tong (A vessel as a vessel), sedangkan makanan adalah makanan’ (HR. An-Nasa’I , 7/71 no. 3957).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘SAHIH’ dalam “Shahih Al-Jami’ wa<br />
Ziyadatuh, 2/13 no. 1462</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab “Dhoif Sunan Al-Nasa’i, no. 263 hal. 157</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span></span><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"> dengan menyatakan<br />
bahwa hadis ini adalah ‘Dhoif’ !!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 32 : (Hal. 145 no. 5)<br />
Hadis dari Anas ra. : Hendaknya setiap orang dari kalian memohon kepada Allah SWT untuk seluruh kebutuhannya, walaupun untuk tali sandal kalian jika ia putus’.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani menyatakan bahwa Hadis diatas adalah ‘HASAN’ dalam penelitiannya pada kitab “Mishkat, 2/696 no. 2251 and 2252</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan mengoreksi status hadis ini dalam kitab “Dhoif Al-Jami’ wa Ziyadatuh, 5/69 no. 4947 dan 4948</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> !!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No 33 : (Hal. 146 no. 6 )<br />
Hadis dari Abu Dzar ra. : ”Jika engkau ingin berpuasa, maka berpuasalah<br />
pada tengah bulan (antara tanggal -pent) 13,14 dan 15 (tiap bulan qomariyah -pent)”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini ‘Dhoif’ dalam kitab “Dhoif Sunan<br />
An-Nasa’i, hal. 84</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> dan pada komentarnya dalam kitab “Ibn Khuzaimah, 3/302 no. 2127</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan mengoreksi status hadis ini sebagai hadis yang ‘SAHIH’ dalam kitab “Shahih Al-Jami’ wa Ziyadatuh, 2/10 no. 1448</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> dan juga mengoreksinya dalam kitab “Shahih An-Nasa ‘i, 3/902 no. 4021</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> !! Sungguh kontrdiksi yang sangat aneh ?!?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">NB : (Al-Albani menyebutkan hadis ini dalam ‘Shahih Al-Nasa’i’ dan dalam<br />
‘Dhoif An-Nasa’I’, yang membuktikan bahwa ia tidak memperhatikan apa yang telah ia lakukan dan kelompokkan). Betapa mengherankannya hal ini !?!.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 34 : (Hal. 147 no. 7)<br />
Hadis dari Sayidah Maymunah ra. : ”Tidak seorangpun mengambil pinjaman, maka hal itu pasti berada dalam pengetahuan Allah SWT .. (HR. An-Nasa’I,7315 dan lainnya).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani menyatakan dalam kitab “Dhoif An-Nasa’i, hal. 190</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span></span><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">: ” Shahih,<br />
kecuali bagian ‘Al-Dunya’ ”. kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dalam kitab “Shahih Al-Jami’ wa Ziyadatuh, 5/156</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dengan mengatakan bahwa seluruh hadis ini adalah ‘SAHIH’, termasuk bagian ‘Al-Dunya’. Lihatlah sungguh sebuah kontradiksi yang menakjubkan ?!?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No 35 : (Hal. 147 no. 8 )<br />
Hadis dari Buraida ra. : ”Kenapa aku melihat engkau memakai perhiasan para penghuni neraka” (maksudnya adalah cincin besi) (HR. AN-Nasa’I 8/172 dan lainnya).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini adalah ‘Shohih’ dalam kitab “Shahih Al-Jami’ wa Ziyadatuh, 5/153 no. 5540</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan hadis yang sama sebagai hadis ‘Dhoif’ dalam kitab “Dhoif An-Nasa’I , hal. 230</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> !!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No 36 : (Hal. 148 no. 9 )<br />
Hadis dari Abu Hurairah ra. : ”Siapapun yang membeli karpet untuk tempat duduk, maka ia punya waktu 3 hari untuk meneruskan atau mengembalikannya dengan catatan tidak ada noda coklat pada warnanya ” (HR. An-Nasa’I 7/254 dan lainnya).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani mendhoifkan hadis ini yang ditujukkan pada bagian lafadz ‘3 hari’ yang terdapat dalam kitab “Dhoif Sunan An-Nasa’i, hal. 186</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span></span><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dengan<br />
mengatakan : ” Benar, kecuali bagian ‘3 hari’ ”. Akan tetapi kontradiksi<br />
yang ‘jenius’ kembali ia lakukan dengan mengoreksi kembali status hadis ini dan termasuk bagian lafadz ‘3 hari’ dalam kitab “Shahih Al-Jami’ wa<br />
Ziyadatuh, 5/220 no. 5804</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">. Jadi sadarlah (Wahai Al-Albani) ?!?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">No. 37 : (Hal. 148 no. 10)<br />
Hadis dari Abu Hurairah ra. : ‘Barangsiapa mendapatkan satu raka’at dari<br />
sholat Jum’at maka ia telah mendapatkan (seluruh raka’at -pent)’ (HR. Ibn Majah 1/356 dan lainnya).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani mendhoifkan hadis ini dalam kitab “Dhoif Sunan An-Nasa’i, no. 78 hal. 49</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dengan mengatakan : “Tidak normal (Syadz), dimana lafadz ‘Jum’at’ disebutkan” (dalam hadis ini -pent). Kemudian seperti biasanya ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan hadis yang sama sebagai hadis ‘Shohih’, termasuk bagian lafadz ‘Jum’at’ dalam kitab “Irwa, 3/84 no. 622 .” Semoga Allah SWT meluruskan kesalahan-kesalahanmu ?!?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><strong><span lang="IN">BERBAGAI KONTRADIKSI YANG DILAKUKAN ALBANI DALAM MENILAI PERAWI HADIS</span></strong><span lang="IN"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No 38 : (Hal. 157 no 1 )<br />
KANAAN IBN ABDULLAH AN-NAHMY :- Al-Albani berkata dalam “Shahihah, 3/481</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span></span><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> :<br />
“Kanaan dianggap hasan, karena ia didukung oleh Ibn Mu’in”. Al-Albani<br />
kemudian membuat pertentangan bagi dirinya dengan mengatakan, ”Hadis dhoif karena Kanaan” (Lihat Kitab “Dhoifah, 4/282</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">)!!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No 39 : (Hal. 158 no. 2 )<br />
MAJA’A IBN AL-ZUBAIR : &#8211; Al-Albani telah mendhoifkan Maja’a dalam “Irwaal-Ghalil, 3/242</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dengan mengatakan bahwa: ” Sanad ini lemah karena Ahmad telah berkata : Tidak ada yang salah dari Maja’a, dan Daruqutni telah melemahkannya …”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani kemudian membuat kontradiksi lagi dalam kitab “Shahihah, 1/613</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">,dengan mengatakan : ”Orang ini (perawi hadis) adalah terpercaya kecuali Maja’a, dimana ia adalah seorang perawi hadis yang baik”. Sungguh kontradiksi yang ‘menakjubkan’ !?!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No 40 : (Hal. 158 no. 3 )<br />
UTBA IBN HAMID AL-DHABI : &#8211; Al-Albani telah mendhoifkannya dalam kitab “Irwa Al-Ghalil, 5/237</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dengan mengatakan : ‘Dan ini adalah sanad yang dhoif karena tiga sebab … Salah satunya adalah sebab kedua, karena lemahnya Al-Dhabi, Al-Hafiz berkata : ”perawi yang terpercaya namun sering salah (dalam meriwayatkan hadis -pent)”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani kembali membuat kontradiksi yang sangat aneh dalam kitab<br />
“Shahihah, 2/432</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dimana ia menyatakan bahwa sanad yang menyebutkan Utba : ”Dan ini adalah sanadnya hasan, Utba ibn Hamid al-Dhabi adalah perawi terpercaya namun sering salah, dan sisanya dalam sanad ini adalah para perawi yang terpercaya ???</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No 41 : (Hal. 159 no. 4 )<br />
HISHAM IBN SA’AD : Al-Albani berkata dalam kitab “Shahihah, 1/325</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> : “Hisham ibn Sa’ad adalah perawi hadis yang baik.” Kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab “Irwa Al-Ghalil, 1/283</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> dengan menyatakan: “Akan tetapi Hisham ini lemah hafalannya”. Lihat betapa ‘menakjubkan’ ???</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No 42 : (hal. 160 no. 5 )<br />
UMAR IBN ALI AL-MUQADDAMI :- Al-Albani telah melemahkannya dalam kitab “Shahihah, 1/371</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dimana ia berkata : ”Ia sendiri sebetulnya adalah terpercaya namun ia pernah melakukan pemalsuan yang sangat buruk yang membuatnya tidak terpercaya..”. Al-Albani kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab “Sahihah, 2/259</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> dengan menerimanya dan menggambarkannya sebagai perawi yang terpercaya pada sanad yang didalamnya menyebutkan Umar ibn Ali. Al-Albani berkata : ”Dinilai oleh Al-Hakim, yang berkata : ‘A shohih isnad (sanadnya shohih -pent)’, dan Adz-Dzahabi menyepakatinya, dan hadis (statusnya -pent) ini sebagaimana yang mereka katakan (yaitu hadis shohih -pent).” Sungguh ‘menakjubkan’ !?!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No 43 : (Hal. 160 no. 6 )<br />
ALI IBN SA’EED AL-RAZI : Al-Albani telah melemahkannya dalam kitab “Irwa, 7/13</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dengan menyatakan : “Mereka tidak mengatakan sesuatu yang baik tentang al-Razi.” Al-Albani kemudian ia menentang dirinya sendiri dalam kitab-nya yang lain yang ‘menakjubkan’ yang ia karang yaitu kitab “Shahihah, 4/25</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dengan berkata : “Ini sanad (hasan) dan para perawinya adalah terpercaya”. Maka berhati-hatilah ?!?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No 44 : (Hal. 165 no. 13 )<br />
RISHDIN IBN SA’AD : Al-Albani berkata dalam kitabnya “Shahihah, 3/79</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> : “Didalamnya (sanad) ada perawi bernama Rishdin ibn Sa’ad, dan ia telah dinyatakan terpercaya”. Tetapi ia kemudian ia menentang dirinya sendiri dengan menyatakan bahwa ia adalah ‘Dhoif’ dalam kitab “Dhoifah, 4/53</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span></span><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">; dimana ia berkata : “Dan Rishdin ibn Sa’ad adalah Dhoif”. Maka<br />
berhati-hatilah dengan hal ini !!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No 45 : (Hal. 161 no. 8 )<br />
ASHAATH IBN ISHAQ IBN SA’AD : Sungguh aneh pernyatan Syeikh Albani ini ?!? Dia berkata dalam kitab “Irwa A-Ghalil, 2/228</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">: ‘Statusnya tidak diketahui dan hanya Ibn Hibban yang mempercayainya”. Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri sebagaimana biasanya ! karena ia hanya menukil dari kitab dan tidak ada hal lain yang ia lakukan, kemudian ia sebatas menukilnya tanpa pengetahuan yang memadai, hal ini terbukti dalam kitab “Shahihah, 1/450</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dimana ia berkata mengenai Ashath : ”Terpercaya”. Sungguh ‘menakjubkan’ apa yang ia lakukan !?!</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No 46 : (hal.162 no. 9 )<br />
IBRAHIM IBN HAANI : Yang mulia ! Yang Jenius ! Sang Peniru ! telah membuat Ibrahim Ibn Hani menjadi perawi terpercaya disatu tempat dan menjadi tidak dikenal (majhul) ditempat yang lain. Al-Albani berkata dalam kitab ‘Shahihah, 3/426</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">: “Ibrahim ibn Hani adalah terpercaya”, Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri seperti yang ia tulis didalam kitab “Dhoifah, 2/225</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dengan menyatakan bahwa ‘ia tidak dikenal dan hadisnya tertolak’ ?!?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No 47 : (Hal. 163 no. 10 )<br />
AL-IJLAA IBN ABDULLAH AL-KUFI : Al-Albani telah meneliti sebuah sanad<br />
kemudian menyatakan bahwa sanad tersebut baik dalam kitab “Irwa, 8/7</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span></span><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">, dengan kalimat : ”Dan ini adalah sanad yang baik, para perawinya<br />
terpercaya, kecuali untuk Ibn Abdullah Al-Kufi yang merupakan orang yang terpercaya”. Tetapi kemudian menentang dirinya sendiri dengan mendhoifkan sanad yang didalamnya terdapat Al-Ijla dan menjadikan keberadaannya (yaitu Al-Ijla -pent) untuk dijadikan sebagai alasan bahwa hadis itu ‘Dhoif’ (Lihat kitab ‘Dhoifah, 4/71</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">′</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">); dimana ia berkata :” Ijla Ibn Abdullah adalah lemah ”. Al-Albani lalu menukil pernyataan Ibn Al-Jauzi (Rahimahullah), dengan mengatakan bahwa : ”Al-Ijla tidak mengetahui apa yang ia katakan” ?!?</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">No 48 : (Hal. 67-69 )<br />
ABDULLAH IBN SALIH : KAATIB AL-LAYTH :- Al-Albani telah mengkritik Al-Hafiz Al-Haitami, Al-Hafiz Al-Suyuti, Imam Munawi and Muhaddis Abu’l Fadl Al-Ghimari (Rahimahullah) dalam bukunya “Silsilah Al-Dhoifah, 4/302</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span></span><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">, ketika meneliti sebuah sanad hadis yang didalamnya terdapat Abdullah ibn Salih. Ia berkata di halaman 300 : ”Bagaimana sebuah hadis yang didalamnya terdapat Abdullah ibn Salih akan menjadi baik dan hadisnya menjadi bagus, meskipun ia banyak melakukan kesalahan dan ketelitiannya yang kurang, serta ia pernah memasukkan sejumlah hadis yang bermasalah dalam kitabnya, dan ia menukil hadis-hadis itu tanpa mengetahui (status -pent) darinya”. Ia tidak menyebutkan bahwa Abdullah Ibn Salih adalah salah seorang dari perawi Imam al-Bukhari (yaitu para perawi yang digunakan oleh Imam Bukhari dalam kitab<br />
shohih-nya -pent), hanya karena hal ini ‘tidak cocok dengan seleranya’, dan ia juga tidak menyebutkan bahwa Ibn Mu’in dan sejumlah kritikus hadis ternama telah menyatakan bahwa mereka adalah ‘terpercaya’. Tetapi kemudian ia menentang dirinya sendiri pada bagian lain dari kitabnya dengan menjadikan hadis yang didalam sanadnya terdapat Abdullah Ibn Salih sebagai hadis yang baik, dan inilah nukilannya :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;">Al-Albani berkata dalam Silsilah Al-Shahihah, 3/229</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> : “Dan sanad hadis ini baik, karena Rashid ibn Sa’ad adalah terpercaya menurut Ijma’ (kesepakatan para Ulama hadis -pent), dan siapakah yang lebih darinya sebagai perawi dari hadis Shohih, dan didalamnya terdapat Abdullah Ibn Salih yang pernah mengatakan sesuatu yang tidak membahayakan dengan pertolongan Allah SWT” ?!? Al-Albani juga berkata dalam “Sahihah, 2/406</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> tentang sanad yang didalamnya terdapat Ibn Salih : “Sanadnya baik dalam hal ketersambungannya” dan ia katakan lagi dalam kitab “Shahihah 4/647</span></span><span style="font-family:&quot;" lang="IN">″</span><span lang="IN"><span style="font-family:Calibri;"> : ”Hadisnya baik karena bersambung”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;"><strong><span lang="IN">PENUTUP</span></strong><span lang="IN"></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Setelah kita menyimak berbagai contoh kesalahan dan penyimpangan yang dilakukan dengan sengaja atau tidak oleh ‘Yang Terhormat Al-Muhaddis Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani’ oleh ‘Al-Alamah Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof’ dimana dalam kitab-nya tersebut beliau (Rahimahullah) menunjukkan ± 1200 kesalahan dan penyimpangan dari Syeikh Al-Albani dalam kitab-kitab yang beliau tulis seperti contoh diatas. Maka kita bisa menarik kesimpulan bahwa bidang ini tidak dapat digeluti oleh sembarang orang, apalagi yang tidak memenuhi kualifikasi sebagai seorang yang layak untuk menyadang gelar ‘Al-Muhaddis’ (Ahli Hadis) dan tidak memperoleh pendidikan formal dalam bidang ilmu hadis dari Universitas-universitas Islam yang terkemuka dan ‘Para Masyaik’h yang memang ahli dalam bidang ini.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Dan Para Ulama telah menetapkan kriteria yang ketat agar hanya benar-benar hanya ‘orang yang memang memenuhi kriteria sajalah’ yang layak menyadang gelar ini seperti yang diungkapkan oleh Imam Sakhowi tentang siapa Ahli Hadis (muhaddis) itu sebenarnya :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">“Menurut sebagian Imam hadis, orang yang disebut dengan Ahli Hadis (Muhaddis) adalah orang yang pernah menulis hadis, membaca, mendengar, dan menghafalkan, serta mengadakan rihlah (perjalanan) keberbagai tempat untuk, mampu merumuskan beberapa aturan pokok (hadis), dan mengomentari cabang dari Kitab Musnad, Illat, Tarikh yang kurang lebih mencapai 1000 buah karangan. Jika demikian (syarat-syarat ini terpenuhi -pent) maka tidak diingkari bahwa dirinya adalah ahli hadis. Tetapi jika ia sudah mengenakan jubah pada kepalanya, dan berkumpul dengan para penguasa pada masanya, atau menghalalkan (dirinya memakai-pent ) perhiasan lu’lu (permata-pent) dan marjan atau memakai pakaian yang berlebihan (pakaian yang berwarna-warni -pent). Dan hanya mempelajari hadis Al-Ifki wa Al-Butan. Maka ia telah merusak harga dirinya ,bahkan ia tidak memahami apa yang dibicarakan kepadanya, baik dari juz atau kitab asalnya. Ia tidak pantas menyandang gelar seorang Muhaddis bahkan ia bukan manusia. Karena dengan kebodohannya ia telah memakan sesuatu yang haram. Jika ia menghalalkannya maka ia telah keluar dari Agama Islam” ( Lihat Fathu Al-Mughis li Al-Sakhowi, juz 1hal. 40-41).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Sehingga yang layak menyandang gelar ini adalah ‘Para Muhaddis’ generasi awal seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Abu Dawud, Imam Nasa’I, Imam Ibn Majah, Imam Daruquthni, Imam Al-Hakim Naisaburi ,Imam Ibn Hibban dll.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Sehingga apakah tidak terlalu berlebihan (atau bahkan termasuk Ghuluw -pent) dengan menyamakan mereka (Imam Bukhari, Imam Muslim, imam Abu Dawud dkk -pent) dengan sebagian Syeikh yang tidak pernah menulis hadis, membaca, mendengar, menghafal, meriwayatkan, melakukan perjalanan mencari hadis atau bahkan memberikan kontribusi pada perkembangan Ilmu hadis yang mencapai seribu karangan lebih !?!!.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Sehingga bukan Sunnah Nabi yang dibela dan ditegakkan, malah sebaliknya yang muncul adalah fitnah dan kekacauan yang timbul dari pekerjaan dan karya-karyanya, sebagaimana contoh-contoh diatas.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Ditambah lagi dengan munculnya sikap arogan, dimana dengan mudahnya kelompok ini menyalahkan dan bahkan membodoh-bodohkan para Ulama, karena berdasar penelitiannya (yang hasilnya (tentunya) perlu dikaji dan diteliti ulang seperti contoh diatas), mereka ‘berani’ menyimpulkan bahwa para Ulama Salaf yang mengikuti salah satu Imam Madzhab ini berhujah dengan hadis-hadis yang lemah atatu dhoif dan pendapat merekalah yang benar (walaupun klaim seperti itu tetaplah menjadi klaim saja, karena telah terbukti berbagai kesalahan dan penyimpangannya dari Al-Haq).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Oleh karena itu para Ulama Salaf Panutan Umat sudah memperingatkan kita akan kelompok orang yang seperti ini sbb :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">- Syeikh Abdul Ghofar seorang ahli hadis yang bermadzab Hanafi menukil<br />
pendapat Ibn Asy-Syihhah ditambah syarat dari Ibn Abidin Dalam Hasyiyah-nya, yang dirangkum dalam bukunya ‘Daf’ Al-Auham An-Masalah AlQira’af Khalf Al-Imam’, hal. 15 : ”Kita melihat pada masa kita, banyak orang yang mengaku berilmu padahal dirinya tertipu. Ia merasa dirinya diatas awan ,padahal ia berada dilembah yang dalam. Boleh jadi ia telah mengkaji salah satu kitab dari enam kitab hadis (kutub As-Sittah), dan ia menemukan satu hadis yang bertentangan dengan madzab Abu Hanifah, lalu berkata buanglah madzab Abu Hanifah ke dinding dan ambil hadis Rasul SAW. Padahal hadis ini telah mansukh atau bertentangan dengan hadis yang sanadnya lebih kuat dan sebab lainnya sehingga hilanglah kewajiban mengamalkannya. Dan dia tidak mengetahui. Bila pengamalan hadis seperti ini diserahkan secara mutlak<br />
kepadanya maka ia akan tersesat dalam banyak masalah dan tentunya akan menyesatkan banyak orang ”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">- Al-Hafidz Ibn Abdil Barr meriwayatkan dalam Jami’ Bayan Al-Ilmu, juz<br />
2hal. 130, dengan sanadnya sampai kepada Al-Qodhi Al-Mujtahid Ibn Laila<br />
bahwa ia berkata : ” Seorang tidak dianggap memahami hadis kalau ia<br />
mengetahui mana hadis yang harus diambil dan mana yang harus ditinggalkan”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">- Al-Qodhi Iyadh dalam Tartib Al-Madarik, juz 2hal. 427; Ibn Wahab berkata : ”Kalau saja Allah tidak menyelamatkanku melalui Malik Dan Laits, maka tersesatlah aku. Ketika ditanya, mengapa begitu, ia menjawab, ‘Aku banyak menemukan hadis dan itu membingungkanku. Lalu aku menyampaikannya pada Malik dan Laits, maka mereka berkata : ”Ambillah dan tinggalkan itu”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">- Imam Malik berpesan kepada kedua keponakannya (Abu Bakar dan Ismail, putra Abi Uwais); ”Bukankah kalian menyukai hal ini (mengumpulkan dan mendengarkan hadis) serta mempelajarinya ?, Mereka menjawab : ‘Ya’ , Beliau berkata : Jika kalian ingin mengambil manfaat dari hadis ini dan Allah menjadikannya bermanfaat bagi kalian, maka kurangilah kebiasaan kalian dan pelajarilah lebih dalam ”. Seperti ini pula Al-Khatib meriwayatkan dengan sanadnya dalam Al-Faqih wa Al-Mutafaqih juz IIhal. 28.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">- Al-Khotib meriwayatkan dalam kitabnya Faqih wa Al-Mutafaqih, juz IIhal.<br />
15-19, duatu pembicaraan yang panjang dari Imam Al-Muzniy, pewaris ilmu Imam Syafi’i. Pada bagian akhir Al-Muzniy berkata : ” Perhatikan hadis yang kalian kumpulkan.Tuntutlah Ilmu dari para fuqoha agar kalian menjadi ahli fiqh”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">- Dalam kitab Tartib Al-Madarik juz Ihal. 66, dengan penjelasan yang<br />
panjang dari para Ulama Salaf tentang sikap mereka terhadap As-Sunnah, a.l :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">a- Umar bin Khotab berkata diatas mimbar: ”Akan kuadukan kepada Allah orang yang meriwayatkan hadis yang bertentangan dengan yang diamalkan”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">b- Imam Malik berkata : ”Para Ahli Ilmu dari kalangan Tabi’in telah<br />
menyampaikan hadis-hadis, lalu disampaikan kepada mereka hadis dari orang lain, maka mereka menjawab : ”Bukannya kami tidak tahu tentang hal ini. Tetapi pengamalannya yang benar adalah tidak seperti ini” .</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">c- Ibn Hazm berkata: Abu Darda’ pernah ditanya : ”Sesungguhnya telah sampai kepadaku hadis begini dan begitu (berbeda dengan pendapatnya-pent). Maka ia menjawab: ”Saya pernah mendengarnya, tetapi aku menyaksikan pengamalannya tidak seperti itu” .</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">d- Ibn Abi zanad , “Umar bin Abdul Aziz mengumpulkan para Ulama dan Fuqoha untuk menanyai mereka tentang sunnah dan hukum-hukum yang diamalkan agar beliau dapat menetapkan. Sedang hadis yang tidak diamalkan akan beliau tinggalkan, walaupun diriwayatkan dari para perawi yang terpercaya”. Demikian perkataan Qodhi Iyadh.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">e- Al- Hafidz Ibn Rajab Al-Hambali dalam Kitabnya Fadhl ‘Ilm As-Salaf ‘ala<br />
Kholaf’hal.9, berkata: “Para Imam dan Fuqoha Ahli Hadis sesungguhnya<br />
mengikuti hadis shohih jika hadis itu diamalkan dikalangan para Sahabat atau generasi sesudahnya, atau sebagian dari mereka. Adapun yang disepakati untuk ditinggalkan, maka tidak boleh diamalkan, karena tidak akan meninggalkan sesuatu kecuali atas dasar pengetahuan bahwa ia memang tidak diamalkan”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Sehingga cukuplah hadis dari Baginda Nabi SAW berikut untuk mengakhiri<br />
kajian kita ini, agar kita tidak menafsirkan sesuatu yang kita tidak memiliki pengetahuan tentangnya :</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Artinya : ”Akan datang nanti suatu masa yang penuh dengan penipuan hingga pada masa itu para pendusta dibenarkan, orang-orang yang jujur didustakan; para pengkhianat dipercaya dan orang-orang yang amanah dianggap khianat, serta bercelotehnya para ‘Ruwaibidhoh’. Ada yang bertanya : ‘Apa itu ‘Ruwaibidhoh’ ?. Beliau menjawab : ”Orang bodohpandir yang berkomentar tentang perkara orang banyak” (HR. Al-Hakim jilid 4hal. 512No. 8439 — ia menyatakan bahwa hadis ini shohih; HR. Ibn Majah jilid 2hal. 1339no. 4036; HR. Ahmad jilid 2hal. 219,338No. 7899,8440; HR. Abi Ya’la jilid 6hal. 378no. 3715; HR. Ath-Thabrani jilid 18hal. 67No. 123; HR. Al-Haitsami jilid 7hal. 284 dalam Majma’ Zawa’id).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">NB : (Syeikh Saqqof kemudian melanjutkan dengan sejumlah nasihat yang penting, yang karena alasan tertentu tidak diterjemahkan, akan tetapi lebih baik bagi anda untuk menilik kembali kitab ini dalam versinya yang berbahasa arab).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Dengan pertolongan Allah, nukilan yang berasal dari kitab Syeikh Saqqof<br />
cukup memadai untuk menyakinkan para pencari kebenaran, serta menjelaskan siapakah sebenarnya orang yang awam dengan sedikit pengetahuan tentang ilmu hadis.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Perhatikan peringatan Al-Hafidz Ibn Abdil Barr berikut: ” Dikatakan oleh Al-Qodhi Mundzir, bahwa Ibn Abdil Barr mencela dua golongan, yang pertama , golongan yang tenggelam dalam ra’yu dan berpaling dari Sunnah, dan kedua, golongan yang sombong yang berlagak pintar padahal bodoh ” (menyampaikan hadis, tetapi tidak mengetahui isinya -pent) (Dirangkum dari Jami’ Bayan Al-Ilm juz IIhal. 171).</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">Syeikhul Islam Ibn Al-Qoyyim Al-Jawziyah berkata dalam I’lamu Al-Muwaqqi’in juz Ihal. 44, dari Imam Ahmad, bahwa beliau berkata: ” Jika seseorang memiliki kitab karangan yang didalamnya termuat sabda Nabi SAW, perbedaan Sahabat dan Tabi’in, maka ia tidak boleh mengamalkan dan menetapkan sekehendak hatinya sebelum menanyakannya pada Ahli Ilmu, mana yang dapat diamalkan dan mana yang tidak dapat diamalkan, sehingga orang tersebut dapat mengamalkan dengan benar”.</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">THE IMAM AL-NAWAWI HOUSE</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">PO BOX 925393</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">AMMAN</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">JORDAN</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:normal;margin:0 0 10pt;"><span lang="IN"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Calibri;">NB : Dinukil dan disusun secara bebas dari kitab Syeikh Muhammad Ibn Ali Hasan As-Saqqof yang berjudul ‘Tanaqadat al- Albani al-Wadihat’<br />
(Kontradiksi yang sangat jelas pada Al-Albani) oleh Syeikh Nuh Ha Mim Killer dan kawan-kawan, dalam versi bahasa Inggris dengan judul ‘AL-ALBANI’S WEAKENING OF SOME OF IMAM BUKHARI AND MUSLIM’S AHADITH</span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin:0 0 10pt;"><span style="font-size:small;font-family:Calibri;"> </span></p>
Posted in Agama Tagged: Albani, Hadits, Religion <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/herrysyafrial.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/herrysyafrial.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/herrysyafrial.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/herrysyafrial.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/herrysyafrial.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/herrysyafrial.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/herrysyafrial.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/herrysyafrial.wordpress.com/98/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/herrysyafrial.wordpress.com/98/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/herrysyafrial.wordpress.com/98/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=herrysyafrial.wordpress.com&blog=727977&post=98&subd=herrysyafrial&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://herrysyafrial.wordpress.com/2009/02/26/kesalahan-albani-dalam-menilai-hadits/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>15</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/f5fb2535e7d875839d6968487223525d?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Abu Alkayyis</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>